Gubernur Melki: Tenun NTT Bukan Sekadar Kain, tetapi Identitas dan Penggerak Ekonomi Masyarakat
Eflin Rote June 27, 2026 12:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menegaskan tenun bukan sekadar selembar kain, melainkan identitas budaya yang mencerminkan jati diri masyarakat NTT sekaligus hasil kerja keras para perempuan yang telah menjaga tradisi menenun selama ratusan tahun.

Hal itu disampaikan Melki saat menghadiri Exotic Tenun yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Fulan Fehan IV 2026 di Pelataran Mal Pelayanan Publik Timor Atambua, Kabupaten Belu, Jumat (26/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, dihadiri langsung Menteri Dalam Negeri, M. Tito Karnavian bersama Istri, Wali Kota Darwin, Perwakilan Negara Timor Leste, Bupati dan Wakil Bupati Belu, Wakil Bupati Kupang, Kepala Bank BI Wilayah NTT, Ketua TP PKK Provinsi NTT, serta tamu undangan lainnya. 

Menurut Melki, setiap motif tenun memiliki makna dan identitas yang berbeda. Berdasarkan data yang disampaikan para pemerhati tenun, saat ini telah teridentifikasi lebih dari 700 motif tenun di NTT.

"Tenun bukan hanya kain yang dipakai, tetapi identitas yang menggambarkan siapa pemakainya. Di balik setiap lembar tenun ada kerja keras, kreativitas, dan dedikasi mama-mama NTT yang selama ratusan tahun menjaga warisan budaya ini," ujarnya.

Ia memberikan apresiasi kepada para penenun serta Tim Penggerak PKK tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang terus mempromosikan tenun NTT hingga dikenal lebih luas.

Melki juga mengungkapkan rasa bangganya karena tenun NTT kini semakin mendapat pengakuan. Bahkan, para tamu dari luar daerah, termasuk Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, mengaku bangga mengenakan tenun NTT.

Baca juga: Mendagri Tito Sebut Tenun Belu Harus Dijaga Jangan Sampai Diklaim Negara Lain

"Saya senang karena para tamu dari luar NTT mengatakan memakai tenun NTT adalah sebuah kebanggaan. Ini menunjukkan tenun kita semakin dihargai," katanya.

Untuk menjaga kelestarian tradisi menenun, Pemerintah Provinsi NTT telah memasukkan keterampilan menenun sebagai salah satu muatan lokal di sejumlah SMA dan SMK.

Melalui program tersebut, para pelajar diajarkan menenun di sekolah. Hasil tenunan mereka kemudian dipasarkan sehingga dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah.

"Supaya kemampuan menenun tidak hanya dimiliki masyarakat di desa, tetapi juga dipelajari anak-anak di perkotaan. Mereka belajar menenun di sekolah dan hasilnya bisa dijual sehingga memberikan manfaat ekonomi," jelasnya.

Melki menambahkan, Festival Fulan Fehan di Kabupaten Belu bukan hanya menjadi ajang promosi budaya, tetapi juga mempererat hubungan masyarakat di Pulau Timor, termasuk Indonesia dan Timor Leste.

Menurutnya, kedua negara memiliki banyak kesamaan budaya, mulai dari lagu, tenun hingga tradisi yang perlu terus dirawat melalui kegiatan budaya bersama.

"Festival ini bukan hanya menyatukan Belu, TTU, Malaka, bahkan mempererat hubungan Indonesia dan Timor Leste melalui budaya. Walaupun berbeda negara, kita berada di Pulau Timor dan memiliki banyak kesamaan," ujarnya.

Ia juga menyampaikan sektor pariwisata NTT terus menunjukkan tren positif. Pada tahun lalu, kunjungan wisatawan ke NTT terus meningkat dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Melki optimistis berbagai festival budaya seperti Festival Fulan Fehan akan terus menjadi daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan.

"Kegiatan seperti ini akan membawa manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi, memperkuat persaudaraan antarnegara, dan semakin memperkenalkan NTT ke dunia," pungkasnya. (gus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.