Gubernur Ansar Ahmad Raih Penghargaan Cita Loka Fest 2026 Berkat Revitalisasi Pulau Penyengat
Mairi Nandarson June 27, 2026 06:39 PM

JAKARTA, TRIBUNBATAM.id - Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad menerima penghargaan Anugerah Daerah Terbaik dalam Pengembangan Ekonomi Berbasis Budaya pada ajang Cita Loka Fest 2026 yang diselenggarakan Tribun Network di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Ajang yang mengusung tema "Menguatkan Akar untuk Indonesia Asri" itu menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, hingga pelaku UMKM dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, CEO Tribun Network Dahlan Dahi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Kepri Ansar Ahmad, perwakilan PT Superior Prima Sukses, serta sejumlah kepala daerah dan penerima penghargaan lainnya.

Penghargaan kepada Ansar Ahmad diberikan atas keberhasilan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam merevitalisasi Pulau Penyengat sebagai pusat pelestarian budaya Melayu sekaligus penggerak ekonomi berbasis pariwisata dan sejarah.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Restuardy Daud.

Usai menerima penghargaan, Ansar menyampaikan apresiasi kepada Tribun Network yang telah memberikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Tribun Network atas penghargaan ini. Mudah-mudahan penghargaan ini menjadi pemantik semangat bagi kami untuk terus melanjutkan karya-karya terbaik. Penghargaan ini juga kami dedikasikan untuk seluruh masyarakat Kepulauan Riau yang kami cintai," ujar Ansar.

Dalam kesempatan itu, Ansar menjelaskan Pulau Penyengat merupakan salah satu dari 2.028 pulau yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau. 

Menurutnya, berbagai aktivitas pelestarian budaya di pulau tersebut tidak hanya bertujuan menjaga warisan budaya, tetapi juga mendukung pengembangan sektor pariwisata.

"Kepri merupakan salah satu dari tiga besar destinasi wisata di Indonesia. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2.157.000 orang, sedangkan wisatawan nusantara mencapai 4,3 juta orang. Karena itu, pengembangan budaya kami jadikan bagian penting dalam transformasi ekonomi Kepri," kata Ansar Ahmad.

Ansar mengatakan Pulau Penyengat hanya berjarak sekitar dua mil dari Tanjungpinang dengan luas sekitar 90 hektare dan dihuni lebih dari 2.800 jiwa. 

Meski kecil, pulau tersebut memiliki sejarah besar sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, Johor, Pahang, hingga Temasek pada awal abad ke-19.

Ia menjelaskan, setelah penandatanganan Traktat London tahun 1824, wilayah kerajaan tersebut kemudian terpisah menjadi bagian Indonesia, Malaysia, dan Singapura sesuai pembagian wilayah kolonial Belanda dan Inggris.

Menurut Ansar, Pulau Penyengat juga menjadi pusat perkembangan sastra Melayu yang dipelopori Raja Ali Haji, tokoh yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional di bidang sastra.

"Di Pulau Penyengat berkembang para penulis hebat. Saat itu sudah ada percetakan dan kelompok penulis yang dikenal sebagai Rusydiah Club. Karena itulah Pulau Penyengat dijuluki Bustan Al-Katibin atau pulau para penulis," ujar mantan Bupati Bintan 2 periode itu.

Ansar menuturkan perjuangan Raja Ali Haji dan para sastrawan berhasil mengangkat bahasa Melayu dari bahasa pergaulan menjadi bahasa pemerintahan, bahasa surat-menyurat, hingga melahirkan berbagai karya penting seperti kamus dan tata bahasa Melayu modern.

"Buku-buku itulah yang kemudian menjadi salah satu referensi penting ketika bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa nasional Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928," katanya.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa Raja Ali Haji, Pemerintah Provinsi Kepri akan membangun Museum dan Monumen Bahasa Nasional Indonesia di Pulau Penyengat dengan anggaran sekitar Rp101 miliar.

"Insyaallah Agustus nanti kami mulai groundbreaking pembangunan museum ini. Harapan kami, pada peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda tahun 2028 nanti museum tersebut sudah menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah bahasa Indonesia," ucap Ansar.

Ansar juga mengungkapkan revitalisasi Pulau Penyengat telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing secara signifikan. 

Pada 2021 hanya sekitar 4.190 wisatawan asing yang datang, sedangkan pada 2025 jumlahnya mendekati 50 ribu kunjungan.

"Kenaikannya hampir 700 persen. Kami berharap monumen bahasa nantinya menjadi salah satu penggerak utama peningkatan kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat," katanya.

Selain membangun berbagai situs sejarah, pemerintah juga telah memperbaiki infrastruktur dasar seperti jalan lingkungan, kawasan permukiman, balai adat, sistem pengolahan air bersih melalui reverse osmosis, interkoneksi listrik, hingga pengelolaan sampah.

Pemerintah Provinsi Kepri juga terus mengembangkan berbagai agenda budaya di Pulau Penyengat, seperti Festival Gurindam 12, Festival Raja Ali Haji, Festival Zapin, Festival Silat Serumpun, Festival Penyengat Heritage, Festival Seribu Ketupat, Festival Mandi Safar, hingga International Moon Run yang melibatkan peserta dari berbagai negara.

Ansar menambahkan, nama Raja Ali Haji ternyata telah mendapat pengakuan dunia. Bahkan, patung Raja Ali Haji berdiri berdampingan dengan tokoh sastra dunia seperti William Shakespeare, Rabindranath Tagore, dan Du Fu di Culture Park, Turkmenistan.

Ia juga menyebut Pulau Penyengat telah mengantarkan Kepri meraih berbagai penghargaan, di antaranya pengakuan Pantun sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada 2022, Juara I Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023, serta Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024.

Selain sektor budaya, Ansar menyampaikan sejumlah capaian pembangunan Kepri. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2025 mencapai 6,94 persen dan meningkat menjadi 7,14 persen pada triwulan pertama 2026.

Menurutnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri juga mencapai 80,53 poin pada 2025 sehingga masuk kategori sangat tinggi dan sejajar dengan DKI Jakarta serta Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menutup sambutannya, Ansar mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga warisan budaya sebagai fondasi pembangunan daerah.

"Lestarikan adat, jaga budaya. Jika kebaikan terus kita tanamkan, insyaallah kebaikan pula yang akan kita petik di masa depan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto memberikan apresiasi terhadap komitmen Gubernur Ansar Ahmad dalam membangun Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.

"Tadi Pak Gubernur banyak bercerita tentang peradaban dan kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat, termasuk rencana pembangunan Museum Bahasa di sana. Ini langkah yang sangat baik. Perlu riset yang kuat tentang kiprah Raja Ali Haji sebagai tokoh yang berjasa terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Gurindam Dua Belas adalah warisan yang luar biasa, tetapi generasi muda hari ini belum tentu mengenalnya. Karena itu, upaya mengangkat kembali sejarah dan pemikiran Raja Ali Haji sangat penting untuk masa depan bangsa," kata Bima Arya.

Sebagai penutup, Bima Arya berharap penghargaan yang diberikan melalui Cita Loka Fest 2026 dapat menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus menghadirkan inovasi pembangunan yang berakar pada budaya lokal. 

Menurutnya, pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya menjaga identitas bangsa, tetapi juga mampu menjadi kekuatan baru dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.