TRIBUNSUMSEL.COM, BELITUNG - Kabar duka datang dari keluarga besar novel dan film Laskar Pelangi.
Salah satu tokoh legendarisnya, Muslimah Hafsari binti A. Kadir atau Bu Mus, dikabarkan meninggal dunia, Sabtu (27/6/2026) dini hari sekitar pukul 03.30 WIB.
Diketahui, Bu Mus adalah tokoh pendidikan legendaris yang menginspirasi novel dan film Laskar Pelangi.
Duka mendalam pula dirasakan oleh Andrea Hirata, penulis buku Laskar Pelangi.
Melalui Instagramnya, @hirataandrea, Andrea Hirata mengunggah layar hitam lengkap dengan kalimat duka.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibunda Guruku Ibu Muslimah. Al-Fatihah," tulis Andrea, dikutip Tribunsumsel.com, Sabtu (27/6/2026).
Bu Mus, meninggal dunia di usia 74 tahun.
Muslimah mengembuskan napas terakhirnya saat dalam perawatan medis di Rumah Sakit Muhammad Zein, Manggar.
Pantauan reporter Posbelitung.co, suasana duka mendalam menyelimuti sebuah kediaman di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Sabtu pagi. Lantunan yasin menggema dari dalam rumah tersebut.
Kabar kepergian Bu Mus menyisakan kesedihan tidak hanya bagi keluarga besar, melainkan juga bagi seluruh masyarakat di Belitung Timur.
Di rumah duka yang mulai didatangi pelayat, putra almarhumah, Uun (45) duduk dengan raut senyum, tapi di satu sisi seperti menahan tangis.
Uun tentunya merasakan duka yang teramat dalam setelah terjaga semalaman mengawal detak jantung sang ibu.
Kepada Posbelitung.co, Uun secara perlahan menceritakan kronologi dan detik-detik terakhir sebelum sang bunda mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Muhammad Zein, Manggar.
Uun menceritakan bahwa kondisi kesehatan ibundanya sebenarnya sudah mulai menurun drastis sejak Jumat (26/6/2026) malam, sekitar pukul 21.00 WIB.
Melihat kondisi tubuh Bu Mus yang kian melemah, pihak keluarga bersama tim medis langsung memutuskan untuk memindahkan almarhumah ke ruang perawatan intensif atau ICU.
"Kejadian awal drop-nya itu sebenarnya semalam sekitar jam 9 malam. Kondisinya terus menurun, sehingga langsung dibawa dan dirawat di ruang ICU," ujar Uun.
Memasuki waktu dini hari, tepatnya pada Sabtu pukul 02.30 WIB, kesehatan Bu Mus menunjukkan tanda-tanda kritis. Kondisi tubuhnya kembali mengalami penurunan yang sangat drastis.
Keluarga yang terus mendampingi di sisi ranjang rumah sakit hanya bisa pasrah dan terus memanjatkan doa di tengah kepanikan ruang ICU yang sunyi.
Tepat satu jam berselang, perjuangan perempuan yang mendedikasikan hidupnya pendidikan anak-anak kurang mampu itu akhirnya selesai.
"Jam 02.30 subuh itu mulai turun lagi, drop lagi kondisinya. Kemudian tepat pada pukul 03.30 WIB, Ibu sudah enggak ada lagi (meninggal dunia)," ucap Uun.
Sebelum dinyatakan wafat pada Sabtu subuh, Bu Mus rupanya sudah menjalani perawatan yang cukup intensif.
Uun menyebut ibunya telah terbaring di rumah sakit selama kurang lebih tiga minggu terakhir.
Selama masa perawatan tersebut, Uun mengatakan pihak keluarga dibantu tim dokter telah melakukan berbagai ikhtiar dan upaya pengobatan medis secara maksimal demi kesembuhan almarhumah.
"Kalau dirawat di rumah sakit itu totalnya sudah sekitar tiga minggu. Sebenarnya beliau ini ada mengalami gejala seperti tumor di tubuhnya," katanya.
Upaya operasi pun sudah pernah ditempuh oleh tim medis sebagai jalan keluar untuk mengangkat penyakit tersebut, namun takdir berkata lain.
"Kami dari pihak keluarga tentu sudah berikhtiar dan melakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan Ibu selama di rumah sakit," ungkapnya.
Uun juga menceritakan bahwa tidak ada tanda-tanda berupa perubahan perilaku yang mencolok dari ibundanya, baik sebelum maupun sesudah kondisi fisiknya drop semalam.
Menurutnya, Bu Mus tetap menunjukkan ketenangan dan bersikap seperti biasa di ranjang rumah sakit, sama sekali tidak mengeluhkan rasa sakit yang berlebih di depan anak-anaknya.
Setelah disemayamkan dan dimandikan di rumah duka, jenazah Bu Mus langsung dibawa ke Masjid Baitul Muttaqien, Desa Gantung untuk disalatkan oleh ratusan pelayat yang memadati area Gantung sekitar pukul 08.00 WIB.
Langkah kaki para pelayat kemudian mengiringi keranda jenazah Bu Mus menuju peristirahatan terakhirnya di TPU Cempaka, Desa Gantung.
Prosesi pemakaman berlangsung penuh haru, di mana jasad sang guru itu dimasukkan ke liang lahat sekitar pukul 08.30 WIB.
"Tadi pagi sekitar jam 8-an sudah disalatkan, dan Alhamdulillah prosesi pemakaman di Cempaka sudah selesai semua tadi sekitar jam 08.30 WIB," tutup Uun mengakhiri pembicaraan. (Tribunsumsel.com/Weni Wahyuny/Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)