TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi sebagian orang di perkotaan, uang sebesar Rp 2.000 mungkin hanya cukup untuk membayar retribusi parkir.
Namun, di bantaran Sungai Gajahwong dan Winongo, Kota Yogyakarta, nominal sekecil itu adalah fondasi dari sebuah revolusi permukiman.
Lewat tangan-tangan terampil dan kesabaran sekumpulan ibu-ibu, uang kepingan tersebut menjelma menjadi batu bata, semen, sirkulasi udara yang sehat, hingga masa depan yang lebih terang bagi ratusan keluarga.
Di sebuah balai bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026), denyut perubahan itu terasa nyata.
Ibu-ibu berkumpul, duduk berderet, dan satu per satu menyetorkan uang mereka.
Mereka bernaung di bawah bendera Komunitas Kalijawi (gabungan nama Kali Gajahwong dan Winongo), sebuah paguyuban yang menolak menyerah pada predikat "warga kumuh bantaran sungai".
Kisah heroik ini bermula pada 2011-2012, ketika sebuah komunitas arsitek di Yogyakarta, Arkom, turun ke lapangan.
Mereka tidak datang membawa cetak biru pembangunan, melainkan mengajak warga melakukan pemetaan kampung secara partisipatif.
Tujuannya melihat potensi dan merumuskan masalah bersama.
Ketua Kalijawi, Ainun Murwani (49), mengisahkan bagaimana gerakan yang awalnya hanya berupa pemetaan ini justru memantik kesadaran kolektif para perempuan di kawasan tersebut.
"Akhirnya yang mengembangkan kegiatan ini adalah ibu-ibu. Jadi dari empat kampung itu bergerak ke kampung-kampung sebelahnya. Akhirnya kita dapat 14 kampung yang dipetakan. Dari hasil pemetaannya tuh masalahnya sama, masalah yang paling urgen adalah tentang status lahan dan juga rumah tidak layak huni serta kondisi lingkungan yang buruk. Jadi sampah, sanitasinya buruk, gitu," terang Ainun Murwani.
Setelah akar masalah ditemukan, tantangan terbesarnya adalah biaya.
Paguyuban Kalijawi sempat mendapat angin segar berupa dana hibah dari lembaga luar negeri sebesar Rp 300 juta.
Namun, di atas kertas, angka tersebut sangat jauh dari kata cukup untuk membedah ratusan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang tersebar di 14 kampung.
Alih-alih membagikan dana tersebut secara cuma-cuma dan habis tak berbekas, ibu-ibu Kalijawi memutar otak.
Mereka merancang sebuah sistem rekayasa finansial mandiri yang mengakar pada budaya lokal: arisan dan tabungan harian sebesar Rp 2.000.
"Waktu itu ada hibah sekitar Rp 300 juta, tapi kami merasa itu tidak cukup karena untuk menyelesaikan masalah RTLH di 14 kampung. Terus akhirnya kami sepakat untuk membuat program tabungan untuk renovasi. Dana hibah itu tidak dihibahkan tapi digulirkan, ditambah dengan swadaya masyarakat untuk menabung. Jadi menabung sehari Rp 2 ribu, kita bikin kelompok-kelompok kecil di 14 kampung terkumpul 15 kelompok. Ada 165 anggota karena satu kelompok itu ada 15 orang," terang Ainun Murwani.
Mekanisme pencairan dana ini dirancang dengan sangat sistematis namun tetap merakyat.
Setiap harinya, para anggota diwajibkan menyisihkan uang sebesar Rp 2.000 untuk disetorkan kepada ketua kelompok masing-masing.
Setelah berjalan dua bulan, uang tabungan tersebut akan dicairkan di tingkat kelompok melalui sistem undian.
Anggota yang beruntung mendapat giliran akan menerima suntikan dana perbaikan rumah sebesar Rp 3.000.000.
Nominal tersebut merupakan gabungan dari akumulasi tabungan kelompok sebesar Rp 1,2 juta dan subsidi silang dari dana hibah yang digulirkan senilai Rp 1,8 juta.
Apabila dalam praktiknya ongkos renovasi membengkak dan melampaui plafon pencairan tersebut, kekurangannya akan ditutup melalui dana swadaya keluarga yang bersangkutan maupun bantuan gotong royong warga sekitar.
Pendekatan ini dipilih bukan tanpa alasan yang matang.
"Kami buat seperti arisan karena yang paling disenangi masyarakat arisan. Siapa yang dapat dia renovasi duluan," ungkap Ainun Murwani menjelaskan alasan di balik pemilihan sistem tersebut.
Baca juga: Land of Leisures Rayakan Satu Dekade, Perkuat Posisi sebagai Curated Market & Panggung Brand Lokal
Mengumpulkan uang dari masyarakat berpenghasilan rendah dan hidup di bantaran sungai rel kereta api bukanlah perkara mudah.
Pada awal berdirinya, inisiatif ini dihantam gelombang penolakan dan skeptisisme dari warga sendiri.
"Karena mereka kan masalah uang ya, padahal sistemnya udah kita buat bahwa uang itu dikumpulkan di kelompok. Kelompok ada bendahara, sekretaris, itu mengelola uang itu. Tapi mereka tetep kayak nggak percaya, 'Wah ini investasi bodong,' kayak-kayak," ujarnya.
Namun, kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.
Bukti fisik menjadi jurus ampuh untuk membungkam keraguan.
Ketika satu atau dua rumah tetangga mulai terbangun menjadi lebih layak, dinding yang dulunya reyot kini kokoh, dan atap yang bocor menjadi rapat, warga yang tadinya mencibir mulai berbondong-bondong mendaftarkan diri.
Hingga pertengahan 2026, jumlah anggota terus membengkak hingga mencapai 278 Kepala Keluarga (KK), membentang hingga ke bantaran Sungai Gajahwong di Kabupaten Sleman.
Renovasi yang dilakukan Kalijawi tidak muluk-muluk, tetapi menyasar jantung permasalahan kesehatan lingkungan kota.
Mulai dari Fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK), sirkulasi pencahayaan, dan sirkulasi udara.
Dahulu, banyak warga yang langganan mengonsumsi obat sakit kepala setiap hari, yang usut punya usut, disebabkan oleh rumah yang gelap, pengap, dan kekurangan oksigen.
Sudirah (52), salah seorang anggota yang telah bergabung sejak 2013, menjadi saksi hidup bagaimana desain rumah menyelamatkan nyawanya.
Pada 2020 silam, saat badai pandemi COVID-19 menerjang, ia menolak dibawa ke fasilitas karantina. Kalijawi hadir merenovasi rumahnya agar layak menjadi tempat isolasi yang sehat.
"Sekarang rumah saya jadi tinggi, kalau dulu sirkulasi udara kurang bebas. Nggak ada jendela, gentengnya juga pendek. Jendela nggak ada, sumpek. Dulu saya dikarantina karena kena Covid toh. Saya mau dibawa ke rumah (isolasi) nggak mau. Terus sama Kalijawi dikasih bantuan renovasi rumah," ujar Sudirah.
Hingga saat ini, jejak nyata keberhasilan Kalijawi telah tersebar luas dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tercatat, sebanyak 165 rumah telah berhasil direnovasi murni melalui program tabungan awal.
Secara keseluruhan, total sudah ada lebih dari 400 rumah yang berhasil dibedah menjadi hunian yang lebih layak dan sehat.
Pencapaian tersebut tidak hanya bersumber dari tabungan kelompok, tetapi juga mencakup renovasi yang dilakukan melalui subsidi berlanjut, inisiatif renovasi mandiri oleh warga, hingga pemanfaatan akses pinjaman renovasi yang difasilitasi langsung oleh paguyuban Kalijawi.
Paguyuban Kalijawi membuktikan bahwa membangun rumah adalah titik awal dari pembangunan manusia. Organisasi ini telah berevolusi memberikan pendidikan manajemen keuangan keluarga bagi anggotanya.
"Selalu kita tekankan bahwa masalah rumah ini adalah awal dari memperbaiki semuanya. Ketika rumahnya nyaman, sudah tidak berpikir lagi tentang kenyamanan tinggal kan? Berarti dia bisa berpikir mencari makannya lebih tenang, mencari akses yang lain lebih mudah, kayak gitu. Jadi kami percaya bahwa menyelesaikan masalah rumah itu bisa membuka akses ke yang lain, ekonomi, pendidikan, ke yang lain," terangnya.
Filosofi ini dirasakan betul oleh Sudirah yang sehari-hari berjualan kelontong. Ia tidak hanya mendapatkan rumah yang sehat, tetapi juga kepastian masa depan bagi anak-anaknya.
"Dari koperasi bisa pinjam untuk pendidikan anak. Ada yang pendidikan, ada yang kesehatan," terangnya.
Bergerak secara akar rumput telah membuktikan ketangguhan warga Kalijawi.
Namun, untuk menjaga keberlanjutan agar kawasan tersebut tidak kembali menjadi permukiman kumuh, intervensi dan kolaborasi dengan pemerintah mutlak diperlukan.
Kalijawi mengusulkan sebuah model kebijakan progresif terkait penyaluran bantuan pemerintah di masa depan.
"Ke depannya pasti program renovasi rumah ini pasti akan terus kita lakukan. Kita juga akan bekerja sama dengan pemerintah, bahkan kita mengusulkan bahwa koperasi, ketika pemerintah memberikan bantuan, itu dikelola oleh koperasi. Jadi si penerima manfaat ini disatukan dalam bentuk koperasi, supaya nanti ketika 5 tahun dilihat itu rumahnya nggak kembali kumuh. Karena mereka selain ada tabungan, selain itu juga ada peningkatan kapasitas, pemahaman tentang permukiman," pungkas Ainun.