Pertahankan Cat Asli dan Mesin Standar, Vespa Darling 1960-an Tampil dengan Pesona Rusty Look
Muhammad Fatoni June 27, 2026 11:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak sedikit pecinta Vespa yang justru memilih mempertahankan jejak usia pada kendaraannya di tengah tren restorasi yang membuat motor klasik kembali terlihat mengilap.

Bagi mereka, goresan waktu, lapisan cat asli, hingga karat yang muncul secara alami menjadi bagian dari sejarah yang tidak tergantikan.

Filosofi itulah yang dipegang Dia Ambar, pemilik Vespa Darling keluaran era 1960-an yang tetap mempertahankan tampilan orisinal motor kesayangannya.

Motor berjenis smallframe itu telah menemani Ambar sejak sekitar 2013.

Saat pertama kali didapatkan, seluruh bodinya sudah dilapisi cat merah sehingga menutupi warna asli pabrikan.

Beberapa tahun kemudian, ia memutuskan mengupas kembali lapisan cat tersebut demi menemukan identitas asli motornya.

"Kondisinya sudah dicat merah, jadi full merah. Sampai akhirnya tahun 2022 atau 2023 mulai dikotoki buat nyari warna aslinya. Warna aslinya itu kayak telur asin. Memang enggak banyak yang tersisa, tapi masih dapat warna aslinya," ujar Ambar.

Proses pengelupasan itu bukan dilakukan karena kondisi bodi yang rusak, melainkan murni untuk mengembalikan karakter asli Vespa tersebut.

Hasilnya, sebagian warna orisinal berpadu dengan lapisan patina dan karat alami yang kemudian membentuk tampilan rusty look.

Bagi Ambar, kondisi itu justru menjadi daya tarik utama motornya yang ia beri nama Gumilang.

Alih alih melakukan pengecatan ulang, ia memilih membiarkan bodi Vespa tampil apa adanya agar nilai historisnya tetap terjaga.

"Untuk sementara biarin kayak gini aja. Jadi biar warna cat aslinya tetap ada, tetap utuh. Walaupun memang sisanya berkarat, tapi justru di situ ciri khasnya dari Vespa yang aku kasih nama Gumilang," katanya.

Baca juga: FSTVLST Ungkap Proses Kreatif Album Paradoks Diametral, dari Kepekaan hingga Eksplorasi Bermusik

Dari sisi teknis, Vespa Darling dikenal sebagai salah satu keluarga smallframe yang memiliki dimensi bodi lebih ringkas dibanding seri largeframe.

Motor ini mengandalkan mesin dua langkah atau 2 tak berpendingin udara dengan transmisi manual empat percepatan yang dioperasikan melalui setang kiri. 

Konstruksi bodi monokok berbahan baja juga menjadi salah satu ciri khas Vespa klasik yang masih dipertahankan hingga kini.

Meski usianya telah lebih dari setengah abad, Ambar mengaku tidak melakukan ubahan berarti pada sektor mesin.

Ia memilih mempertahankan spesifikasi standar dan lebih mengutamakan perawatan rutin agar performanya tetap terjaga.

"Enggak ada perubahan di mesin. Masih seperti yang lama, paling ya ngerawatnya yang lumayan," ujarnya.

Menurut Ambar, merawat Vespa klasik memang membutuhkan perhatian lebih dibanding sepeda motor modern.

Pemeriksaan mesin secara berkala menjadi hal yang wajib dilakukan, terlebih jika motor sering digunakan untuk perjalanan jauh.

"Rajin servis, ngecek mesin. Apalagi kalau sering dipakai keluar kota. Karena mesinnya sudah tua, jadi harus sering dicek dan sering dipanasin," katanya.

Selain perawatan mesin, biaya yang kerap luput dari perhatian adalah harga komponen orisinal.

Ia mencontohkan beberapa aksesori sederhana seperti spion atau spidometer asli kini memiliki harga yang tidak murah sehingga perlu dipertimbangkan sebelum melakukan restorasi.

Pada sektor tampilan, modifikasi yang dilakukan Ambar terbilang minimalis. Ia hanya menambahkan rak di bagian depan, tengah, dan belakang.

Rak tengah difungsikan untuk membawa barang, sedangkan dua rak lainnya lebih berfungsi sebagai pemanis yang memperkuat karakter klasik Vespa.

Ketertarikan Ambar terhadap Vespa sendiri sudah muncul sejak duduk di bangku SMP.

Ia mengaku mulai menyukai bentuknya yang unik dan nuansa vintage yang dimiliki motor asal Italia tersebut.

Belakangan, ia juga mengetahui bahwa almarhum ayahnya pernah memiliki Vespa, sesuatu yang semakin menguatkan kedekatannya dengan motor klasik itu.

"Mulai suka Vespa itu waktu SMP. Kok lucu ya, dari bentuknya, dari vintage-nya. Terus sering diboncengin teman naik Vespa dan jadi tertarik. Akhirnya baru kesampaian punya sekitar 2013. Soalnya barangnya antik,"tutur Ambar.

Sebagai perempuan, Ambar juga melihat semakin banyak pengendara wanita yang mulai menggemari Vespa klasik.

Menurutnya, mengendarai motor tua bukan sekadar soal gaya, tetapi juga menuntut pemiliknya memahami dasar dasar perawatan kendaraan.

"Kalau lihat cewek naik Vespa itu lucu, unik, vintage, terus menyenangkan. Apalagi kalau bisa belajar ke bengkel, ganti busi atau ngerti perawatan dasarnya, menurutku keren," ujarnya.

Bagi siapa pun yang ingin memiliki Vespa klasik sebagai motor pertama, Ambar menilai faktor terpenting bukanlah anggaran maupun tren yang sedang berkembang.

Yang lebih utama adalah rasa suka terhadap motor itu sendiri, karena memiliki Vespa lawas berarti juga siap menerima berbagai karakter khas kendaraan berusia puluhan tahun.

"Yang harus diperhatikan ya kecintaannya dulu. Kalau sudah klik, pasti apa pun juga dilakuin," pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.