DKP Jabar Gandeng DLH Mitigasi Dampak Tumpahan 8.100 Ton Batu Bara di Pantai Pangandaran
Muhamad Syarif Abdussalam June 27, 2026 11:30 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat, melakukan mitigasi terhadap dampak tumpahan muatan batu bara sebanyak 8.100 ton dari Tongkang Nautica 22, yang kandas di perairan Pantai Tanjung Cemara, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.

Kepala DKP Jawa Barat, Rinny Cempaka mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), untuk memastikan dampak pencemaran terhadap ekosistem laut dan kawasan pesisir selatan Jawa Barat, dapat segera ditangani.

DKP pun telah menerjunkan personil ke lokasi kejadian sejak 17 Juni 2026, untuk melakukan investigasi awal dan mengukur tingkat kerawanan lingkungan akibat insiden tersebut.

"Kami memanggil pihak perusahaan pemilik kapal, PT Trans Logistik Perkasa, untuk menyepakati langkah penanganan jangka pendek. Perwakilan manajemen telah berkomitmen untuk segera memperbaiki fisik tongkang serta membersihkan material batu bara yang mengotori area pantai," ujar Rinny, Sabtu (27/6/2026).

DKP bersama DLH Jawa Barat juga, kata dia, telah menggelar rapat koordinasi khusus untuk menyusun penanganan dampak lingkungan akibat kandasnya tongkang tersebut.

Hasil koordinasi itu, menetapkan pengujian berkala kualitas air di sekitar lokasi kejadian guna mengidentifikasi potensi pencemaran yang dapat mengancam biota laut dan ekosistem pesisir.

"Kami sudah berkoordinasi dengan DLH yang akan mengecek kualitas air sekitar lokasi kejadian, untuk memastikan pencemaran terhadap ekosistem laut," ucapnya.

Selain itu, DKP Jawa Barat bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan DLH juga akan melakukan pemetaan wilayah terdampak menggunakan pesawat nirawak atau drone.

Langkah tersebut dilakukan, untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai sebaran dampak pencemaran di kawasan pesisir Pangandaran.

"Kami bersama KLH dan DLH melakukan pemetaan udara dengan drone untuk memperoleh gambaran spasial wilayah terdampak," ucap Rinny.

DKP juga menyiapkan pengambilan sampel air, dan biota laut di enam titik strategis, yang dinilai berpotensi terdampak. Lokasi tersebut, mencakup area budidaya ikan milik masyarakat, kawasan konservasi penyu, Cagar Alam Pangandaran, Pantai Batu Karas, Pantai Batu Hiu, serta perairan di sekitarnya.

Selain pengambilan sampel, petugas akan melakukan survei dan wawancara langsung, kepada nelayan serta masyarakat pesisir, untuk mengetahui dampak yang dirasakan pasca insiden tongkang kandas tersebut.

"Kami akan melakukan survei dan wawancara, dengan nelayan serta masyarakat sekitar, untuk menggali informasi langsung terkait dampak yang mereka rasakan," katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.