Transformasi Besar ala Bielsa Gagal, Uruguay Sendirian Coreng CONMEBOL di Piala Dunia 2026
Drajat Sugiri June 27, 2026 02:09 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Performa tak meyakinkan Uruguay selama Piala Dunia 2026 pada akhirnya membuat mereka terdepak dari kompetisi sepak bola paling bergengsi ini.

Uruguay dipastikan tak bisa lolos ke babak 32 besar selepas kalah dari Spanyol dengan skor tipis 0-1 di matchday terakhir fase grup, Sabtu (27/6/2026).

Hal yang lebih menyakitkan adalah nama besar Uruguay justru yang mencoreng pamor CONMEBOL di Piala Dunia 2026.

Pasalnya Uruguay adalah satu-satunya wakil Amerika Selatan yang gagal melangkah ke babak 32 besar turnamen ini.

Mereka tak bisa mengikuti langkah Argentina, Brasil, Ekuador, Kolombia, dan bahkan Paraguay yang melangkah ke fase selanjutnya.

Di mana Ekuador dan Paraguay membutuhkan perjuangan lebih dramatis lantaran lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik.

Uruguay tak berhasil bersaing mendapatkan tiket dari jalur peringkat tiga terbaik lantaran cuma memiliki poin 2 di klasemen akhir.

"Ngomongin Uruguay tak bisa lepas dari Marcelo Bielsa," ucap Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca juga: Hasil Piala Dunia 2026: Belgia Kunci Status Juara Grup G usai Libas Selandia Baru 5-1

Pernyataan tersebut tak sepenuhnya salah lantaran Federasi Sepak Bola Uruguay memberikan kepercayaan besar kepada pelatih berusia 70 tahun ini.

Pada 2023, Federasi Sepak Bola Uruguay (AUF), mempercayakan kursi pelatih kepada Bielsa yang meneruskan perjuangan dari Diego Alonso dan Marcelo Broli yang tak berumur panjang di kursi panas itu.

Nama besar dan reputasi Bielsa membuat publik Uruguay sempat melayang tinggi.

Namun Bielsa tak datang cuma dengan reputasi dan nama besar.

Ia juga datang dengan sebuah ide besar.

Dirinya ingin melakukan transformasi permainan Uruguay mejadi lebih dinamis, enak dilihat, dan menyerang.

Hal tersebut bertolak belakang dengan identitas Uruguay dalam beberapa dekade ke belakang yang dikenal lebih mengandalkan kemampuan fisik dan skil individu pemain bintangnya.

URUGUAY VS SPANYOL - Ilustrasi bendera Uruguay dan Spanyol terkait persaingan di Grup H Piala Dunia 2026.
URUGUAY VS SPANYOL - Ilustrasi bendera Uruguay dan Spanyol terkait persaingan di Grup H Piala Dunia 2026. (Grafis Tribunnews.com)

Kemunculan Diego Folan di Piala Dunia 2010 menjadi contoh paling nyata dari filosofi sepak bola Uruguay.

Serahkan urusannya kepada para pemain bintang, barangkali itulah frasa yang tepat menggambarkan perjalanan Uruguay sebelum era Bielsa.

Ternyata, ide besar Bielsa ini mendapatkan penolakan dari para pemain yang ia panggil sendiri.

Perubahan filosofi permainan membutuhkan pengorbanan dan tekad besar.

Latihan fisik berat diberikan sang pelatih senior kepada para pemain demi meningkatkan kemampuan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, para pemain melawan, protes, dan menjadi rentan cedera.

Bukti terbaru adalah Manuel Ugarte yang mengalami masalah di area lututnya di pertandingan melawan Spanyol.

Padahal di level klub, Ugarte jarang mendapatkan banyak menit bermain.

Semestinya ia memiliki ketahanan fisik yang lebih prima dari pemain lain.

Namun hal tersebut tak terjadi, justru para pemain tumbang dan melawan.

Ia pun menyisihkan beberapa nama besar yang ada di skuad Uruguay.

Mulai dari Ronald Araujo (Barcelona), Jose Maria Gimenez (Atletico Madrid), Facundo Pellistri (Panathinaikos), hingga Federico Valverde (Real Madrid) tak punya jam main pasti di bawah arahan Bielsa.

Pemilihan kiper Fernando Muslera pun tak kalah menjadi sorotan negatif.

Muslera sebenarnya sudah menyatakan pensiun dari timnas sejak beberapa waktu lalu.

Namun Bielsa bersikeras memanggil dan membawanya ke Piala Dunia 2026.

Dirinya pun ditunjuk sebagai kiper utama menggeser Sergio Rochet.

Performa eks kiper Lazio itu ternyata jauh dari harapan.

Ia menjadi sumber blunder di tiga pertandingan fase grup yang memperberat langkah Uruguay mendapatkan poin penuh.

Pada akhirnya, revolusi besar yang diusung Bielsa gagal total.

Uruguay kebingungan dengan cara main yang diusung sang pelatih lantaran tak pernah mendapatkan pakem yang tepat.

Pendekatan gaya lama Bielsa juga tak bisa memberikannya kedekatan dengan para pemain, termasuk kapten Feder Valverde yang menjadi salah satu pemberontak di skuadnya.

Kehilangan ruang ganti menjadi hal vital dalam kegagalan Bielsa di Piala Dunia 2026 kali ini.

Pada akhirnya, Uruguay bermain hanya untuk mempertahankan harga diri, bukan mengejar lolos lagi ke babak selanjutnya.

Setidaknya, lembaran bersama Bielsa tak akan berlanjut setelah Piala Dunia 2026.

AUF bisa mengambil pelajaran penting dari ini dan mengangkat pelatih yang punya pendekatan lebih baik.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.