TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Seni bela diri muslim Thifan Po Khan mulai diperkenalkan kepada masyarakat Jambi sebagai olahraga yang tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga mengedepankan pembinaan akhlak, kesehatan, dan nilai-nilai keislaman.
Dalam wawancara bersama Tribun Jambi, Ketua Umum Thifan Po Khan Jambi, Kang Cas, didampingi pelatih Suhu Aris, menjelaskan sejarah, perkembangan, hingga rencana pengembangan perguruan tersebut di Provinsi Jambi.
Berikut petikan wawancara selengkapnya bersama host Fery Fadly.
Tribun Jambi: Kita bakalan ngomongin silat khusus untuk agama Islam, bisa dikatakan seperti itu ya Kang Cas ya. Nah boleh ceritakan nih Kang Cas sejarahnya nih, nama silatnya apa, diadopsi dari manakah, seperti apa Kang Cas?
Kang Cas: Jadi bela diri ini bela diri muslim dengan nama Thifan Po Khan.
Sejarah Thifan Po Khan
Tribun Jambi: Apa tuh kepanjangan Thifan Po Khan?
Kang Cas: Thifan Po Khan itu adalah suatu daerah.Oke,suatu daerah yang disebut dengan Turfan.Daerah itu berada di Turkistan Timur,yang sekarang lebih dikenal dengan Xinjiang di wilayah China.
Tribun Jambi: Oh gitu.Thifan Po Khan,nama daerah semua atau ada singkatannya?
Kang Cas: Ee,jadi Thifan itu nama daerah.Sementara untuk Po Khan itu bahasa Ruun,bahasa daerah tersebut.Po itu kepalan,Khan itu bangsawan.Jadi Khan itu istilah bangsawan daerah sana,Turkistan Timur.Timur itu sampai ke wilayah Turki Utsmani.Jadi Po itu pukulan,Khan itu bangsawan-bangsawan.Karena Thifan Po Khan ini dulunya lebih banyak dipelajari oleh para raja-raja atau orang ningrat.
Tribun Jambi: Oh berarti silat ini,khusus bangsawan zaman dulu ya?Khusus bangsawan dulunya.Kalau boleh tahu,kira-kira tahun berapa itu?
Kang Cas: Itu tahun 1320.Tahun 1320 itu ulama pada waktu itu,ulama China Muslim.Beliau berdakwah di sekitar Turkistan Timur.Namun dakwah beliau tentu mendapat tantangan.Beliau waktu itu belum punya bela diri.
Tribun Jambi: Oh malah belum ya?
Kang Cas: Belum.Jadi beliau mempelajari dari beberapa suku di daerah Xinjiang atau Turkistan Timur itu.Masing-masing suku itu mempunyai bela diri masing-masing.
Chiri Khas Thifo Po Khan
Tribun Jambi: Oh ada ciri khasnya masing-masing?
Kang Cas: Ciri khas masing-masing.Jadi Jeklan itu belajar,kemudian dia juga mempelajari namanya Kungfu Shaolin Purba,dulu Kungfu Shaolin Purba.Ditambah lagi dengan tinju Hindustan,ditambah lagi dengan bela diri Arab.Makanya Thifan Po Khan ini lebih kepada jarak dekat.
Tribun Jambi: Oh,dia lebih jarak dekat ya.Oke,oke.Nah,jadi berarti sama penemu Thifan Po Khan ini semuanya diadopsi ya?Semua gerakan-gerakan itu diadopsi semua.Akhirnya muncullah yang namanya Thifan Po Khan.Mungkin karena beliau beragama Islam dan seorang pendakwah,jadi memang dikhususkan untuk agama Islam gitu.Nah,kalau ke Suhu Aris nih.Suhu Aris asli Jambi kah atau dulunya dari Turki sana juga?
Suhu Aris: Dari Jambi,dari Jambi.
Tribun Jambi: Nah,Suhu Aris sendiri tahu dengan Thifan Po Khan ini dari mana?
Suhu Aris: Dari anak-anak Jawa Barat yang merantau ke Jambi dulu.Ustaz juga dulu kan memperkenalkan latihan-latihan bersama.Dulu di Telanaipura,kemudian...
Tribun Jambi: Itu tahun berapa Guru tahu pertama kali?
Suhu Aris: Tahun 2011.
Tribun Jambi: Oh,tahun 2011 ya.Berarti 2011 sudah mulai masuk Jambi nih ya?
Suhu Aris: Sudah mulai masuk Jambi.Kemudian latihan,latihan,latihan.Seiring waktu saya dapat istri orang Sunda.
Tribun Jambi: Oh gitu.Karena sering latihan tadi gitu?
Suhu Aris: Iya.
Tribun Jambi: Sekali dayung dua tiga pulau terlewati lah Guru ya.Mohon maaf Guru,gimana-gimana?
Suhu Aris: Iya,harus banyak guru juga.Kita kan pengin belajar,jadi silaturahmi ke Lembang dulu.Ke Lembang,Bandung,melihat guru besarnya melatih.Ngikutin beliau ke mana-mana,ke Cianjur,ke mana-mana.Sambil waktu itu minta pendalaman ke beliau.
Tribun Jambi: Oh,minta diturunkan ilmunya gitu.Berapa lama Guru untuk mendapatkan ilmu dari yang di Lembang itu?
Suhu Aris: Iya,kalau di sini dulu batasnya tingkat tiga itu belajarnya.Kalau di sana itu ada 12 tingkat.
Tribun Jambi: Oh,12 tingkat kalau mau naik lagi?
Suhu Aris: Kata guru saya,cari dari Ledeng.Saya cari dari Ledeng itu.
Tribun Jambi: Mohon maaf,Ledeng itu nama daerah Pak?
Olahraga Wakaf
Suhu Aris: Oh nama daerah daerah di Bandung oke. Nah angkotnya dari Lui Panjang he, naik bis kota terus naik angkot ke Ledeng ledeng ke Lembang naik angkotnya. Saya sampai ke Lembang itu ketemulah komunitas Thifan Po Khan itu di sana. Itu di Bandung paling banyak itu, sudah besar di sana sana, sudah besar, sudah besar ya oke iya. Kalau mau sudah ke mana-mana sudah pecah berapa nih, kan ada tiga ini Pak tiga divisi Thifan ini, salah satunya ini heeh ada suhu taisukan ada sirurgul dan semua itu khusus agama Islam itu. Iya oke, kenapa dia Islam karena olahraga ini olahraga wakaf, olahraga wakaf...
Tribun Jambi: Maksudnya gimana itu?
Suhu Aris: Perwakafan dari dari ulama-ulama terdahulu heeh untuk kaum muslimin. Jadi kalau latihannya itu enggak pernah dipinta dipatok harga berapa berapa, namanya kita mewakafkan untuk kaum muslimin insyaallah nanti bisa digunakan heeh untuk diri sendiriah. Diri sendiri untuk sehat dulu Pak bugar, kebugaran kan, untuk sekarang ini kebugaran.
Tribun Jambi: Oh kebugaran. Nah mau ke Cak lagi nih, Cak ini yang yang tahu duluan siapa nih antara suhu atau Cak nih?
Kang Cas: Ee beliau. Oh beliau, beliau langsung ngabarin betul, ngabarin saya di tahun sama 2011. 2011 juga dari awal, saya pertengahan pertengahan pertengahan ee. Ya kemudian kalau kita masalah historis juga sampai ke Indonesia. Heeh, jadi di tahun 1500-an itu ee kerajaan Aceh, Aceh kan masih di bawah naungan Turki Utsmani waktu betul ee dapat penyerangan dari penjajah Heeh Portugis lah waktu itu. Sehingga waktu itu Kesultanan Turki Heeh mengirimkan pasukan 500 pasukan yang semua itu rata-rata hafiz Quran...
Tribun Jambi: 500 pasukan ini Quran, prajurit itu hafiz Quran?
Kang Cas: Oke kemudian masuk ke kerajaan Aceh Darussalam atau orang ada sebagian kerajaan Lamuri heeh ee berkembang di situ, kemudian berkembang lagi ke Sumatera Barat oke, kemudian kembali ke bangsawan Riau heeh dan ee prajur-prajurit itu salah satunya narendra Abu Bakar hm ada juga saudaranya ee Abu Bakar juga, kemudian terus Hang Udin terus turun lagi ke Ahmad Eldim Mersedek ini Ahmad LD Mersedek ini...
Tribun Jambi: Periode-periode tahun 60-an?
Kang Cas: Oh sudah termasuk 60-an itu ya, iya 60-an itu mungkin di bawah itu heeh nah beliau salah satu bangsawan Riau hm sama beliau iya iya nah beliau ini ee merantau ke Jawa Barat...
Tribun Jambi: Oh makanya tadi malah di Jawa Barat yang pertama kali besarnya ya?
Kang Cas: Iya sebenarnya kalau secara historis perjalanan melalui Sumatera heeh, sempat berkem sempat lewat Sumatera di Riau tadi ya Bang, riau tadi muko-muko ya kalau mukom-muko itu kalau saya lihat sejarahnya kemudian sampailah ke Jawa Barat. Nah berkembang Jawa Barat dan masuklah itu umumnya di pondok pesantren pondok-pondok di Jawa Barat terus pembang Jawa Tengah sampai ke Jawa Timur...
Tribun Jambi: Nah Akang kenapa bisa tertarik karena apa ingin okelah aku ikut bergabung gitu?
Kang Cas: Iya saya lihat saya hobi olahraga oke saya lihat di Thifan itu lengkap, lengkap dari pertama Thifan itu terdiri dari ee gerakan itu ya pertama itu senam oke kalau bahasa ruwun sentai sentai itu senam, kemudian itu senam itu terdiri beberapa senam itu banyak. Ada senam kepala, senam bahu Thifan ini ya Thifan ini, senam tangan, senam jari, senam perut dan senam kaki. Masing-masing senam itu tujuh gerakan ada yang delapan, nah di situlah senam ini pondasi dalam Thifan ini, gerakan lainnya ibarat bangunan itu kalau pondasi yang enggak kuat roboh dia. Senamnya enggak ada atau senamnya sedikit maka bangun atas robo iya senam sentai kemudian yang kedua itu pertama yang kedua itu kenla...
Tribun Jambi: Kenla itu?
Kang Cas: Kenla itu bahasanya,artinya kelincahan atau ketangkasan.Kelincahan ini terdiri dari lompat-lompat,loncat,jatuh,jatuh berguling ke depan,ke belakang,jatuh ke samping kanan dan kiri.Mungkin ada loncat kangguru,loncat harimau,dan lain-lain.Kemudian itu untuk melatih fisik juga.Artinya ketangkasan kita,ketepatan kita dalam bergerak.Kemudian ada namanya Taw.
Tribun Jambi: Oke,baru dia ke Taw ini ya?Baru ke jurusnya?
Kang Cas: Baru ke jurus.Kemudian jurus ini ya pukulan.Tadi Suhu Aris menyampaikan ada 200 jurus.
Tribun Jambi: 200 jurus ya?
Kang Cas: 200 jurus semuanya.Jadi sampai tingkat 12 dan itu makan waktu yang lama,sekitar 9 tahun.
Tribun Jambi: Berarti Thifan ini tidak serta-merta hanya gerakan silat ya.Ada lengkap semua di sana ya.Ada senamnya,ada latihan kelincahan badan,terus juga baru ada jurus-jurusnya.Gitu,luar biasa.
Kang Cas: Kemudian ada juga namanya Turgul.
Tribun Jambi: Apa Turgul?
Kang Cas: Turgul ini artinya pertarungan.Pertarungan antara murid.Jadi melatih pandangan.Kalau kita tanpa Turgul,pas berhadapan dengan musuh kita enggak pernah uji coba.Betul.Kita uji coba,tangkisan-tangkisan,serangan,tinju,tendangan.Jadi lengkap.Di Thifan itu juga ada kuncian.
Tribun Jambi: Oke,itulah yang membuat saya tertarik.Ada juga sebagian bela diri yang khusus tangan saja.Misalnya kakinya kurang.Ada juga yang lebih kepada gerakan kaki,tangannya kurang.Kalau di Thifan ini rata semua ya?Lengkap semua?
Kang Cas: Lengkap semua.
Tribun Jambi: Nah Guru,boleh enggak sih?Kan ada 200 jurus.Berarti Guru sudah menguasai semua tuh?
Suhu Aris: Kurang lebih sudah.Sudah banyak lah,sudah banyak tahu.
Tribun Jambi: Apa sih pembeda atau ciri khas gerakannya?Ada enggak sih Thifan ini,Guru,dibanding silat-silat yang lain?
Suhu Aris: Memang silat seperti silat yang lain.Sama,seperti ada jurus harimau,jurus bangau,jurus naga.Kalau di Thifan ini lengkap.Pak,kalau di sini ada namanya jurus rangka.Jurus rangka itu condong ke gulat.Pada tingkat-tingkat pendekar.Di tingkat atas diajarkan jurus bawah.Jurus rangka itu tadi,jurus berguling,salto ke belakang,kuncian,belitan,jurus gurita.
Tribun Jambi: Gini Guru,kalau misalkan di karate kan ada kata satu,kata dua,kata tiga gitu kan.Kalau di Thifan itu seperti apa?Di tingkat satu?
Suhu Aris: Oh,itu malah di tingkat pertama.Tingkat satu,tingkat awal.
Tribun Jambi: Oke,kayaknya Guru kesulitan kalau tanpa gerakan nih.Boleh enggak dipraktikkan Guru?Yang seperti karate ya.Yang tingkat satu aja Guru,jangan langsung tingkat 200.Bahaya,bisa enggak muat studio kita.Jadi Tribuners,ini adalah contoh gerakan dari Thifan Po Khan ya Guru.Ini tingkat berapa Pak?
Suhu Aris: Ini tingkat satu.
(Memperagakan gerakan.)
Tribun Jambi: Oke,itu harimau berarti ya?Sangar sekali ya.Boleh duduk lagi Guru.Saya lihat ekspresi Guru aja sudah takut.Nah,dari tadi Guru sampaikan bahwa ada 12 tingkatan.Yang paling susah gerakannya di tingkatan berapa Guru?
Suhu Aris: Susahnya itu tingkat ke atas Pak.Karena kita ini belajarnya sudah tua.Untuk melenturkan tubuh itu susah.Seperti sambo,judo,itu tingkat ke atas.
Tribun Jambi: Oh gitu.Guru,sebelumnya sudah pernah mengenal silat juga kah atau baru mengenal silat?
Suhu Aris: Silat itu waktu SD.Namanya Silat Bintang Putih.
Tribun Jambi: Nah,yang menurut Guru paling berbeda di Thifan Po Khan ini apa?
Suhu Aris: Thifan itu lengkap.Lebih lengkap.Saya pernah juga di taekwondo.Tendangan banyak juga di Thifan.
Tribun Jambi: Oke,berarti lebih kompleks ya Thifan?
Suhu Aris: Iya.Karena dulunya ini dipakai untuk ilmu perang.
Tribun Jambi: Oh iya,awalnya untuk perang ya.Oke.Kembali ke Bapak Pembina,saya bilangnya ya Bang.Ketua Umum ya.Ketua Umum,apa yang Abang lihat dari Thifan Po Khan ini untuk ke depannya seperti apa?Apakah akan terus dikembangkan ke pesantren atau seperti apa pengembangannya nanti?
Kang Cas: Pengembangan tetap.Karena sesuai dengan wakaf dari ulama,bahwa ini dikhususkan kepada kaum muslimin.Jadi tujuan kami supaya Thifan ke depannya menjadi bela diri terdepan bagi kaum muslimin di bawah naungan Negara Indonesia,dan masuk ke pondok-pondok pesantren serta sekolah Islam terpadu yang ada di Indonesia.
Tribun Jambi: Kalau bisa masuk ke kurikulumnya seperti itu ya?
Kang Cas: Ee,lebih kepada bisa masuk kurikulum dan juga bisa menjadi ekstrakurikuler yang diwajibkan.
Tribun Jambi: Nah,kalau sekarang ini gimana perkembangannya?
Kang Cas: Perkembangan alhamdulillah terus meningkat.Apalagi kami sekarang posisi mengajar anak-anak.
Tribun Jambi: Oh di Anadut?
Kang Cas: Iya,sudah sampai masuk ke sana.
Tribun Jambi: Nah,Guru sendiri baru satu kah atau ada lagi nih kandidatnya?
Suhu Aris: Ada lima.
Tribun Jambi: Oh ada lima guru?
Suhu Aris: Ada lima.Semua tetap kami kaderisasi.Jadi sekarang sudah masuk ke tahap sekolah-sekolah.Sebenarnya banyak faktor.Yang lama-lama itu faktor usia.Guru aja sudah ngos-ngosan tadi kan.
Tribun Jambi: Bagian yang tidak kuatnya itu berarti apa yang Guru rasakan dari Thifan Po Khan ini?Untuk fisik sendiri,yang enggak kuat itu apa?
Suhu Aris: Istikamah Pak.Berarti harus setiap hari.Karena kita ini kan sudah berkeluarga,sudah bekerja.Sudah capek kerja,mau mengulang-ulang latihan itu sudah susah.Kurang semangat kalau enggak ada teman.Makanya perlu juga komunitas untuk penyemangat.Untuk mengulang-ulang latihan itu harus setiap hari.Supaya badan tetap pada posisinya.
Tribun Jambi: Nah,untuk ke depannya kan tadi sudah masuk ke sekolah-sekolah.Apakah nanti ada padepokan sendiri?Jadi kalau misalkan ada yang enggak terjangkau,sekolahnya jauh misalnya,sekolah Islam di daerah,apakah bisa datang ke padepokan atau seperti apa?
Kang Cas: Kita tetap ada wacana ke depannya membuka untuk umum.Artinya untuk semua kalangan.Baik usia sekolah,orang yang bekerja,maupun usia 40 tahun ke atas.Tapi kita menyesuaikan.Kalau usia 40 tahun ke atas kita tidak mengejar jurus,tetapi lebih kepada kesehatan.Karena di situ ada senam.Jadi rencana ke depan tetap buka untuk umum.
Tribun Jambi: Rencana di mana itu?
Kang Cas: Rencananya tetap ada dua tempat.Bisa di Anadut,bisa juga di lembaga yang ada di kawasan Simpang Rimbo.
Tribun Jambi: Oh di Simpang Rimbo sana.
Tribun Jambi: Kalau untuk pemerintah kota sendiri,apakah sudah melirik kita Bang?
Kang Cas: Sekarang kami lebih kepada pemerintah provinsi.Kami ini baru tahap sosialisasi,baru pengenalan.
Tribun Jambi: Karena jujur,saya sendiri baru tahu kemarin ketika Bang Hasnul bilang ada silat khusus agama Islam.Wah ini menarik nih.Menurut saya,kebanyakan orang di luar sana juga belum tahu,belum melek.Berarti sudah ke pemerintah provinsi?
Kang Cas: Sudah.Alhamdulillah,pelindung kami di provinsi itu Pak Dr.H.Sudirman,S.H.,M.H.sebagai pelindung.Beliau sekarang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Jambi.Yang kedua Pak H.Ihsan,beliau pembina Yayasan Anadut.Kemudian yang ketiga Dr.Andes H.Ismi Pujaya,M.M.,yang sekarang menjabat sebagai Kepala Badan Kesbangpol.
Tribun Jambi: Nah,selain memperkenalkan ke masyarakat luas,tadi kita juga sempat ngobrol off air soal Silatber ya.Ke depannya bakal ke sana juga?
Kang Cas: Siap.Jadi Silatber itu Silaturahmi Bersama yang kedua.Insyaallah dilaksanakan di Bogor pada tanggal 4 Juli.Silatber itu merupakan gabungan dari lembaga-lembaga yang menaungi Thifan Po Khan se-Indonesia.Arahnya bagaimana supaya Thifan ini semakin maju ke depan dan menjadi wadah prestasi.
Tribun Jambi: Berarti ini kali pertama Thifan Po Khan ikut atau sudah yang kedua kalinya?
Kang Cas: Ini baru rapat rembuk bersama.Sebenarnya Silatber pertama sudah ada.Ini Silatber kedua untuk penguatan kembali,supaya lebih dikenal masyarakat Indonesia.
Tribun Jambi: Berarti Suhu berangkat nih?
Suhu Aris: Berangkat,insyaallah.
Tribun Jambi: Berapa orang dari Provinsi Jambi?
Suhu Aris: Insyaallah enam orang.Enam orang,termasuk pelindung.
Tribun Jambi: Langsung berangkat ke sana dan mempraktikkan jurus-jurus di sana ya?
Suhu Aris: Iya.Di sana mahir-mahir semua mereka.
Tribun Jambi: Nah Guru,saya kan baru nih.Ingin mendalami Thifan Po Khan.Ada saran khusus enggak buat saya?
Suhu Aris: Enggak ada.Cuma dua saja.Yang penting jangan punya penyakit turunan,sama jangan merokok.
Tribun Jambi: Wah,berarti enggak bisa ya.
Suhu Aris: Iya.Karena pernapasan itu sangat berpengaruh.
Tribun Jambi: Nah,kalau untuk dari segi kesehatan,ada enggak gerakannya Guru untuk menjaga kesehatan badan?
Suhu Aris: Untuk kesehatan ya ada.Senam-senam kaki.Kalau yang umur 40 tahun ke atas biasanya senam malam.Ada senam-senam,inilah,senam kejantanan namanya.
Tribun Jambi: Yang guru rasakan sekarang apa setelah mendalami Thifan Po Khan guru dari fisiknya?
Suhu Aris: Ee,dari fisik itu bugar Pak,malah lebih bugar ya.Melakukan aktivitas mau siang,mau pagi,mau malam tetap bugar.Kepala kita kalau sudah merasa badan ngedum sedikit,kita senam aja.Enggak usah jurus-jurus lah,senam aja.Senam di Thifan Po Khan gitu ya,senam aja.Senam kaki,senam kepala,senam pinggang,insyaallah bugar.Kalau malas mendalami bela dirinya,senam aja.
Tribun Jambi: Nah Kang,melihat ini kan besok sudah akan berangkat nih.Di Provinsi Jambi sendiri menurut Akang seperti apa?Apakah sudah ada yang menambah murid kita atau antusiasnya seperti apa?
Kang Cas: Ee,jadi kami baru-baru ini sosialisasi ke Kabupaten Batanghari.Insyaallah di Kabupaten Batanghari itu,di pemerintahan ya,tapi ini persiapan lah ya,pengin di Batanghari ada juga perguruan Thifan Po Khan.
Tribun Jambi: Oh iya.Berarti antusias mereka besar juga ya?
Kang Cas: Besar antusiasnya.Kami belum buka secara umum,karena masih pendalaman.
Tribun Jambi: Wah luar biasa.Berarti antusias dari masyarakat Provinsi Jambi cukup besar.Dan teman-teman Tribuners yang ingin ikut mendalami Thifan Po Khan,ini bisa dikatakan silat lah ya,eh lebih kepada kungfu ya.Kungfu untuk agama Islam ya.Tadi guru juga menyampaikan banyak banget manfaatnya untuk tubuh,terutama pernapasan,dan juga stamina bertambah.Ini ada 12 tingkatan dan 200 jurus.Ditambah lagi Bang?
Kang Cas: Ee,di Thifan Po Khan itu ada juga ramuan-ramuan.
Tribun Jambi: Nah iya,ramuan ini?
Kang Cas: Ramuan tradisional memang ada di Thifan Po Khan juga.Artinya guru-guru Thifan Po Khan juga menguasainya.Ramuan ini untuk penguat fisik.
Tribun Jambi: Ramuan minuman kah atau ramuan gerakan?
Kang Cas: Ramuan minuman.Artinya mengambil dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita.Contohnya seperti temu hitam,temu putih,temu lawak,jahe,kemudian daun sendok.Dari akar-akaran juga ada,seperti akar lalang,akar kelapa,akar pinang,dan akar aren.Itu ada semua.Ada semua ramuannya.
Tribun Jambi: Oh berarti nanti murid-muridnya juga diajarkan ramuan-ramuan itu ya?
Kang Cas: Diajarkan juga.Tapi memang kadang-kadang kan ada hobi.Ada murid yang hobinya kepada jurus,ada juga yang hobinya kepada ramuan.
Tribun Jambi: Oh berarti Thifan Po Khan ini tidak harus ke silatnya,eh kungfunya ya.Tetap,untuk ramuan juga ada pembelajarannya ya.Wah lengkaplah berarti di dalam ini ya.Keren.Mungkin terakhir nih Kang,harapannya untuk Thifan Po Khan sendiri?
Kang Cas: Harapan kami,Thifan Po Khan berkembang di Jambi.Berkembang di Jambi karena ini wakaf dan khusus kepada kaum muslim.Umumnya berkembang di pondok-pondok pesantren dan sekolah Islam terpadu.Untuk olahraganya,mungkin olahraga Thifan ini dari senamnya.Intinya buat pemerintah cepat meliriklah ke sini,biar dapat perhatian juga dari pemerintah provinsi.
Tribun Jambi: Kalau dari guru sendiri mungkin harapannya untuk Thifan Po Khan seperti apa,Guru?Apakah harus ada pengganti saya segera nih?Harapannya untuk generasi muda seperti apa?
Suhu Aris: Untuk kegiatan-kegiatan positif itu ya harus punya pegangan olahraga.Jangan terlalu banyak bergadang,nanti nyesal di kemudian hari.Persiapkan diri kamu,persiapan fisik dan mental.Enggak tahu ke depannya gimana di Indonesia ini kan.Intinya kita harus membekali diri dengan banyak hal.Salah satunya ya dengan kungfu tadi,bela diri.
Kang Cas: Dan ada tambahan juga,Thifan Po Khan ini selain dari seni bela diri,ada budayanya,ada dakwahnya.
Tribun Jambi: Oh ada dakwahnya juga?
Kang Cas: Iya.Kemudian agar generasi berikutnya jangan sampai kehilangan arah.Jadi agama Islam juga diperdalam.Kalau dulu sih Thifan Wali,setiap orang yang ingin naik tingkatan itu harus bertambah hafalan Al-Qurannya.
Tribun Jambi: Oh iya.
Kang Cas: Sekarang juga seperti itu.Kami membentuk bukan dari sisi fisik saja,tetapi juga membentuk akhlaknya supaya menjadi akhlakul karimah.Jadi di Thifan Po Khan ini bukan hanya sekadar silat,kita juga harus mendalami agamanya.Naik tingkatan pun minimal hafalannya harus bertambah.Jadi ketika sudah selesai semua,sudah mantaplah insyaallah akhlaknya.
Tribun Jambi: Luar biasa Tribuners,itu tadi bincang-bincang bersama Bang Casradi dan juga Guru Haris.Mudah-mudahan Thifan Po Khan cepat dikenal oleh masyarakat Provinsi Jambi,khususnya untuk anak muda ya Guru.
Daripada anak muda sekarang baring-baring enggak jelas,nonton media sosial enggak jelas,keliling-keliling malam enggak jelas,mending olahraga.Latihan silat lengkap di sini,hafalannya juga harus bertambah.Pokoknya luar biasa.Terima kasih Kang sudah datang.
Baca juga: 2 Peserta Terbaik Tribun Jambi Academy Batch 1 Tampil di Podcast Mojok, Yayang dan Hawai Semringah