TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sebanyak 24 seniman dengan 129 karya dipamerkan pada 11 bilik dalam kegiatan Artists-Art Fair di di Ruang Pameran Khusus Museum Sang Nila Utama, Jalan Sudirman Pekanbaru.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu hingga Selasa (27-30/6/2026) tersebut diklaim sebagai Art Fair pertama di Sumatera, serta Art Fair pertama di Asia Tenggara berbasis Seniman.
Bermacam karya seni dipamerkan, mulai dari seni lukis, seni rupa 3 dimensi hingga mixed media dapat ditemui.
Penyelenggara pun tidak membedakan kategori terhadap pelaku seni, dari pelajar hingga artis senior tampil dalam satu ruangan.
Seniman yang termuda adalah Yuli Callista Patricia berusia 9 tahun, lewat karya bertema 'Where my Dream Become my World', Yuki menampilkan gambar yang terinspirasi dari mimpinya.
"Mimpinya dikumpulkan dahulu, lalu dibikin sketsanya dan diwarnai pakai pinsil warna," ujar murid kelas 3 tiga di Metta Maitreya tersebut, Minggu (28/6/2026).
Lewat karyanya, Yuki menggambarkan mimpi apa yang mewarnai malam-malamnya, seperti mimpi bertemu naga, mimpi indah hingga mimpi buruk.
Baca juga: Hadirkan 24 Seniman, Art Fair Pertama di Asia Tenggara Berbasis Seniman Digelar di Pekanbaru
Mimpi tersebut tersaji apik lewat 11 frame yang dikurasinya sendiri.
Karya menarik dari artis lainnya adalah lukisan Candi Muara Takus karya Suriaty dari Grup Suri.
Lukisan ini bahkan berhasil terjual sebelum perhelatan Artists–Art Fair Pekanbaru digelar.
Lukisan itu telah lebih dulu berpindah tangan ke kolektor Arif Eka Saputra, anggota DPD RI.
Disampaikan perumus konsep Artists–Art Fair Pekanbaru, Fachrozi Amri, terdapat program presale sebelum pembukaan.
"Sudah ada transaksi, namun karya itu tetap akan dihadirkan secara simbolik meski sang kolektor berhalangan hadir untuk membuka acara, karya itu menjadi bukti awal antusiasme pasar terhadap pameran ini," ujar Fachrozi.
Dijelaskannya, Artists–Art Fair Pekanbaru merupakan sebuah art fair yang berpusat pada seniman dan didedikasikan untuk mengembalikan seniman ke jantung ekosistem seni, tempat lahirnya gagasan, tumbuhnya kreativitas dan dimulainya dialog budaya.
"Formula ini yang kita coba bangun dan menjadi pembeda dalam metodologinya, di sini kita memperlakukan seniman sebagai pusat komoditi transaksional dalam ruang pameran," kata Fachrozi.
Menurutnya, art fair secara konvensional lebih identik dikuasai oleh galeri-galeri, namun lewat Artists–Art Fair ini, cara-cara lama itu bisa diterobos.
"Kita coba cara baru, yaitu kita mau membuat sebuah formula dimana para pelaku, para pemilik gagasan itu memiliki peran penting dalam cara dia berpikir mengekspresikan karyanya, sehingga rumusan Artists–Art Fair Pekanbaru basisnya adalah basis seniman, bukan basis galeri lagi," tambahnya.
Selain itu, masih menurut Fachrozi, Artists–Art Fair Pekanbaru berfungsi sebagai platform untuk membangun koneksi, kolaborasi, dan pertukaran budaya.
Dengan mempertemukan beragam pelaku dalam ekosistem seni rupa, kegiatan ini mendorong lahirnya jejaring baru, memperkuat keterlibatan publik terhadap seni kontemporer, serta berkontribusi pada pertumbuhan komunitas seni lokal sekaligus memperluas keterhubungannya dengan jaringan seni rupa nasional dan internasional.
Sementara itu, Artistic Director Artists-Art Fair Pekanbaru, Adhari Sonora mengatakan bahwa Art Fair atau Pasar Seni ini berbeda dari biasanya.
"Jadi pemerannya sendiri tidak ada kuratorial, dalam art fair yang berbasis seniman, mereka yang mengkuratorialkan booth nya sendiri, senimannya yang merancang dan melihat karyanya yang menjadi fokus utama, sehingga mereka bisa membuat dunianya sendiri lebih menarik," kata Adhari.
Menurutnya, Art Fair sangat cocok digelar di Pekanbaru karena Kota Bertuah memiliki banyak seniman, namun tidak banyak tempat untuk memasarkan karya-karyanya, sementara generasi-generasi baru yang mencoba masuk ke dunia industri kesenian atau industri kreatif terus bermunculan.
Karena itu, melalui interaksi langsung dalam Artists-Art Fair diharapkan dapat menjembatani praktik artistik dengan kehidupan masyarakat, sekaligus mendorong terciptanya masa depan seni yang lebih inklusif, mudah diakses dan saling terhubung.
Artists-Art Fair Pekanbaru diadakan dari Dana Hibah Kebudayaan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI tahun 2025-2026 pada program Pendayagunaan Ruang Publik 2025.
Penyelenggara pun hanya membuka penjualan tiket secara online melalui artatix.co.id, dengan harga mulai dari Rp 35 ribu.
(Tribunpekanbaru.com/Theo Rizky)