Pemilik Kapal Laskar Pelangi dan Staf Desa Keciput di Belitung Belum Tahu  Guru Muslimah Wafat
Fitriadi June 27, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Alvin Aditiya (15), pemilik kapal boat Laskar Pelangi di Pulau Kelayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ternyata belum tahu jika Muslimah Hafsari (1952-2026), wafat Sabtu (27/6/2026) di Desa Gantung, Belitung Timur.

"Belum tahu Bang," ujar Alvin, kepada Tribun seusai menambatkan kapal wisatanya di pantai Pulau Kelayang, sekitar 32 km utara Tanjung Pandan, ibu kota Kabupaten Belitung, Sabtu (27/6/2026) siang.

Siswa kelas VIII SMPN I Sijuk, Belitung baru tahu kabar duka wafatnya guru Muslimah, saat dikonfirmasi Tribun.

Baca juga: Breaking News: Bu Muslimah Tokoh Legendaris Film Laskar Pelangi Berpulang

Dia tengah membantu ayahnya, Harun (52) menggulung tali kapal "Laskar Pelangi" saat kabar duka itu sampai.

Bu Muslimah, guru SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur, yang juga ada di dalam tetralogi Laskar Pelangi.
Bu Muslimah, guru SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur, yang juga ada di dalam tetralogi Laskar Pelangi. (Kompas.com/Kurnia Sari Aziza)

Dia mengaku sudah beberapa kali menonton film adaptasi novel Andrea Hirata ini, dan mengaku amat berduka.

Nama Laskar Pelangi ditulis di lambung kapal buatan ayahnya, sebagai penghormatan atas film yang memperkenalkan wisata pasir putih kampung kelahirannya.

Kapal motor kayu itu bermesin truk TS 120. 

Saban akhir pekan, kapal Laskar Pelangi ditransportasi wisatawan lokal, menikmati destinasi pantai, dan jejak film Laskar Pelangi di Belitung.

Saat film Laskar Pelangi dibuat, 2007-2008, dia belum lahir. 

Kapal Laskar Pelangi adalah perahu wisata. Kapal ini dibuat 12 tahun lalu, atau enam tahun setelah film Laskar Pelangi tayang dan jadi film dengan penonton terbanyak di Indonesia, 4,8 juta.

Sekitar 38 persen sekuel film Laskar Pelangi, memilih Desa Sijuk, Pulau Kelayan, gugus Batu Garuda, sebagai venue film garapan Mira Lesmana dan Riri Riza itu.

Saat kabar duka ini dia dengar, jenazah Muslimah Hafsari, masih disemayamkan di Desa Gantung, Belitung Timur.

Jarak antara Desa Gantung di timur ke Desa Keciput sekitar 82 km. 

lihat foto
Rute dari Desa Gantung ke Desa Keciput Kabupaten Belitung.

Desa Gantung, kampung halaman Ibu Mus berada di Kabupaten Belitung Timur. 

Sedangkan Desa Keciput berada di utara dan secara administratif masuk wilayah kabupaten Belitung.

Butuh berkendara sekitar 3,6 jam perjalanan darat dari Gantung ke Keciput, melewati Bandara Internasional HAS Hanandjoedin (TJQ) dan jalan poros Tanjung Pandan, ke pesisir utara, pulau berpenduduk 31 ribu jiwa ini.

Duka serupa juga disampaikan terpisah Leli (22).

Staf Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Belitungi ini, mengaku juga sangat mengidolakan Ibu Mus.

Seperti Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi, Leli juga amat mengidolakan guru SMP Muhammadiyah Gantung itu.

Seperti Alvin, Leli juga sudah beberapa kali menyaksikan film drama musikal remaja itu.

Saat film Laskar Pelangi digarap di kampungnya, Leli masih duduk di bangku kelas 2 SDN Sijuk, Tanjung Pandan.

Selepas kuliah di Belitung, Leli kini jadi staf honorer di Kantor Desa Sijuk. 

Di akhir pekan atau di masa liburan, Leli membantu ibunya memasak, membersihkan ikan, di kedai UKM Pulau Kalayang.

Dia tinggal bersama ibunya di Kampung Kalayang, Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, pulau utama Belitong.

Butuh 15 menit naik kapal boat dari Pantai Desa Keciput ke Pulau Kelayan.

Sekitar 50 meter dari Pulau ini ada gugus batu granit raksasa. Salah satunya, Batu Garuda di dekat Kampung Tanjung Batu Banyak.

Bebatuan granit di pantai Pulau Belitung.
Bebatuan granit di pantai Pulau Belitung. (Tribun Timur/Thamzil)

Dinamai Batu Garuda, sebab sekilas dari laut bentuk batu raksasa itu mirip patuk dan kepala Burung Garuda, lambang negara Indonesia.

Batu di pinggir pulau ini kerap jadi background foto para wisatawan.

Saat Tribun transit di pulau Kelayan pada Sabtu siang, setidaknya ada 200-an wisatawan domestik dan internasional mampir dan istirahat di pulau berpasir putih ini.

Selain Batu Garuda di sisi selatan pulau, juga ada Gua Kalayan. Gua ini terbentuk dari dua gugus batu datar, beralas air laut dan bisa dilalui perahu sampan ukuran kecil.

Sejak 17 tahun lalu, setelah film
Laskar Pelangi booming di Indonesia, Kampung di pesisir utara Belitung itu, jadi destinasi wisata andalan gugus kepulauan batu granit itu.

Tak jauh dari rumah Leli, sepotong pantai menjorok ke laut dinamai Pantai Laskar Pelangi.

Di pantai inilah, para pemain film
Laskar Pelangi syuting, beristirahat saat syuting 19 tahun lalu.

Menumpang popularitas film Laskar Pelangi, sekitar 10 ribu warga dan gugus kampung, pantai dan desa penghasil durian, rambutan dan langsat ini, mulai hidup.

Di kampung ini setisaknya ada tiga hotel dan resort berbintangempat untuk wisatawan; Hotel Santika Indonesia, Dafam Resort dan Lor Inn Resort.

Hotel Santika dibangun tahun 2017 misalnya, menghadap langsung ke pantai Kalayan dan gugus puluhan batu granit utara Pulau Belitung.

Pantai yang sering disebut sebagai "Pantai Laskar Pelangi" sebenarnya adalah Pantai Tanjung Tinggi, yang terletak di Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Pantai ini mulai dikenal luas setelah menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi pada tahun 2008. 

Dengan pasir putih yang lembut dan formasi batu granit raksasa yang unik, pantai ini menjadi salah satu destinasi unggulan di Belitung dan menarik banyak wisatawan yang ingin menikmati keindahan alamnya.

Akses menuju Pantai Tanjung Tinggi cukup mudah, dengan jarak sekitar 31 km dari Tanjung Pandan, ibu kota Kabupaten Belitung. 

Wisatawan dapat menempuh perjalanan menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga satu jam.

Sebagai ikon wisata Belitung, Pantai Tanjung Tinggi menjadi pilihan utama bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan eksotis sambil mengenang kisah inspiratif dari novel dan film Laskar Pelangi.

Nama Pantai Laskar Pelangi terinspirasi dari novel terkenal karya Andrea Hirata yang kemudian diadaptasi menjadi film berjudul sama.

Novel ini mengisahkan perjuangan sekelompok anak dari Belitung dalam meraih mimpi mereka meskipun hidup dalam keterbatasan.

Kesuksesan novel dan filmnya membawa dampak besar terhadap pariwisata Belitung, termasuk menjadikan pantai ini sebagai destinasi wisata populer.

Sebelum dikenal dengan nama Pantai Laskar Pelangi, pantai ini hanya dikenal sebagai salah satu pantai indah di Belitung yang belum banyak dikunjungi wisatawan. Namun, setelah film "Laskar Pelangi" dirilis pada tahun 2008, pantai ini mulai menarik perhatian banyak orang.

Keindahannya yang khas dengan batuan granit raksasa dan pasir putih yang lembut semakin memikat para wisatawan untuk datang dan menikmati suasana pantai yang eksotis. (Tribun Network/Thamzil Thahir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.