Gapasdap Desak Pemerintah Tingkatkan Infrastruktur Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk
Titis Jati Permata June 27, 2026 01:49 PM

 

SURYA.co.id, BANYUWANGI - Kemacetan di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dinilai bukan lagi persoalan yang hanya muncul saat musim mudik atau libur panjang.

Di balik antrean kendaraan yang kerap terjadi, operator kapal ferry menilai akar masalah sesungguhnya berada pada keterbatasan infrastruktur pelabuhan yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan trafik.

Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) mendesak pemerintah segera membangun dan meningkatkan infrastruktur di lintas penyeberangan Jawa–Bali sebagai solusi jangka panjang.

"Persoalan ini tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah musiman yang hanya muncul saat Lebaran atau libur panjang, melainkan telah menjadi persoalan struktural yang membutuhkan penyelesaian cepat dan permanen," kata Ketua Gapasdap Khoiri Soetomo kepada SURYA.co.id, Sabtu (27/6/2026).

Hanya Fokus Penambahan Jumlah Kapal

Menurut Khoiri, selama ini solusi yang diambil setiap kali terjadi antrean kendaraan lebih banyak berfokus pada penambahan jumlah kapal, termasuk mendatangkan kapal berukuran lebih besar.

Namun, langkah tersebut dinilai tidak akan efektif apabila kapasitas pelabuhan tidak ikut ditingkatkan.

Ia menyebut, persoalan utama di lintas Jawa–Bali saat ini adalah kapasitas infrastruktur pelabuhan yang sudah tidak lagi mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan maupun armada kapal.

"Saat ini tersedia sekitar 56 kapal yang siap melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk. Akan tetapi kemampuan kapasitas dan jumlah dermaga masih menjadi faktor pembatas sehingga banyak kapal harus menunggu giliran sandar dan jadwal untuk bisa beroprasi," ucap dia.

Butuh Peningkatan Kapasitas Dermaga

Khoiri menegaskan, penambahan kapal tanpa peningkatan kapasitas dermaga tidak akan menjadi solusi atas persoalan kemacetan yang terus berulang.

Ia juga menyoroti sejumlah fasilitas pelabuhan yang dinilai sudah tertinggal.

Beberapa dermaga, kata dia, masih menggunakan tipe LCM yang tidak lagi ideal untuk melayani kapal motor penumpang (KMP) modern.

"Di sisi lain, pelabuhan juga belum memiliki breakwater dan kolam pelabuhan yang memadai sehingga operasional kapal sangat dipengaruhi oleh angin, arus, dan gelombang," ujar dia.

Dermaga Bulusan Tak Optimal

Kondisi tersebut berdampak langsung pada operasional pelabuhan.

Saat cuaca memburuk, proses sandar kapal menjadi lebih sulit, waktu pelayanan bertambah, dan kapasitas pelabuhan semakin menurun.

Selain itu, Dermaga Bulusan yang sebelumnya dapat difungsikan sebagai dermaga tambahan kini juga tidak lagi bisa dimanfaatkan secara optimal.

Dua dolphin sandarnya dilaporkan mengalami kerusakan, sementara satu dolphin lainnya berada dalam kondisi kurang baik sehingga tidak aman digunakan kapal untuk bersandar.

"Fakta tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur selama ini belum mampu mengimbangi kebutuhan operasional lintasan yang terus meningkat," ucap dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.