Aljazair dan Austria akan saling berhadapan di Grup J pada Sabtu malam dalam salah satu laga terakhir fase grup Piala Dunia.
Artinya, kedua tim akan mengetahui dengan pasti hasil seperti apa yang mereka butuhkan untuk lolos ke babak gugur, baik dengan finis di posisi kedua grup (Argentina sudah memastikan posisi teratas) atau menjadi salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Faktanya, situasi yang terbentuk membuat Austria dan Aljazair sama-sama tahu bahwa ada kemungkinan bagi keduanya untuk lolos, dengan empat poin sudah cukup untuk menjamin tempat di babak selanjutnya — dan bagi mereka yang mengetahui sejarah antara kedua tim ini, hal tersebut terasa sangat ironis.
Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, situasi serupa pernah terjadi. Saat itu, pertandingan terakhir di setiap grup belum dimainkan secara bersamaan seperti sekarang.
Pada masa itu, dua tim teratas di setiap grup berhak lolos, sementara tim peringkat ketiga dan keempat tersingkir. Setiap kemenangan hanya bernilai dua poin.
Pada pertandingan terakhir Grup 2, situasinya terbentuk sedemikian rupa sehingga jika Jerman Barat yang berada di posisi ketiga mengalahkan Austria yang memimpin grup dengan selisih kurang dari tiga gol, maka kedua tim akan lolos ke babak gugur. Hasil lain akan membuat salah satu dari mereka tersingkir.
Dan tentu saja, Anda mungkin bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya — dan tebakan Anda pasti benar.
Pada menit ke-10, Horst Hrubesch membawa Jerman Barat unggul 1-0, yang membuat mereka naik ke puncak klasemen sementara Austria berada di posisi kedua.
Setelah itu, nyaris tidak ada aksi berarti sepanjang sisa pertandingan. Perlu diingat bahwa aturan larangan backpass belum diberlakukan pada waktu itu, jadi penjaga gawang bisa menangkap bola jika diumpan balik oleh rekan setimnya — dan hal itu sering sekali dilakukan. Kedua tim tampak tidak berusaha keras untuk mencetak gol lagi, terutama setelah babak kedua dimulai. Setiap tembakan yang dilepaskan pun melenceng jauh. Bagi penonton, tampak jelas bahwa pertandingan itu sudah diatur.
Dan siapa yang menjadi korban dari hasil tersebut? Aljazair, yang sebelumnya membuat kejutan besar dengan mengalahkan Jerman Barat di laga pembuka mereka.
Klasemen Akhir Grup 2 (Piala Dunia 1982)
1. Austria – Main: 2, Selisih Gol: +3, Poin: 4
2. Aljazair – Main: 3, Selisih Gol: 0, Poin: 4
3. Jerman Barat – Main: 2, Selisih Gol: +2, Poin: 2
4. Chile – Main: 3, Selisih Gol: -5, Poin: 0
Untuk konteks tambahan: sebelum itu, belum pernah ada tim asal Afrika yang berhasil mengalahkan negara Eropa di Piala Dunia.
Oleh karena itu, tersingkirnya Aljazair akibat hasil yang tampak diatur antara Austria dan Jerman Barat tidak hanya memicu kemarahan rakyat Aljazair, tetapi juga menuai kecaman keras dari seluruh dunia.
Komentator Jerman dan Austria mengecam tim mereka sendiri di siaran langsung dan meminta penonton untuk mengganti saluran televisi. Ketika bus tim Jerman tiba di hotel, mereka disambut oleh para penggemar marah yang melempari bus dengan telur; lucunya, para pemain dikabarkan membalas dengan melempar balon air. Mengapa mereka memiliki balon air di dalam bus tetap menjadi misteri.
Kasus ini kemudian dikenal sebagai “Aib Gijon” (Disgrace of Gijon), dan menjadi alasan utama mengapa FIFA akhirnya mengubah aturan agar pertandingan terakhir di setiap grup dimainkan secara bersamaan.
Oleh karena itu, ada sesuatu yang terasa puitis ketika Austria dan Aljazair kini kembali berada dalam situasi yang hampir sama. Hasil imbang akan meloloskan keduanya. Bahkan kemenangan Austria dengan selisih kecil pun bisa membuat keduanya melangkah ke babak berikutnya.
Apakah Aljazair akhirnya akan mendapatkan penebusan setelah 44 tahun?