Awalnya Tak Minat, Kini Petani Sigi Panen Cuan Jualan Kopi Berkualitas
GH News June 27, 2026 02:09 PM
Jakarta -

Seorang petani dari Sigi, Sulawesi Tengah, menceritakan perjalanannya mengelola kebun. Awalnya mengaku tak minat, kini justru sukses kolaborasi bareng prosesor.

Proses pembuatan kopi tidak hanya sekadar dari mesin jatuh ke dalam cangkir. Ada perjalanan panjang dari bibit pohon kopi hingga menjadi seduhan kopi menyegarkan yang bisa dinikmati setiap hari.

Tantangan untuk membuat kopi sendiri juga tak hanya pada barista, jauh sebelum itu ada jerih payah petani di kebun kopi yang harus menanam dan merawat pohonnya. Salah satunya seperti Algius, petani kopi dari Sigi, Sulawesi Tengan yang ditemui oleh tim detikFood (26/6/2026).

Kami bertemu dengan Algius pada acara Sewelas Asih Toko Kopi TUKU di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Algius datang memperkenalkan kopi dari kebunnya di Sigi.

Genap 11 Tahun, Toko Kopi TUKU Rayakan Kolaborasi bersama 'Pemain' LokalBiji kopi dari desa Lewara, Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Diah Afrilian/detikcom

Didampingi oleh prosesornya, Gampiri, Algius mengenalkan hasil dari kebun kopi pribadinya di atas tanah seluas satu hektar. Di desanya sendiri, Lewara, ia menyebut memiliki luas kebun kopi dengan total sekitar 25 hektar.

Seluruh kebun tersebut dimiliki dan dikelola oleh masyarakat desa dengan bagiannya masing-masing. Uniknya, Algius mengaku ia hanya petani kopi yang baru mulai di industri ini.

"Dulu orangtua sudah tanam kopi, tetapi saya tidak minat. Karena harga kopi saat itu masih murah. Biji hijaunya saja bisa dibeli hanya Rp10 ribu - Rp20 ribu per kilogram. Sekarang saya mulai tertarik karena kopi sudah mulai dihargai, bisa sampai Rp50 ribu - Rp70 ribu per kilogram (biji hijau)," ujarnya kepada detikFood.

Sebelum mengenal prosesor, Algius mengaku masih menjual kopi-kopinya kepada tengkulak. Namun, kehadiran tengkulak ini juga menjadi salah satu masalah yang sering dihadapinya.

"Kalau lagi panen mereka (tengkulak) banyak yang datang, tetapi kalau panen lagi sedikit mereka kabur. Jadi bingung mau jual ke mana. Sekarang saya fokus ke Gampiri saja (prosesor), jual kopinya jadi lebih jelas," tutur Algius.

Genap 11 Tahun, Toko Kopi TUKU Rayakan Kolaborasi bersama 'Pemain' LokalAlgius, salah satu petani kopi dari Desa Lewara, Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Diah Afrilian/detikcom

Tak hanya sekadar membeli kopi dari petani, prosesor ini ternyata juga punya peran penting untuk mengedukasi petani. Algius sendiri mengakui peran edukasi dari prosesor yang membantunya mengolah biji kopi pasca panen.

Ia yang awalnya yang tertarik dengan kebun kopi, kini sudah bisa melakukan proses pasca panen dengan fermentasi natural, honey, hingga full washed. Algius juga menceritakan dampak bencana alam yang saat itu sempat menghantam Sigi.

Posisi kebun kopi miliknya yang berada di lereng bukit begitu terancam. Bencana gempa besar yang terjadi membuat sebagian besar kebun kopi longsor dan mengalami penurunan elevasi, tentunya faktor ini juga memengaruhi hasil panen kopi. Mengingat buah kopi sensitif terhadap tekanan udara dan ketinggian.

"Saat gempa besar 108 (sekitar 7,4 M) itu kebun terdampak sangat besar. Banyak kebun yang longsor. Banyak orang-orang (petani) yang akhirnya pindah (lahan). Sekarang sudah mulai pulih lagi, sudah mulai banyak (produksi kopi di Sigi)," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.