Kisah Sukses Founder Dus Duk Duk: Ubah Citra Kardus Rombengan Bernilai Tinggi Berkat Branding
Sarah Elnyora Rumaropen June 27, 2026 04:45 PM

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Pentingnya membangun citra personal yang kuat menjadi kunci sukses bagi Angger Diri Wiranata dalam mentransformasi bisnis kreatifnya, Dus Duk Duk.

Melalui strategi branding yang tepat, Angger berhasil mengubah stigma negatif kardus bekas yang awalnya dianggap sebagai barang rombengan tak bernilai menjadi produk furnitur dan instalasi rumah yang bernilai tinggi serta ramah lingkungan. 

Kisah inspiratif tersebut dibagikan langsung oleh Angger dalam acara kelulusan program pendampingan bisnis Apindo UMKM Merdeka 2026 di Gedung Aula Fadjar Notonegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Jumat (26/6/2026).

Strategi Branding Dus Duk Duk

Dus Duk Duk adalah sebuah brand furniture dan instalasi rumah berbahan dasar kardus.

Produk inovatif ini lahir dari keresahan terhadap pemanfaatan kardus bekas yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas.

"Branding pertama kali yang saya lakukan adalah Dus Duk Duk ini. Kerdus yang image-nya buruk, hanya bisa dirombeng, tapi kami buat menjadi produk yang fun," kata Angger saat tampil sebagai narasumber dalam sharing session Graduation Apindo UMKM Merdeka 2026.

Usaha kreatif ini dimulai Angger pada tahun 2013 bersama beberapa rekannya.

Baca juga: Pacitan Diguncang Gempa Magnitudo 5,6, Getaran Terasa Kuat hingga Warga Ponorogo Keluar Rumah

Mereka memantapkan kolaborasi dengan membuka perusahaan kreatif yang mentransformasi kardus 100 persen menjadi produk yang bisa menciptakan momen kebahagiaan.

Project pertama mereka saat itu adalah menyulap kardus menjadi tempat duduk.

"Karena itu namanya Dus Duk Duk, yang berarti kardus untuk duduk karena produk pertamanya kursi," jelas Angger.

Ekspansi Bisnis Melalui 'Bangga Membumi'

Usaha mereka mampu berkembang secara konsisten hingga datangnya pandemi Covid-19 pada tahun 2020, yang mendorong tim Dus Duk Duk untuk meluncurkan berbagai inovasi produk baru.

Mulai dari kemasan hasil daur ulang, mainan anak-anak, hingga produk paperoom atau kebutuhan interior untuk rumah tinggal.

Baca juga: Puncak Bulan Bung Karno, DPC PDIP Kota Malang Gaet Gen Z: Gelar Turnamen E-Sport Premium dan Domino

"Branding terus kami lanjutkan dengan memanfaatkan platform media sosial. Dengan platform kampanye kami Bangga Membumi" ungkap Angger.

"Tidak hanya mengenalkan produk kami juga melakukan edukasi terkait bahan baku, pengolahan dan lainnya. Hasilnya respon positif cukup banyak dan kami pun mulai banyak berkolaborasi dengan banyak pihak," lanjutnya. 

Program Strategis Apindo Jatim

Sementara itu dalam kegiatan yang sama, hadir membuka acara secara resmi, Dwi Ken Hendrawanto selaku Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Timur (Apindo Jatim).

Dalam sambutannya, Dwi Ken memaparkan kegiatan Apindo UMKM Merdeka 2026 ini merupakan program strategis dari Apindo yang berfungsi menjembatani kolaborasi erat antara dunia usaha, perguruan tinggi (mahasiswa), mentor, dan para pelaku UMKM.

Baca juga: Tomie Herawanto Segera Pensiun, DPRD Malang Khawatir Bappeda Kehilangan Koki Anggaran Terbaik

"Program ini berfokus pada pendampingan bisnis, digitalisasi, dan perbaikan tata kelola agar UMKM dapat naik kelas dan berkelanjutan," kata Dwi Ken.

Program besar ini sendiri sudah berlangsung secara berkelanjutan sejak tahun 2023, di mana untuk tahun 2026 ini rangkaian kegiatannya sudah berjalan sejak 4 bulan yang lalu.

"Dan ini merupakan graduation atau kelulusan bagi program Apindo UMKM Mandiri 2026. Kami ucapkan selamat, semoga bisa lebih berkembang luas lagi," terang Dwi Ken.

Capaian Batch Apindo Jatim

Di sela-sela jalannya acara, Radit Suryo Hartanto selaku pelaksana teknis menambahkan, program Apindo UMKM Merdeka sejauh ini telah digelar sebanyak empat batch khusus untuk di wilayah Jawa Timur.

Sementara untuk skala nasional, cakupan programnya sudah berhasil mencapai 10 batch.

"Konsep Apindo UMKM Merdeka ini ada lima tata kelola," beber Radit.

Baca juga: Korban Jiwa Latsarmil Manajer Kopdes Merah Putih Bertambah Jadi 5 Orang, Kemhan Bantah Perpeloncoan

Lima pilar yang dimaksud adalah tata kelola usaha yang berkaitan erat dengan aspek legalitas, pelaporan keuangan, administrasi bisnis, dan pengembangan usaha, tata kelola perusahaan, perizinan, serta administrasi bisnis.

Kemudian dilanjutkan dengan tata kelola produksi, tata kelola pemasaran, tata kelola keberlanjutan, hingga tata kelola personalia.

Melalui penerapan konsep yang matang tersebut, program ini mencatatkan dampak riil yang besar bagi wilayah regional.

"Dari tiga batch sebelumnya di Jatim sudah menghasilkan 113 mahasiswa, 10 perguruan tinggi. Di batch keempat ini diikuti 23 mahasiswa, dengan empat mentor dari praktisi bisnis," pungkas Radit.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.