Unjuk Rasa Indonesia Sekarat di Surabaya Ricuh: KontraS Minta Polrestabes Bebaskan 24 Orang
Cak Sur June 27, 2026 09:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya mendesak Polrestabes Surabaya segera membebaskan 24 demonstran yang ditangkap saat aksi unjuk rasa "Indonesia Sekarat" di depan Gedung Grahadi, Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Jumat (26/6/2026) malam.

Unjuk rasa yang diinisiasi oleh Front Anti Kapitalisme tersebut berakhir ricuh sekitar pukul 19.00 WIB, setelah aparat kepolisian melakukan tindakan tegas untuk membubarkan massa aksi.

Baca juga: Mahasiswa dan Masyarakat Sipil Tuntut Pembebasan 24 Demonstran di Surabaya

KontraS Desak Pendampingan Hukum dan Pembebasan Massa

Berdasarkan data dari Tim Pendamping Hukum KontraS Surabaya & LBH Surabaya per Sabtu (27/6/2026) pukul 01.26 WIB, sebanyak 24 orang, termasuk satu perempuan, telah diamankan oleh pihak kepolisian.

Tim Advokasi KontraS, Zaldi Maulana, mendesak kepolisian untuk segera melepaskan seluruh massa aksi yang ditangkap paksa tanpa bukti yang jelas tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya hak hukum bagi para demonstran yang ditahan.

"Semua yang tertangkap harus mendapatkan pendampingan hukum yang memadai," ujar Zaldi dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, KontraS juga mendesak Polrestabes Surabaya agar tidak melakukan tindakan kekerasan atau intimidasi terhadap massa aksi yang kini tengah diamankan.

Baca juga: Unjuk Rasa Indonesia Sekarat di Surabaya Ricuh: Polisi Amankan Belasan Orang

DEMO RICUH - Massa unjuk rasa bertajuk
DEMO RICUH - Massa unjuk rasa bertajuk "Indonesia Sekarat", merusak pagar Gedung Grahadi, Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (26/6/2026) malam. Massa merusak pagar sisi barat dan melempar pihak kepolisian dengan batu, sebelum akhirnya diamankan Polrestabes Surabaya. (Surya.co.id/Febrianto Ramadani)

Kronologi Kericuhan Versi KontraS Surabaya

Menurut penjelasan Zaldi Maulana, aksi bermula pada pukul 15.30 WIB. Massa aksi bergerak melakukan long march dari Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya melewati Perempatan Tugu Air Mancur.

Massa sempat berhenti sejenak untuk memasang spanduk besar, sebelum akhirnya bertahan di Pintu Timur Gedung Grahadi.

Selama kurang lebih dua jam, jalannya orasi berlangsung dengan damai dan tertib.

Namun situasi mulai berubah drastis menjelang malam hari:

  • Pukul 19.09 WIB: Polisi mulai mengepung massa dari sisi barat Jalan Gubernur Suryo dengan mobil water cannon, memukul mundur demonstran ke arah Tugu Air Mancur.
  • Penyusupan Aparat: Zaldi menyebut terdapat aparat kepolisian berpakaian preman yang menyamar di tengah kerumunan warga di sekitar Tugu Air Mancur.
  • Penangkapan Massa: Polisi mulai menangkap sejumlah demonstran dan membawanya ke dalam area Gedung Grahadi, dilanjutkan dengan penyisiran hingga area Monumen Bambu Runcing.

Baca juga: Ratusan Massa Gelar Aksi Indonesia Sekarat di Depan Gedung Grahadi Surabaya

UNJUK RASA - Ratusan massa yang tergabung dalam Front Anti Kapitalisme menggelar unjuk rasa bertajuk
UNJUK RASA - Ratusan massa yang tergabung dalam Front Anti Kapitalisme menggelar unjuk rasa bertajuk "Indonesia Sekarat" di depan Gedung Grahadi, Kota Surabaya, Jawa Timur pada Jumat sore (26/6/2026). Massa tidak hanya berorasi, mereka juga mengadakan teatrikal drama, dan membakar sejumlah barang berupa kain bekas di tengah jalan. (Surya.co.id/Febrianto Ramadani)

Polrestabes Surabaya: Tindakan Tegas Demi Keselamatan Publik

Di sisi lain, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, menyesalkan kericuhan yang menodai penyampaian pendapat di muka umum ini.

Pihaknya menyatakan, bahwa tindakan pembubaran terpaksa dilakukan, karena massa mulai bertindak anarkis dan merusak fasilitas publik, termasuk merusak pagar Gedung Grahadi.

"Kami telah memberikan imbauan agar berhenti berbuat kerusakan, tapi massa tidak menggubris dan melempar batu serta botol air mineral," jelas Kombes Pol Luthfie.

Menurutnya, tindakan tegas diambil demi keselamatan masyarakat sekitar.

Kepolisian juga mengonfirmasi tidak ada korban luka-luka, dan tidak ada penggunaan gas air mata dalam pembubaran ini.

"Kami hanya memakai water cannon, itu hanya untuk memadamkan api. Kami hanya mendorong pelan-pelan. InsyaAllah semuanya dalam kondisi sehat," tambah Luthfie.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.