TRIBUNSTYLE.COM - Rasakan magisnya Sate Mak Cenneng Bangkalan! Kuliner legendaris 112 tahun yang pas buat isi libur sekolah bareng keluarga. Cuma Rp25 ribu!
Momen libur sekolah telah tiba! Bagi Anda yang merencanakan perjalanan keluarga melintasi Jembatan Suramadu, ada satu destinasi kuliner legendaris di Kabupaten Bangkalan, Madura, yang wajib masuk dalam bucket list. Memasuki usianya yang ke-112 tahun di tahun 2026 ini, Warung Sate dan Gule Mak Cenneng tetap menjadi magnet magis bagi para pemburu taksu kuliner autentik nusantara.
Rahasia eksistensinya sejak tahun 1914 ternyata lahir dari sebuah kesederhanaan: racikan khas bumbu kecap kuno. Hebatnya, resep turun-temurun ini terbukti ampuh menjaga kesetiaan pelanggan lintas generasi dan lintas pulau—mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan selama lebih dari satu abad.
Meski kini namanya telah melegenda, konsep bersahaja tetap melekat kuat. Di sebuah rumah di Kampung Keranan, Kelurahan Pangeranan, Kota Bangkalan, Abah Astamin (87) anak dari mendiang Mak Cenneng masih aktif menyiapkan ratusan tusuk sate setiap harinya. Ia dibantu oleh sang menantu, Hakam (57).
Demi faktor keselamatan di usia senja, belakangan ini Abah Astamin sengaja dilarang oleh keluarga untuk berjualan langsung di warung utama yang terletak di Jalan Letnan Sunarto, Kampung Buja’an (sekitar 50 meter dari jembatan pecinan).
"Abah sudah tidak boleh ke sana karena lalu lintas ramai, jadi saya bersama adik yang berjualan. Saya kalau sudah jam 8 malam, pasti ke sana menggantikan adik," ungkap Hakam.
Sebagai pengelola generasi ketiga, Hakam bersama istrinya berkomitmen penuh untuk menjaga warisan leluhur ini. "Insya Allah tetap kami pertahankan nama Mak Cenneng, termasuk racikan bumbunya selagi kami bisa," tegasnya.
Bagi keluarga yang membawa rombongan anak-anak saat libur sekolah, Warung Mak Cenneng adalah definisi surga kuliner yang ramah di dompet. Bayangkan, di tengah gempuran inflasi modern, harga seporsi sate kambing (10 tusuk) maupun semangkuk gule kambing yang kaya rempah masih dibanderol dengan harga yang sangat bersahabat, yaitu Rp 25.000 saja.
Menariknya, warung ini juga adaptif terhadap selera zaman. Hakam menceritakan bahwa pelanggan lama biasanya tetap fanatik meminta sajian klasik bumbu kecap kuno. Namun, untuk anak-anak muda atau pelanggan generasi baru, mereka kerap meminta tambahan bumbu kacang. Bahkan, banyak pelancong yang penasaran dan memesan dua bumbu sekaligus demi membandingkan sensasi rasanya.
Sejak akses Jembatan Suramadu semakin ramai, warung ini kerap menjadi tempat singgah utama bagi rombongan keluarga maupun peziarah dari Pesarean Syaikhona Kholil. "Produksi sate itu tergantung besar kecilnya kambing yang disembelih, kadang satu ekor bisa jadi 800, 1.000, hingga 1.500 tusuk," tambah Hakam.
Menemani waktu santai liburan Anda, Abah Astamin dengan senyum hangatnya kerap membagikan kisah-kisah menggelitik bersama para pelanggannya yang datang dari jauh.
Ia mengenang momen manis ketika sebuah bus rombongan asal Semarang sengaja datang mencarinya. "Setiba di warung bertanya, 'Masih banyak satenya?'. Saya jawab masih ada sekitar 500 tusuk. Mereka minta disajikan masing-masing orang 5 tusuk dulu untuk dicoba. Eh, belakangan ternyata malah diborong semua," kenang Astamin sambil terkekeh.
Ada pula cerita unik dari rombongan mobil asal Sumatera yang saking lahapnya, mereka menghabiskan sate dan gule tanpa menyentuh nasi atau lontong sama sekali. "Setelah selesai dan naik ke mobil, mereka turun lagi cuma buat tanya nama warungnya. Katanya mau dipromosikan di Sumatera," pungkasnya.
Testimoni kelezatan Sate Mak Cenneng ini juga diakui oleh Bangkit Dananjaya (34), seorang pelanggan asal Semarang yang kini menetap di Balikpapan, Kalimantan Timur. Di tengah perjalanan mudik dan liburannya, ia menyempatkan diri kembali ke warung ini karena rindu berat.
"Kangen sate ini, paling mantap. Saya dulu ketika masih bekerja dan tinggal di Bangkalan memang sering ke sini," kata Bangkit.
Bagi Bangkit, perpaduan sate kambing muda yang disajikan hangat-hangat, lalu disiram kuah gule yang melimpah, menciptakan sensasi rasa yang sulit dilupakan. Daging kambingnya terkenal sangat lembut, bumbunya meresap sempurna hingga ke serat terdalam, dan yang paling penting: sama sekali tidak berbau amis.
"Di sini rempah pada gule memiliki cita rasa yang sangat spesial, tidak ada lawan. Ini gule paling mantap, diolah dengan daging kambing muda yang masih fresh. Saya lebih suka gule, tapi satenya juga oke," puji Bangkit.
Tips Liburan Keluarga: Jika Anda dan keluarga berencana mengisi libur sekolah dengan berwisata sejarah atau religi ke Pulau Madura, pastikan untuk mampir ke Warung Sate Mak Cenneng. Datanglah lebih awal agar tidak kehabisan, dan rasakan sendiri bagaimana resep legendaris berusia 112 tahun ini memanjakan lidah Anda!
( TribunMadura.com / Ahmad Faisol / Tribunstyle.com / Selviana Safitri )