Jakarta (ANTARA) - Komunikator Kesehatan Kalbe Nutritionals dr. Laurencia Ardi, M.Gizi, AIFO-K, FISQua menyampaikan bahwa alergi protein susu sapi dan intoleransi laktosa pada anak membutuhkan penanganan yang berbeda.
Sebagaimana dikutip dalam siaran pers Kalbe yang diterima di Jakarta pada Sabtu, ia mengatakan bahwa penyebab kedua masalah itu berbeda.
"Alergi protein susu sapi melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi laktosa berkaitan dengan kemampuan tubuh mencerna laktosa," katanya.
Kalau tidak ditangani dengan baik, ia mengatakan, alergi protein susu sapi dapat berdampak pada kualitas hidup anak.
Gejala alergi yang muncul secara berulang dapat mengganggu kenyamanan anak saat beraktivitas maupun beristirahat.
Menurut dr. Lauren, ketidaknyamanan itu bisa membuat anak mengalami penurunan nafsu makan, yang dalam jangka panjang dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi hariannya.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak dengan alergi protein susu sapi.
"Pemilihan sumber lemak yang tepat menjadi bagian dari strategi pemenuhan gizi pada anak dengan alergi protein susu sapi," kata dr. Lauren.
Ia mengatakan bahwa anak dengan alergi protein susu sapi memerlukan lemak berkualitas seperti Medium Chain Triglycerides (MCT), lemak rantai sedang yang lebih mudah dan lebih cepat diserap tubuh, untuk memenuhi kebutuhan energi.
Selain itu, ia melanjutkan, anak dengan alergi protein susu sapi membutuhkan asupan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral dari bahan makanan yang aman untuk tumbuh kembangnya.
Menurut dia, pemenuhan kebutuhan asam amino esensial, asam lemak omega 3 dan omega 6, serta zat gizi mikro anak dengan alergi protein susu sapi juga perlu diperhatikan.
Dokter Lauren mengatakan, orang tua bisa memperkenalkan jenis makanan baru kepada anak untuk mengamati kemungkinan anak alergi pada jenis makanan tertentu.
Pengenalan jenis makanan baru, menurut dia, bisa dilakukan dengan menerapkan 3-Day Wait Rule, yakni memberikan satu jenis makanan baru selama tiga hari berturut-turut sebelum memperkenalkan jenis makanan lainnya.
Orang tua bisa membuat food diary, mencatat jenis makanan yang dikonsumsi anak dan respons yang muncul setelahnya.
"Hal yang terpenting adalah melakukan observasi, mencatat makanan yang dikonsumsi anak serta memperhatikan gejala yang muncul setelahnya," kata dr. Lauren.
Gejala alergi bisa muncul pada saluran cerna, kulit, maupun saluran pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap anak.
"Orang tua tidak perlu panik apabila menemukan gejala yang dicurigai sebagai alergi pada anak," kata dr. Lauren.
Kalau mendapati gejala yang mengkhawatirkan setelah anak mengonsumsi jenis makanan tertentu, dia mengatakan, orang tua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar anak bisa mendapat penanganan yang dibutuhkan.





