TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK – SMP Negeri 2 Pontianak mulai mengumumkan hasil seleksi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 untuk jalur prestasi.
Dari sekitar 150 pendaftar, hanya 63 calon siswa yang dinyatakan lolos sesuai kuota yang tersedia pada jalur tersebut.
Kepala SMPN 2 Pontianak, Rahmat Putra Yudha, mengatakan saat ini sekolah baru menyelesaikan tahapan jalur prestasi, sedangkan jalur mutasi, afirmasi, dan domisili masih dalam proses pendaftaran.
"Untuk kuota karena saat ini yang baru dibuka aja satu jalur ya. Satu jalur, jalur yang dibuka baru prestasi. Per hari ini kita sudah mengumumkan nama-nama yang masuk. Untuk kuota yang lain seperti Mutasi, Afirmasi, dan Domisili masih dalam proses dan hari ini pembukaan untuk tiga jalur itu," katanya saat di temui tribunpontianak.co.id Sabtu 27 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebanyak 63 peserta diterima melalui jalur prestasi berdasarkan kombinasi nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan prestasi yang dibuktikan dengan sertifikat kejuaraan.
"63 ya calon siswa, resminya yang hari ini kita sudah umumkan itu khusus untuk jalur prestasi. Yang diambil dari nilai TKA dan nilai atau sertifikat kejuaraan. Baik itu seni maupun akademi," ujarnya.
Rahmat mengungkapkan minat masyarakat untuk masuk ke SMPN 2 Pontianak setiap tahun selalu melampaui daya tampung sekolah.
Dengan kapasitas total 254 siswa, jumlah pendaftar biasanya mencapai dua kali lipat sehingga proses seleksi berlangsung cukup ketat.
Baca juga: SPMB SMP Bruder Pontianak Berjalan Lancar, Pendaftaran Resmi Diperpanjang hingga Awal Juli
"Kalau mengacu pengalaman di tahun-tahun sebelumnya SMPN 2 Pontianak itu selalu jumlah peminatnya lebih besar daripada jumlah yang kita miliki, daya tampung total kita itu 254. Namun faktanya jumlah minat untuk masuk ke SMPN 2 Pontianak itu bisa mencapai dua kali lipat. Artinya eliminasi dari setiap jalur tersebut itu selalu ada. Termasuk yang prestasi ini yang mendaftar kurang lebih 150 orang. Yang mampu kita saring akhirnya 63," jelasnya.
Menurutnya, pelaksanaan SPMB tahun ini memiliki sejumlah perubahan dibanding tahun sebelumnya, terutama pada jalur prestasi yang kini mengutamakan nilai TKA sebagai komponen penilaian terbesar.
"Kalau baru dilihat dari prestasi ini ya, belum bisa dilihat secara penuh ya karena baru satu jalur. Tapi kayaknya masih kurang lebih sama dengan yang tahun lalu. Karena prestasi yang tahun ini itu berbeda dengan definisi prestasi tahun lalu. Tahun lalu itu hanya berbekal sertifikat. Kalau sekarang perlu ada memiliki TKA, sertifikatnya juga tidak semua bisa dipakai. Harus yang dikurasi atau divalidasi oleh dinas," katanya.
Ia menambahkan, perubahan aturan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena masih banyak orang tua yang belum memahami mekanisme baru.
"Jadi walaupun sertifikatnya selevel internasional bahkan seandainya, tapi jika tidak dikurasi oleh SD sebelumnya itu tidak berlaku. Nah ini yang kesulitan tersendiri di tahun ini sekarang," ujarnya.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, SMPN 2 Pontianak mengoptimalkan media sosial sejak sebulan sebelum pendaftaran dibuka.
Selain memasang poster digital, sekolah juga melibatkan pengurus OSIS membuat konten edukatif mengenai alur dan persyaratan SPMB.
"Jadi dari sejak sebulan lalu, kita sudah menggaungkan, kita mengoptimalkan penggunaan media sosial. Jadi kita buat konten. Kontennya juga tidak hanya poster dan banner, tapi kita buat agar lebih banyak yang sadar dengan pola pendaftaran yang berbeda di tahun lalu. Itu kita buatkan seperti cerita. Osis juga kita libatkan untuk mereka bikin konten," ungkapnya.
Rahmat mengatakan kendala yang paling banyak dihadapi panitia adalah persoalan teknis, terutama terkait sertifikat prestasi yang tidak mendapat penilaian karena belum melalui proses kurasi dari dinas.
"Kendala-kendala yang ada itu kendala teknis. Saat ini mereka banyak mengeluh ya, karena tidak dinilai, bahkan 0 sertifikatnya karena tidak dikurasi. Nah ini yang perlu kita literasi. Jadi penjelasan ke orang tua ini kadang-kadang kita perlukan lebih, effort lebih dari seorang panitia," katanya.
Sebagai bentuk pelayanan, sekolah juga membuka kanal konsultasi melalui WhatsApp agar orang tua dapat memperoleh penjelasan terkait seluruh tahapan dan persyaratan SPMB.
Sementara itu, jumlah rombongan belajar (rombel) di SMPN 2 Pontianak tetap dipertahankan sebanyak delapan rombel, meski sekolah menghadapi keterbatasan jumlah guru akibat adanya tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun.
"Kita di pembukaan ini kita tetap dengan yang tahun lalu, tidak berubah, yaitu 8. Karena peminatnya tidak berkurang, kami juga kesulitan untuk mengurangi rombel. Karena kita punya alasan untuk mengurangi rombel, karena jumlah gurunya yang terbatas sekarang. Tapi karena permintaan masyarakat tinggi akhirnya kita masih buka dengan jumlah rombel yang sama, yaitu 8 rombel jadi satu kelas 32-34 siswa," jelasnya.
Ia berharap orang tua memahami konsekuensi dari setiap jalur pendaftaran karena masing-masing memiliki persyaratan yang berbeda, termasuk pada jalur domisili yang kini mengharuskan orang tua menentukan sendiri titik lokasi tempat tinggal.
"Jadi pihak sekolah bertanggung jawab sekali untuk melayani hal itu. Pelayanan yang kita buat ekstra itu adalah bagaimana orang tua pada saat memilih sekolah itu mereka tahu konsekuensinya. Karena kebanyakan aturan-aturan ini banyak belum dipahami oleh orang tua," tutup Rahmat. (*)