Pawon OSH Buat Inovasi Jamu Kekinian yang Tembus Pasar Modern Hingga Dilirik Selandia Baru
Karunia Rahma Dewi June 27, 2026 06:39 PM

TRIBUNBATAM.id - Jamu sering kali diidentikkan dengan minuman tradisional yang pahit, kuno, dan hanya disukai oleh generasi tua. 

Namun, di tangan Fatmiyatun Zuliyani (35), pemilik usaha Pawon OSH di Yogyakarta, citra jamu berhasil diubah total. 

Melalui berbagai inovasi produk seperti kunyit latte dan secang latte, ia sukses membawa jamu masuk ke pasar anak muda hingga dilirik pasar internasional.

Perjalanan Pawon OSH dimulai saat badai pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020. 

Perekonomian keluarga ibu dua anak itu ikut terdampak karena bengkel usaha suaminya sepi peminat. Di sisi lain, ia harus menghidupi bayinya yang baru berusia 2 tahun.

Meski hanya lulusan SMA jurusan IPS dan sempat bekerja di bagian accounting yang tidak ada hubungannya dengan dunia kuliner, Fatmiyatun menolak untuk menyerah. 

Ia sempat berjualan siomay ikan sebelum akhirnya fokus mengembangkan minuman herbal tradisional.

Nama OSH sendiri diambil dari bahasa Jepang, yaitu Oshinabu. Secara filosofis, kata ini memiliki makna yang mendalam yaitu sikap pantang menyerah, ketekunan, dan saling menghormati antar sesama.

"Saya cuma berharap, saya boleh gagal tapi anak saya jangan. Jadi besok kalau anak saya pengen sekolah tinggi, saya bisa memfasilitasi mereka," ungkap Fatmiyatun, pada Rabu (17/6/2026).

Inovasi Bisnis

Pada awalnya, Pawon OSH memproduksi jamu dalam bentuk serbuk instan tradisional seperti jahe kunyit, temulawak, beras kencur, dan jahe secang. 

“Resep serbuk jamu itu saya bayangin sendiri sambil dicatat, sudah melewati beberapa kali kegagalan. Sampai akhirnya dapat komposisi yang pas.”

Setelah itu, produk ini dititipkan ke berbagai toko dengan sistem konsinyasi. Namun, sistem ini memiliki risiko retur yang tinggi dan perputaran modal yang lambat.

"Kirim 10, laku 2. Kirim 20, laku 2 lagi. Returannya lumayan banget. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya agar perputaran barang bisa cepat," kenangnya.

Titik balik terjadi saat Fatmiyatun mengikuti sebuah kompetisi usaha dan berkesempatan membuka booth di ajang Jogja Fashion Week yang digelar di Jogja Expo Center (JEC). 

Sadar bahwa target pasarnya adalah anak muda yang menganggap jamu itu pahit, ia melakukan inovasi radikal pada menunya.

Ia mengubah bahan jamu tradisional menjadi minuman kekinian siap minum hingga lahirlah menu unik seperti Kunyit Latte dan Secang Latte dingin.

"Paham kan, orang-orang biasanya minum jamu panas, kita buat versi es. Ternyata malah jadi best seller. Anak-anak muda suka, rasanya enak, jahe dan rempahnya tidak terlalu strong," tambahnya.

Pawon OSH menjual berbagai macam jamu kekinian.
Pawon OSH menjual berbagai macam jamu kekinian.

Menjaga Kualitas Produk dan Legalitas Usaha

Meskipun menggunakan alat portable yang sederhana untuk memarut bahan baku seberat 2 sampai 3 kilogram selama 1 jam, Fatmiyatun sangat menjaga kualitas produksinya. 

Semua empon-empon dicuci bersih, diambil sarinya, lalu dimasak bersama kondimen rempah kaya khasiat seperti sereh, kayu manis, dan cengkeh hingga menjadi serbuk.

Demi efisiensi, sisa saringan yang agak kasar (Grade B) tidak dibuang begitu saja, melainkan ia manfaatkan untuk diseduh langsung di usaha angkringan miliknya.

Sementara untuk produk premium dikemas dalam saset (1 pak berisi 5 saset ukuran 25 gram) yang dijual seharga Rp25.000.

Sebagai pelaku UMKM yang serius "turun ke medan perang", Fatmiyatun juga melengkapi usahanya dengan legalitas resmi. 

Pada tahun 2021, ia berhasil mengantongi izin PIRT dan Sertifikasi Halal. 

Berkat legalitas ini, produk Pawon OSH berhasil masuk ke jaringan retail besar seperti Batik Hamzah (Mirota) hingga Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).

“Saya ingin produk Pawon OSH ini memiliki legalitas, konsumen yakin kalau ini aman dan layak dikonsumsi.”

Sempat Kirim Sampel ke New Zealand

Kualitas minuman rempah Pawon OSH terbukti diakui luas.

Fatmiyatun bahkan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengirimkan sampel produk gratis ke Selandia Baru (New Zealand). 

Respons di sana sangat positif karena tingginya minat masyarakat luar negeri terhadap minuman rempah. 

Namun, kendala ongkos kirim yang lebih mahal dari harga produk membuat ekspor mandiri ditunda terlebih dahulu.

“Pernah juga saya dapat kesempatan kirim sampel gratis Ke New Zealand. Ini yang ini Sama yang jahe di sana itu peminatnya banyak karena minuman rempah. Cuma itu terkendala di ongkos kirimnya ngeri lebih mahal dari produknya sendiri.”

Mengikuti saran dari Kepala Dinas Perdagangan setempat, Fatmiyatun memilih untuk fokus memperkuat pasar lokal terlebih dahulu. 

Demi memenuhi permintaan lokal yang semakin melonjak serta memisahkan ruang produksi jamu dari bisnis catering dan kue kering miliknya, Fatmiyatun memberanikan diri mengambil KUR (Kredit Usaha Rakyat) BRI sebesar Rp50 juta.

Dana tersebut ia gunakan untuk modal produksi dan membangun rumah dua lantai sebagai dapur khusus jamu yang higienis. Strategi keuangannya pun sangat disiplin.

"Pendapatan sekarang per hari bisa Rp1,5 juta dari angkringan dan jamu. Nanti saya sisihkan Rp100 ribu setiap hari. Alhamdulillah kini KUR BRI sudah lunas, tinggal mengembangkan bisnis dan terus berinovasi," kata Fatmiyatun lega.

Saat ini, ia bahkan sudah memperluas jangkauan bisnis dengan bekerja sama menyediakan layanan katering, pembuatan kue kering, dan angkringan yang tidak jauh dari rumahnya.

Fatmiyatun Zuliani sedang berjualan angkringan dengan merek Pawon OSH.
Fatmiyatun Zuliani sedang berjualan angkringan dengan merek Pawon OSH.

Ragam Manfaat Jamu

Inovasi yang dilakukan Pawon OSH sejalan dengan upaya melestarikan jamu yang telah turun-temurun selama lebih dari 1.300 tahun.

Menurut Anisatu Z Wakidah, Dosen Tadris Biologi UIN Raden Intan Lampung (Jurai Siwo), jamu bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki khasiat medis yang nyata berdasarkan kandungan senyawanya:

  • Jahe dan Kayu Secang: Mengandung antioksidan kuat seperti brazilin (pada secang) dan gingerol (pada jahe). Sinergi keduanya efektif meningkatkan sistem imun, menangkal radikal bebas, meredakan peradangan/nyeri sendi, serta menghangatkan tubuh.
  • Kunyit: Kaya akan senyawa kurkumin yang berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk menangkal efek buruk radikal bebas.
  • Temulawak: Mengandung kurkumin dan xanthorrhizol yang efektif meningkatkan fungsi pencernaan, memelihara kesehatan liver (hati), meredakan nyeri sendi akibat osteoartritis, serta menambah nafsu makan.

“Jamu sendiri kini telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, membuktikan bahwa ramuan asli Indonesia ini memiliki nilai sejarah dan medis yang kuat," jelas Anisatu.

Melalui perpaduan antara khasiat kesehatan warisan leluhur dan kreativitas penyajian modern, Pawon OSH membuktikan bahwa jamu bisa naik kelas, disukai generasi muda, dan memiliki potensi bisnis yang sangat menjanjikan.

(TribunBatam.id/Khistian Tauqid)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.