SOSOK Agam Rinjani: 'Pahlawan' Evakuasi Juliana Marins yang Kini Ditolak Datang ke Gunung Rinjani
Satrio Sarwo Trengginas June 27, 2026 01:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Nama Abdul Haris Agam atau yang lebih dikenal sebagai Agam Rinjani kembali menjadi perbincangan publik.

Jika pada 2025 ia menuai pujian atas perannya dalam proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, kini rencana kedatangannya ke Gunung Rinjani justru menuai penolakan dari sejumlah pelaku wisata dan tokoh adat setempat.

Penolakan tersebut muncul setelah Agam bersama konten kreator Panji Petualang berencana datang ke Gunung Rinjani untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins.

Polemik itu bahkan membuat Panji Petualang menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Lombok.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Agam Rinjani?

Sosok Agam Rinjani

Agam memiliki nama lengkap Abdul Haris Agam.

Ia lahir di Makassar pada 22 Desember 1988 dan menghabiskan masa kecilnya di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

Sejak kecil, Agam membantu kedua orang tuanya memulung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Meski berasal dari keluarga sederhana, ia berhasil melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dengan mengambil jurusan Antropologi.

Semasa kuliah, Agam aktif di organisasi pencinta alam Korps Pecinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala Unhas).

Memilih Menetap di Kaki Gunung Rinjani

Saat masih berstatus mahasiswa, Agam dikenal sebagai pendaki aktif.

Namun setelah mengambil cuti kuliah, ia memutuskan menetap di Sembalun, Lombok Timur, dan mengabdikan diri sebagai pramuantar (porter), pemandu pendakian, sekaligus relawan penyelamat di Gunung Rinjani.

Selama bertahun-tahun, Agam dikenal memiliki pemahaman yang baik mengenai jalur pendakian Rinjani.

NASIB AGAM RINJANI - Dulu nama Agam Rinjani viral setelah membantu evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27) yang ditemukan meninggal di jurang Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB).  Kini, kedatangan Agam Rinjani bersama Panji Petualang, ke kawasan Gunung Rinjani memicu penolakan keras dari pelaku wisata setempat.
NASIB AGAM RINJANI - Dulu nama Agam Rinjani viral setelah membantu evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27) yang ditemukan meninggal di jurang Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kini, kedatangan Agam Rinjani bersama Panji Petualang, ke kawasan Gunung Rinjani memicu penolakan keras dari pelaku wisata setempat. (Kolase Tribun Jakarta/GAKKUM KEHUTANAN/TRIBUNLOMBOK.COM/Robby Firmansyah)

Ia bahkan disebut telah mencapai puncak Gunung Rinjani lebih dari 350 kali.

Selain mendampingi pendaki, Agam juga aktif menjadi narasumber dalam berbagai diskusi mengenai keselamatan pendakian dan konservasi lingkungan.

Terlibat dalam Puluhan Misi Penyelamatan

Agam dikenal memiliki kemampuan vertical rescue, yaitu teknik penyelamatan di medan terjal.

Ia disebut telah terlibat dalam sekitar 70 persen operasi evakuasi di Gunung Rinjani.

Namanya mulai dikenal luas, termasuk di tingkat internasional, setelah ikut membantu proses pencarian dan evakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang terjatuh ke jurang sedalam lebih dari 600 meter di Gunung Rinjani pada Juni 2025.

Dalam proses evakuasi tersebut, Agam bersama tim relawan harus membangun tenda di tebing curam dan bermalam di lokasi untuk mengangkat jenazah korban.

Aksi itu menuai banyak apresiasi dari masyarakat Indonesia maupun Brasil.

Bahkan, masyarakat Brasil sempat menggalang donasi sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan tim relawan.

Pernah Menerima Penghargaan

Atas dedikasinya dalam berbagai operasi penyelamatan, Agam menerima sejumlah penghargaan, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Meski sempat menolak bantuan materi yang ditujukan kepadanya, Agam mengizinkan donasi tersebut dialihkan untuk mendukung kebutuhan tim relawan penyelamat yang bertugas di Gunung Rinjani.

Kini Rencana Kedatangannya Ditolak

Setahun setelah evakuasi Juliana Marins, Agam kembali menjadi sorotan.

Rencananya datang ke Gunung Rinjani bersama Panji Petualang untuk memperingati satu tahun proses evakuasi Juliana mendapat penolakan dari Forum Wisata Lingkar Rinjani.

"Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan ku," ujar Panji melalui akun Instagram @panjipetualang_real.

Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, menyebut penolakan tersebut dipicu dugaan masih adanya persoalan yang belum terselesaikan terkait pengelolaan donasi evakuasi Juliana Marins.

"Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas," ujar Royal.

Selain itu, forum juga mempersoalkan penyematan julukan "Pawang Rinjani" kepada Agam.

Menurut tokoh adat Sembalun, Mertawi, gelar tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat adat dan tidak bisa disematkan secara sembarangan tanpa melalui musyawarah komunitas adat di lingkar Gunung Rinjani.

"Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani," ujar Mertawi.

Di tengah polemik tersebut, Panji Petualang telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Lombok.

Ia mengaku tidak mengetahui adanya persoalan lama yang melatarbelakangi penolakan terhadap rencana kedatangan Agam dan mengaku salah telah memakai istilah "Pawang Rinjani" dalam unggahan di media sosialnya. 

Berita terkait

  • Baca juga: Mengapa Agam Rinjani Ditolak Datang ke Gunung Rinjani? Panji Petualang Sampai Minta Maaf
  • Baca juga: Agam Rinjani Senggol Peran Kemendikdasmen: Anak Korban Bencana Sudah Lama Tak Sekolah
  • Baca juga: FAKTA Uang Rp1,5 Miliar Hampir Melayang dari Tangan Agam Rinjani, Ada Kisruh di Brasil Soal Donasi

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.