TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bagi sebagian orang, kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari.
Namun bagi Mayasastra, atau yang akrab disapa Maya, kebahagiaan justru ditemukan ketika ia mampu membaginya kepada orang lain.
Dari keyakinan sederhana itulah lahir sebuah gerakan sosial bernama Bungah Bergerak, sebuah inisiatif yang mengajak lebih banyak orang untuk menebar kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Gerakan tersebut berawal dari refleksi pribadi Maya. Solois dari Jogja ini mengaku telah melakukan kegiatan berbagi sejak 2020 secara diam diam tanpa dipublikasikan.
Hingga akhirnya, pada Maret 2026, ia memberanikan diri membuka donasi untuk pertama kalinya dan mengajak masyarakat ikut terlibat dalam aksi sosial yang digelar di Panti Wreda Budhi Dharma Yogyakarta.
"Aku ingin mencari kebahagiaan. Dan aku pikir kebahagiaan yang paling bisa kulakukan di depan mata ya memberikan kebahagiaan buat orang lain juga," ujar Maya.
Menurutnya, banyak orang sebenarnya memiliki keinginan untuk berbagi, tetapi tidak mengetahui harus memulai dari mana atau tidak memiliki waktu untuk menyalurkannya.
Melihat kondisi itu, Maya ingin menghadirkan Bungah Bergerak sebagai ruang yang mempertemukan niat baik dengan aksi nyata.
"Aku memang ingin melibatkan teman-temanku yang mencari kebahagiaan juga dari hal yang sama. Ternyata responsnya bagus dari teman-teman," katanya.
Nama Bungah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa, bungah berarti bahagia, mekar, atau merekah.
Kata itu, menurut Maya, sangat menggambarkan perjalanan hidup yang sedang ia jalani sekaligus menjadi tujuan dari setiap kegiatan yang dilakukan bersama komunitasnya.
Setelah mengunjungi panti jompo, Bungah Bergerak melanjutkan aksi sosial ke Panti Asuhan Bina Siwi pada 21 Juni 2026.
Donasi yang disalurkan sengaja diwujudkan dalam bentuk kebutuhan pokok, seperti beras, telur, susu, mi instan, buah, hingga makanan ringan.
Pilihan tersebut didasari keinginan Maya agar bantuan benar benar sampai kepada penerima manfaat.
Di balik kegiatan berbagi itu, Maya mengaku memiliki keterikatan emosional yang kuat. Ia tumbuh dengan pengalaman hidup yang tidak mudah sebagai penyintas kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga, sekaligus menjalani peran sebagai seorang ibu tunggal.
Baca juga: FSTVLST Ungkap Proses Kreatif Album Paradoks Diametral, dari Kepekaan hingga Eksplorasi Bermusik
Pengalaman itu membuatnya lebih mudah memahami perasaan orang lain yang tengah berada dalam situasi sulit.
"Aku berharap dengan kedatanganku ke mereka, aku juga menemukan kebahagiaan, mereka juga menemukan kebahagiaan. Jadi ini seperti simbiosis mutualisme," ungkapnya.
Bagi Maya, Bungah Bergerak bukan sekadar program berbagi donasi.
Pergerakan itu kemudian berkembang menjadi ruang yang lebih luas melalui penyelenggaraan acara bertajuk Bungah, sebuah kegiatan yang mengangkat tema kesehatan mental, refleksi diri, dan kebersamaan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari journaling, sesi percakapan mendalam, pertunjukan musik, hingga menghadirkan pelaku UMKM melalui Pasar Bungah.
Maya berharap setiap orang memiliki ruang aman untuk mengenali diri sendiri sekaligus melepaskan emosi yang selama ini dipendam.
Menurutnya, menulis, menggambar, maupun menciptakan lagu merupakan cara sederhana yang dapat membantu seseorang memahami isi pikirannya sendiri.
Cara itu pula yang selama ini ia lakukan untuk memulihkan diri dari berbagai pengalaman hidup.
Maya melihat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental kini semakin baik.
Semakin banyak orang yang tidak lagi merasa takut mencari bantuan profesional ketika mengalami persoalan psikologis.
"Hal yang bisa menolong diri kita sendiri itu ketika kita menyadari bahwa kita butuh bantuan. Kita punya kesadaran untuk sembuh. Karena kalau dua itu enggak punya, kita akan tetap di lingkaran setan," tuturnya.
Ke depan, Maya berharap Bungah Bergerak maupun acara Bungah dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak orang.
Baginya, berbagi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, melainkan dari keberanian untuk terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri.
"Yang paling penting adalah mengenali diri sendiri dan mau menerima diri sendiri. Karena dari situ kita bisa membagi banyak hal. Tangki cinta dan sayang kita harus penuh dulu. Karena apa yang mau dibagi kalau kita masih kosong," pungkas Maya.(*)