Kisah Rosidah, Dua Dekade Merintis Usaha Gula Merah hingga Melesat Bersama KUR BRI Sumenep
Dwi Prastika June 28, 2026 01:22 AM

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Fikri Firmansyah

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Usaha gula merah khas Madura milik Rosidah (50), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep, Madura, berkembang pesat setelah memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Berbekal pembiayaan yang mulai diperoleh sejak 2016, kapasitas produksinya meningkat signifikan hingga mampu memenuhi permintaan pasar di berbagai wilayah Madura.

Dukungan permodalan KUR BRI tidak hanya mendorong produksi gula merah Rosidah naik dari sekitar 200 kilogram menjadi 500 kilogram per hari, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Kisah sukses tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana akses pembiayaan mampu memperkuat daya saing UMKM sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Asap tipis membubung dari dapur produksi sederhana di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep.

Di tengah aroma manis gula merah yang khas, Rosidah, dengan cekatan mengaduk adonan di atas tungku besar.

Ia telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melestarikan kuliner tradisional tersebut.

Bagi Rosidah, gula merah bukan sekadar komoditas dagang, melainkan bagian dari perjalanan hidupnya.

Sejak 2006, ia mengembangkan usaha gula merah khas Madura dengan memanfaatkan air nira dari pohon siwalan atau lontar yang banyak tumbuh di Sumenep.

Baca juga: BRI Sumenep Gelar Khitanan Massal, Puluhan Anak Dapat Santunan dan Perlengkapan Sekolah

Dua dekade lalu, perjalanan ini tentu tidak langsung berjalan mulus seperti sekarang.

Pada awal merintis usaha, Rosidah harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan, mulai dari alat produksi yang sangat tradisional hingga modal yang sering kali tersendat.

Namun, keteguhan hati warga Sumenep ini tak pernah luntur demi menghidupi keluarga tercinta.

"Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan," ungkapnya, Sabtu (27/6/2026).

Perlahan tapi pasti, jaringan pelanggannya pun mulai meluas ke berbagai daerah.

Namun, lompatan besar dalam skala usaha Rosidah sejatinya terjadi pada tahun 2016.

Saat itu, ia menyadari bahwa permintaan pasar yang melonjak drastis tidak akan bisa terpenuhi tanpa adanya suntikan modal kerja yang signifikan.

Di titik krusial inilah, Rosidah memutuskan untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan.

"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru tahun 2016 itu memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Saat itu saya mengajukan pinjaman Rp25 juta dan prosesnya cepat serta tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi cocok untuk usaha kecil seperti saya," urai Rosidah.

Langkah awal ini terbukti menjadi stimulus yang sangat tepat bagi geliat usahanya. Dana segar dari perbankan tersebut langsung dialokasikan khusus untuk memperkuat ketersediaan bahan baku di dapurnya.

Tiga tahun pertama pasca-menjadi nasabah KUR BRI berjalan dengan sangat manis seiring dengan perputaran roda usahanya yang makin kencang.

Setelah pinjaman pertamanya lunas dengan catatan komitmen yang bersih, Rosidah kembali mempercayakan pengembangan usahanya kepada BRI. Ia mengajukan pinjaman tahap kedua dengan nominal yang naik kelas menjadi Rp50 juta.

Dukungan finansial dari BRI ini tidak berhenti sampai di situ saja.

Melihat rekam jejak usahanya yang terus tumbuh positif, pada tahun 2024 lalu, Rosidah kembali mendapatkan kepercayaan besar, di mana BRI memberikan kucuran dana KUR dengan nilai yang fantastis untuk ukuran UMKM desa, yakni mencapai Rp100 juta.

Bagi Rosidah, kucuran modal kerja KUR dari BRI membawa manfaat nyata yang langsung mengubah peta bisnisnya.

"Kucuran dari BRI ini sangat bermanfaat bagi kami. Khususnya untuk penyediaan bahan baku dan peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," tandasnya.

Dampak dari kecukupan modal ini membuat lini usaha Rosidah bergerak maju secara masif.

Ia bahkan dengan bangga menyatakan bahwa setelah mendapatkan intervensi modal dari KUR BRI, usahanya kini makin berkembang.

Skala produksi harian meningkat tajam demi memenuhi permintaan pasar yang tak pernah sepi.

Produksi gula merahnya pun terus meningkat. Jika sebelum mendapat dukungan KUR dari BRI rata-rata sekitar 200 kilogram per hari, kini produksinya meningkat menjadi kisaran 500 kilogram per hari.

"Alhamdulillah, kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada enam orang," ungkapnya.

Jangkauan Pasar

Kini, buah dari ketekunannya selama 20 tahun telah mengakar kuat. Rosidah berhasil mengunci hati banyak pelanggan tetap di berbagai wilayah di Madura.

Pasar yang ia jangkau tidak lagi sebatas lingkungan sekitar desa, melainkan sudah meluas melintasi batas kabupaten, menjangkau daerah Pamekasan, Sampang, hingga Bangkalan.

Sistem pemasarannya pun kini berjalan lebih modern dan praktis berkat kepercayaan yang telah terbangun lama.

Para pemilik toko dari Pamekasan hingga Sampang cukup menghubunginya melalui telepon untuk melakukan pemesanan.

Begitu pesanan masuk, Rosidah langsung menyiapkan logistik pengiriman untuk menyuplai toko-toko tersebut secara rutin.

Sejalan dengan peningkatan volume usaha, omzet penjualan gula merah Rosidah pun terus meroket dari waktu ke waktu. Pendapatan yang berlipat ganda ini tidak hanya membuat bisnisnya kian sehat secara finansial, tetapi juga menjadi mesin penggerak kesejahteraan bagi keluarganya.

Keberhasilan usaha di desa ini bahkan mampu mengantarkan kedua anaknya membuka usaha di Surabaya.

Gerakkan Ekonomi Kerakyatan

Pada kesempatan terpisah, Ali Topan, Branch Manager BRI BO Sumenep, mengatakan BRI Branch Office (BO) Sumenep terus memperkuat perannya sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga Mei 2026, BRI BO Sumenep telah menyalurkan KUR sebesar Rp691 miliar kepada 22 ribu debitur.

Sebagian besar penyaluran KUR didominasi oleh KUR sektor produksi yang tercatat sebesar Rp587 miliar atau sebesar 85 persen dari total penyaluran hingga Mei 2026. Sektor produksi yang dimaksud mencakup bidang perdagangan dan pertanian yang merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Sumenep.

Dengan pembiayaan yang memadai dan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha di wilayah Sumenep memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usahanya, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.

"Dukungan BRI tidak hanya sebatas penyaluran dana, tetapi juga mencakup pemberdayaan dan pendampingan usaha serta edukasi finansial agar para debitur dapat mengelola usahanya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan visi BRI untuk menjadi mitra terpercaya dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan, khususnya di daerah-daerah yang memiliki potensi unggulan," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.