Ingat Sultan Rifat Mahasiswa UB yang Terjerat Kabel Optik hingga Sulit Bicara? Kini S2 di Australia
Musahadah June 27, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id - Ingat Sultan Rifat Alfatih, mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, korban jeratan kabel optik di Jakarta?

Mahasiswa berusia 23 tahun yang sempat mengalami kesulitan berbicara karena pita suaranya terganggu, kini diketahui tengah menempuh pendidikan S2 (magister) di Australia.

Sultan menempuh studi Magister Kebijakan Publik di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, melalui beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Tidak mudah perjuangan Sultan untuk meraih itu, karena dia harus menjalani serangkaian operasi hingga cuti kuliah selama dua semester. 

Berikut perjuangan lengkap Sultan Rifat meraih cita-citanya: 

Baca juga: UPDATE Kondisi Sultan Rifat Mahasiswa UB Korban Jeratan Kabel Optik, Alami Perkembangan pada 2 Hal

Terjerat kabel fiber optik saat liburan

Saat kejadian itu, Sultan masih berusia 20 tahun. 

Pemuda asal Bintaro itu mengalami patah tulang tenggorokan akibat kabel menjuntai yang menjerat lehernya, di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, pada 5 Januari 2023 lalu.

Saat itu, Sultan diketahui sedang menghabiskan waktu libur semesternya dengan kembali ke kediamannya.

"Kronologinya, pada 5 Januari 2023, anak saya pamitan mau main sama teman semasa SMA-nya sekitar pukul 22.00 WIB," kata Fatih, ayah Sultan.

Dari kediamannya di bilangan Bintaro, Sultan bersama beberapa teman SMA-nya mengemudikan kendaraan roda dua ke arah Jalan TB Simatupang, lalu belok kiri ke Jalan Pangeran Antasari.

Setelah menyusuri Jalan Pangeran Antasari sejauh satu kilometer, tiba-tiba ada mobil SUV yang berhenti di depan motor korban.

Mobil itu berhenti karena ada kabel fiber optik yang melintang di tengah jalan.

Sopir SUV yang bergerak perlahan untuk melewati kabel menjuntai diduga salah perhitungan.

Sebab, sopir diduga tak menyadari kabel tersebut menyangkut di bagian atap mobil.

"Karena kabel fiber optik terbuat dari serat baja, kabelnya jadi tidak putus saat tertarik beberapa meter. Kabel justru berbalik ke arah belakang dan menjepret leher anak saya," ujar Fatih.

"Seketika itu juga anak saya langsung terjatuh akibat jeratan kabel," sambung dia.

Korban yang tak sadarkan diri kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati untuk mendapat pertolongan pertama.

7 bulan tak bisa bicara

Akibat kecelakaan itu, Sultan kesulitan untuk berkomunikasi.

Ia bahkan tidak bisa berbicara selama hampir tujuh bulan ini.

Sultan ini sudah tak bisa lagi menggunakan hidung dan mulutnya untuk bernapas usai lehernya terjerat kabel fiber optik pada hari kejadian.

Fatih mengatakan, sang anak kini harus menggunakan alat bantu di tenggorokannya agar bisa bernapas. Sultan hanya bernapas melalui tenggorokan yang di bagian bawah.

Tidak hanya bernapas, Sultan juga tidak bisa makan-minum menggunakan mulut layaknya orang normal. Ia harus memakai selang khusus untuk memperoleh asupan nutrisi sehari-hari.

"Makan minumnya sampai sekarang cuma disuntikkan dari selang. Jadi hanya makanan cair saja yang bisa masuk, susu dan air putih biasanya," tutur Fatih.

Karena hanya cairan yang bisa masuk ke tubuh Sultan, kondisi fisiknya kian memprihatinkan. Tubuhnya semakin kurus karena hanya susu dan air putih yang bisa masuk ke tubuhnya.

"Saat ini berat badan anak saya cuma 46 kilogram, padahal awal berat badan dia 69 kilogram," ucap

Cuti kuliah 2 semester untuk fokus perawatan

Sultan kemudian memutuskan untuk cuti kuliah agar bisa fokus melakukan pengobatan, perawatan, dan pemulihan usai terjerat kabel optik.

“Jadi saya pada saat itu cuti kuliah dua semester. Saat kecelakaan, lagi libur semester 5 mau ke semester 6,” terang dia.

Sultan menjalani cukup banyak prosedur operasi yang pada akhirnya membutuhkan waktu nyaris satu tahun, tepatnya dari Januari hingga Desember 2023.

Akibat mengalami kecelakaan itu, dia harus menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, termasuk RSUP Fatmawati, RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan RS Polri Kramat Jati.

Sejumlah dokter yang ahli di berbagai bidang seperti THT, paru, hingga rekonstruksi dan estetika turut dilibatkan dalam proses perawatan Sultan.

Saat di RS Polri, pada Oktober 2023, Sultan menjalani prosedur operasi pengangkatan pita suara.

Sebelum dilakukan operasi tersebut, ia harus mendapatkan asupan makanan menggunakan selang Nasogastric Tube (NGT).

“Kalau kebayang, itu jadi kayak selang yang dimasukkan dari hidung ke kerongkongan, lalu ke lambung,” ucap Sultan.

Setelah pengangkatan pita suara, perlahan-lahan selang NGT sudah bisa dilepas dan ia dapat mengonsumsi makanan normal.

Meski begitu, awalnya Sultan hanya diperbolehkan konsumsi makanan halus seperti bubur. Seiring waktu, ragam makanan yang bisa dikonsumsinya bertambah.

Sementara itu, dirinya menggunakan corong trakeostomi atau kanul trakeostomi untuk bisa bernapas sejak awal perawatan.

“Jadi kayak pipa yang ditempel dari lubang di leher, buat bisa nge-bypass jalur pernapasan dari paru-paru yang harusnya ke hidung baru keluar,” ujar Sultan.

Kanul trakeostomi tersebut terpasang di lehernya hingga November 2023.

Setelah pita suaranya diangkat, Sultan masih dapat berkomunikasi menggunakan alat bantu bernama digital electrolarynx.

Perangkat elektronik bertenaga baterai tersebut berfungsi menghasilkan getaran suara sebagai pengganti pita suara yang telah hilang, sehingga penggunanya tetap dapat berbicara.

“Cara kerjanya kurang lebih nempelin bagian pucuk alatnya ke leher, terus tinggal pencet tombolnya buat menghidupkan dan menggetarkan alatnya, nanti dari getaran tersebut bisa diartikulasikan menjadi sebuah suara gitu,” tutur Sultan.

Mulai kembali berkuliah di Universitas Brawijaya

Sultan Rifat, mahasiswa UB korban terjerat kabel optik di Jakarta yang kini sudah bisa bicara.
Sultan Rifat, mahasiswa UB korban terjerat kabel optik di Jakarta yang kini sudah bisa bicara. (kolase Official iNews/istimewa)

Pada Desember 2023, Sultan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, tetapi ia diminta untuk tetap rutin kontrol.

“Jadi memang setelah bulan Desember itu, pihak dokter memang sudah nge-declare saya sudah pulih dan tinggal melanjutkan cek pemeriksaan rutin atau pemeriksaan berdasarkan keluhan dari saya sebagai pasien,” katanya.

Dia pun kembali melanjutkan studi S1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Brawijaya pada Februari 2024.

Meski hidupnya tak lagi sama, namun Sultan mendapatkan banyak dukungan dari teman-teman kuliahnya.

“Melihat saya balik ke kampus lagi pada senang, kayak ‘welcome back’ gitu-gitu,” terang Sultan.

Setelah mengerjakan tugas kampus, termasuk magang dan skripsi, Sultan pun berhasil lulus dari program studi S1 Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya pada Mei 2025.

Fokus daftar kuliah ke kampus Australia

Setelah lulus dari Universitas Brawijaya, Sultan langsung fokus untuk mengejar impiannya, kuliah S2 di luar negeri.

“Sudah impian saya buat bisa kuliah S2 di luar negeri, bisa buat memperluas wawasan, bertemu orang-orang banyak, dan mencari perspektif baru,” katanya.

Dia pun mencari informasi mengenai pendaftaran S2 di Australian National University (ANU).

Di situ, Sultan memutuskan untuk memilih S2 jurusan Kebijakan Publik, karena menurutnya masih linear dengan pendidikan S1-nya.

“Karena kebijakan publik itu kan masih linear dengan ilmu pemerintahan. Kajian Kebijakan Publik (di ANU berfokus) untuk negara-negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan di daerah Pasifik,” jelasnya.

Sultan yakin, dia akan mendapatkan banyak relevansi teori saat berkuliah di jurusan Kebijakan Publik ANU.

Secara penerapan di lapangan, jurusan tersebut juga masih sangat bersinggungan dengan sistem pemerintahan negara kawasan Asia Tenggara.

Mendaftar beasiswa usai diterima di ANU

Setelah dinyatakan diterima di ANU, Sultan mulai mencari beasiswa untuk mendukung studinya di Australia.

Namun, pada awalnya ia sempat bingung menentukan program beasiswa yang akan dipilih.

“Cuman setelah dipikir-pikir, kayaknya yang paling realistis, akhirnya saya coba buat ambil beasiswa LPDP,” ungkap Sultan.

Ia kemudian mendaftar beasiswa LPDP melalui jalur disabilitas yang dibuka pada Juli 2025.

Sultan menuturkan, saat mendaftar LPDP, dirinya telah mengantongi offering letter dari ANU.

Karena mengikuti jalur disabilitas, ia tidak perlu melalui seluruh tahapan seleksi yang berlaku pada jalur reguler dan dapat langsung melanjutkan ke tahap wawancara setelah lolos seleksi administrasi.

“Langsung dari seleksi administrasi ke seleksi wawancara di bulan Oktober kemarin (2025) dan pengumumannya baru keluar di bulan November,” terangnya.

Mulai berkuliah di ANU

Akhirnya, Sultan pun berhasil menggapai cita-citanya. Ia mulai berkuliah S2 Kebijakan Publik Australian National University pada Februari 2026.

Di sana, dia banyak bertemu teman-teman asal Indonesia maupun dari negara lainnya.

Tanggapan teman-teman kampusnya atas kondisinya pun beragam.

“Ada bilang ‘wih, suaranya keren kayak robot’,” beber Sultan yang masih menggunakan digital electrolarynx untuk berkomunikasi, sehingga suara yang muncul seperti robot.

Tak disangka, keunikan tersebut justru membuat Sultan lebih mudah dikenali dan diingat oleh teman-teman kuliahnya.

Ia juga mengaku tidak mengalami kesulitan saat harus melakukan presentasi di depan kelas.

“Surprisingly, saya sudah melakukan beberapa presentasi juga di kelas dan awalnya kayak ragu ini apakah teman-teman bakalan kesulitan buat memahami presentasi saya? Apakah ini suaranya bakalan jelas,” kata dia.

“Ternyata setelah saya lakukan presentasi tersebut, mental-mental yang meragukan akhirnya pelan-pelan hilang. Saya tanya ke teman dan dosen, ‘apakah presentasiku jelas ya?’ Feedback mereka pada bilang jelas, very clear, dan sangat mudah dipahami,” sambungnya.

Saat ini, perkuliahan sedang memasuki masa libur antar semester.

Sultan akan melanjutkan kuliahnya di semester 2 pada akhir Juli 2026 mendatang.

Dia berharap bisa menjalani perkuliahan dengan lancar hingga lulus tepat waktu.

Sultan juga berharap bisa lulus dengan predikat Graduate with Honor atau Graduate with Distinction.

Setelah lulus, dia ingin kembali ke Indonesia dan berkontribusi untuk negara, baik melalui jalur pemerintahan maupun di luar lingkaran pemerintahan.

“Bisa berkontribusi buat negara dari kanal pekerjaan manapun, mau itu di dalam pemerintahan sebagai analis kebijakan atau mungkin bisa menjadi policy maker,” terang Sultan.

“Atau mungkin nanti di luar lingkaran pemerintahan, mungkin itu bisa dari lembaga atau mungkin dari badan internasional seperti PBB atau UNDP,” pungkasnya. (kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.