FSTVLST Ungkap Proses Kreatif Album 'Paradoks Diametral', dari Kepekaan hingga Eksplorasi Bermusik
Muhammad Fatoni June 27, 2026 08:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah album tidak hanya lahir dari proses rekaman di studio, tetapi juga dari perjalanan panjang yang melibatkan pencarian ide, diskusi, hingga refleksi terhadap berbagai persoalan di sekitar.

Hal itu tergambar dalam sesi berbagi bertajuk sharing session album 'Paradoks Diametral' yang menghadirkan dua personel FSTVLST, Danish Wisnu (drum) dan Humam Mufid (bass), di Tepian House, Rabu (24/6/2026).

Dalam forum yang digelar Prodvokatif bersama Musikjogja tersebut, keduanya mengulas proses kreatif di balik album ketiga FSTVLST sekaligus berbagi cerita mengenai cara mereka memaknai lagu lagu yang ada di dalamnya.

Salah satu pembahasan mengarah pada lagu 'Objek Vital Nasional' atau OVN yang oleh sebagian pendengar dianggap memiliki kedekatan dengan isu sosial, termasuk persoalan sengketa ruang.

Menanggapi hal itu, Humam Mufid mengatakan seorang musisi perlu terus mengasah kepekaan agar mampu memahami konteks karya yang dimainkan.

"Saya pribadi harus mengasah kepekaan. Menajamkan pikiran. Sebab, kita harus mengerti: kita sedang ngapain, memainkan apa dan bagaimana, agar bisa bertanggung jawab," ujar Mufid.

Menurutnya, memperluas wawasan dan kepekaan menjadi bagian dari proses bermusik.

Dengan begitu, setiap personel dapat memahami gagasan yang ingin disampaikan melalui karya sekaligus bertanggung jawab terhadap musik yang mereka bawakan.

Pembahasan kemudian bergeser pada proses penyusunan lagu 'Jefferson'.

Danish Wisnu mengungkapkan, sejak awal ia sengaja menciptakan pola permainan drum yang mampu memancing ingatan pendengar terhadap suasana tertentu sebelum mereka masuk lebih jauh ke dalam isi lagu.

"Jadi pas orang denger pukulannya, langsung 'oh ini kok mirip ini jadi ini lagu tentang Jogja ya' yang bagi kami sendiri punya arti masing-masing juga," kata Danish.

Baca juga: Shaggydog Rayakan Usia ke 29 dengan Semangat ‘BE29AS’ dan Rilis Video Musik ‘Lodse’

Menurut FSTVLST, setiap lagu dalam 'Paradoks Diametral' memang sengaja dibiarkan memiliki banyak kemungkinan tafsir.

Pendengar bebas memaknai lagu sesuai pengalaman dan sudut pandang masing masing.

Karena itu, satu lagu bisa menghadirkan kesan yang berbeda bagi setiap orang.

Mufid sendiri memandang album tersebut sebagai pemantik untuk memulai sesuatu yang baru dalam kehidupan.

"Saya sendiri memaknai album ini sebagai pemicu seseorang untuk memulai lagi. Apa pun," ujarnya.

Sementara itu, Danish melihat benang merah album tersebut berangkat dari rasa cinta terhadap sesuatu.

Baginya, kecintaan itulah yang membuat seseorang bersedia terus mendalami dan mendiskusikan sebuah karya.

"Kalau aku sih untuk mereka yang jatuh cinta karena kalau bukan karena cinta terhadap sesuatu, musik misalnya, nggak mungkin kita bahas ini sekarang ramai-ramai," sambungnya.

Selama sesi berlangsung, peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pendengar setia FSTVLST, pengelola media independen, komunitas pencinta budaya Jepang, pegiat literasi, kolektif kajian musik populer, hingga penikmat ruang kreatif, turut menyampaikan pandangan mereka terhadap album tersebut.

Beragam respons muncul, mulai dari pembahasan mengenai jarak emosional antara album pertama dan kedua, hingga eksplorasi musikal yang dinilai menghadirkan pengalaman mendengarkan yang berbeda.

Danish menjelaskan, 'Paradoks Diametral' menjadi ruang bagi FSTVLST untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan musikal tanpa kehilangan arah.

Dalam proses produksi, mereka juga melibatkan Iga Massardi sebagai co producer yang berperan menjaga keseimbangan eksplorasi tersebut.

"Iga ngerem kami sehingga apa yang kami lakukan selama produksi adalah aktivitas kolektif yang menyesuaikan kebutuhan," terang Danish.

Album 'Paradoks Diametral' sendiri mulai dikerjakan sejak 2022. Selama hampir empat tahun, FSTVLST tidak hanya menyusun lagu, tetapi juga mendokumentasikan berbagai proses yang mereka lalui selama produksi.

Sebagai penutup, Danish membocorkan rencana FSTVLST untuk mengabadikan seluruh perjalanan kreatif album tersebut dalam sebuah buku.

Tidak hanya berisi cerita di balik layar, buku itu juga direncanakan memuat berbagai arsip produksi, mulai dari catatan sederhana hingga dokumen yang merekam perjalanan lahirnya album.

"Rencananya prosesnya ini akan kami bikin buku. Biasanya kan pakai film dokumenter tapi ada rencana bikin buku. Isinya ya mungkin nota jajan, atau arsip-arsip yang gimana gitu," tutup Danish.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.