WARTAKOTALIVECOM, Jakarta – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut sempat berada di titik terburuk ketika Washington berupaya menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.
Dalam sebuah buku terbaru berjudul Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump, Trump dikisahkan melontarkan kritik keras kepada Netanyahu.
Bahkan, Presiden AS itu disebut mengatakan bahwa "semua orang Yahudi muak" terhadap pemimpin Israel tersebut dan dirinya telah "lelah dengan perilaku" Netanyahu.
Informasi tersebut diungkap dalam buku karya dua jurnalis senior The New York Times, Maggie Haberman dan Jonathan Swan, yang diterbitkan pada Selasa (23/6/2026) waktu Amerika Serikat.
Buku itu mengulas berbagai dinamika politik pada tahun pertama masa jabatan kedua Trump, termasuk peran Washington dalam mendorong tercapainya gencatan senjata yang mengakhiri perang selama dua tahun di Jalur Gaza.
Menurut isi buku, kemarahan Trump memuncak saat melakukan percakapan telepon dengan Netanyahu pada September 2025.
Percakapan itu berlangsung ketika negosiasi gencatan senjata di Gaza memasuki fase krusial dan Amerika Serikat berupaya mendorong kedua belah pihak mencapai kesepakatan.
Dalam percakapan yang digambarkan berlangsung penuh ketegangan tersebut, Trump menilai Netanyahu tidak memberikan respons yang memadai terhadap berbagai inisiatif diplomatik yang dilakukan Washington.
Penulis buku menyebut Trump merasa frustrasi karena pemerintah Israel dinilai tidak cukup kooperatif dalam mendukung upaya penghentian konflik yang telah berlangsung selama dua tahun dan menimbulkan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
"Semua orang Yahudi muak padanya," demikian pernyataan Trump yang dikutip dalam buku tersebut.
Trump juga disebut mengatakan dirinya "lelah dengan perilaku" Netanyahu.
Pengungkapan tersebut menjadi gambaran terbaru mengenai hubungan yang memburuk antara dua pemimpin yang sebelumnya dikenal memiliki kedekatan politik.
Pada periode pertama kepemimpinannya, Trump dan Netanyahu kerap menunjukkan hubungan yang erat melalui sejumlah kebijakan strategis Amerika Serikat yang menguntungkan Israel.
Namun, menurut Haberman dan Swan, hubungan itu mengalami perubahan signifikan ketika Trump berupaya memainkan peran sebagai mediator untuk menghentikan perang di Gaza.
Ketidaksepakatan mengenai proses negosiasi disebut memicu meningkatnya ketegangan antara Washington dan Tel Aviv.
Buku itu juga menggambarkan bahwa Trump menganggap keberhasilan mencapai gencatan senjata merupakan salah satu prioritas penting dalam kebijakan luar negerinya.
Karena itu, ia merasa kecewa ketika Netanyahu dinilai tidak menunjukkan fleksibilitas yang cukup selama proses perundingan berlangsung.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait isi buku maupun pernyataan Trump yang diungkap kedua penulis tersebut.
Meski demikian, pengungkapan dalam buku tersebut kembali menyoroti dinamika hubungan Amerika Serikat dan Israel yang kerap mengalami pasang surut, terutama ketika kepentingan politik dan strategi keamanan kedua negara tidak lagi sepenuhnya sejalan.