TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Petani sawit di Desa Salupangkang IV, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat, mulai pesimis terhadap Tandan Buah Sawit (TBS).
Harganya tak kunjung stabil, ditambah antrean Panjang kendaraan pengangkut sawit di pabrik-pabrik hingga kini tak kunjung berhenti.
Baca juga: BREAKING NEWS: SD Inpres Paraili Mamuju Tengah Dilalap si Jago Merah
Baca juga: Pemerintah Pusat Akan Pangkas Lagi Anggaran Wabup Mamuju Yuki: Kita Sudah Babak Belur
Harga sawit terus mengalami fluktuasi tanpa kepastian, sementara antrean truk pengangkut TBS di pabrik tak kunjung menemukan solusi.
Padahal, Komisi 2 DPRD Mamuju Tengah telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait persoalan ini, namun hingga kini belum ada perubahan signifikan di lapangan.
Bahri, seorang petani sawit, mengungkapkan antrean panjang di pabrik memaksa para petani menunda jadwal panen.
Biasanya, mereka memanen TBS dua kali dalam sebulan.
Kini, frekuensi itu terpaksa dikurangi menjadi satu kali.
"Atau harusnya empat kali panen, dikasih jadi dua kali," keluhnya ditemui di kediamannya, Salupangkang IV, Kecamatan Topoyo, Minggu (28/6/2026).
Penundaan panen ini otomatis berdampak pada kuantitas produksi dan pendapatan petani.
Selain itu, kondisi antrean juga membuat pedagang enggan membeli TBS dengan harga wajar.
"Karena efeknya antrean, pedagang tidak berani beli sesuai harga sebelumnya. Mereka pikir-pikir karena antrean panjang," beber Bahri.
Keluhan serupa disampaikan Rustang, petani sawit lainnya.
Ia mengaku sudah pasrah dengan kondisi tak kunjung membaik.
"Malas kami terus mengeluh, tidak ada juga efeknya," ujarnya dengan nada kecewa.
Menurut Rustang, dampak antrean tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga para sopir pengangkut TBS.
Kendaraan kecil harus mengantre hingga dua hari dua malam, sementara truk berukuran besar bisa menunggu sampai lima hari sebelum akhirnya bisa masuk ke pabrik.
Para petani berharap ada tindakan nyata dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun pengelola pabrik, untuk mengatasi permasalahan yang terus berulang ini.
"Kami hanya berharap ada langkah nyata yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini," pungkas Rustang.(*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah