TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan pernyataan blak-blakan yang menarik perhatian publik di sela-sela agenda penataan ruang publik.
Dedi menyampaikan permohonan maaf karena dirinya selaku kepala daerah tingkat provinsi harus turun langsung mengurusi masalah eksekusi bangunan liar (bangli) di wilayah perkotaan.
Sentilan halus tersebut terlontar saat Pemerintah Provinsi Jawa Barat gencar melakukan pembersihan ratusan bangunan tanpa izin di sepanjang ruas jalan provinsi dan nasional, yang kali ini berpusat di kawasan Pasir Koja, Kota Bandung.
Secara aturan normatif, penertiban tata ruang kota, pasar tumpah, dan pedagang kaki lima merupakan ranah kerja pemerintah daerah di tingkat kota maupun kabupaten melalui aparat Satpol PP setempat.
Namun, melihat estetika kota yang kian semrawut, Dedi memilih mengambil alih komando penataan.
Baca juga: KONDISI TERKINI Cicadas: Trotoar Bersih dan Terang, Pemkot Bandung Bidik Target 2026
"Mohon maaf ya, saya ngurusin bangli (Bangunan liar) sekarang. Mohon maaf banget, sebenarnya bukan tugas Gubernur ya," ujar Dedi Mulyadi saat meninjau lokasi pembongkaran, Rabu (24/6/2026) lalu.
Meski demikian, Dedi menegaskan langkah tegas ini terpaksa diakselerasi oleh Pemprov Jabar demi menyelamatkan wajah tata kota dan membebaskan masyarakat dari kejenuhan polusi visual.
Operasi "bersih-bersih" yang diinisiasi Dedi Mulyadi ini dipastikan berskala masif dan tidak akan berhenti di satu titik saja.
Di kawasan Pasir Koja sendiri, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jawa Barat melaporkan sedikitnya 174 bangunan liar di sisi kanan dan kiri jalan telah diratakan dengan tanah.
Pihak Pemprov Jabar bahkan mengerahkan hingga 70 personel gabungan dibantu empat truk besar guna mengangkut sisa puing material.
Sebelum Pasir Koja, proyek pembersihan serupa telah sukses menyasar beberapa titik krusial lain:
Gubernur memastikan penertiban lewat pendekatan persuasif ini akan langsung diikuti oleh proyek pemulihan fungsi infrastruktur agar lahan kosong tidak kembali diokupasi oleh oknum tak bertanggung jawab.
Khusus untuk Pasir Koja yang menjadi salah satu pintu gerbang utama keluar-masuk wisatawan via jalur tol, Pemprov Jabar telah menyiapkan anggaran untuk membangun drainase modern, trotoar ramah pejalan kaki, lampu lalu lintas, hingga ruang terbuka hijau.
"Pasir Koja kini terus ditata. Kita konsen pada pengembalian fungsi dan tentu saja polusi visual yang seringkali menambah tingkat stres. Pasir Koja beres, trotoar beres, taman beres, (lokasi) geser lagi," pungkas Dedi optimis. (*)