Selat Hormuz Jadi Pemicu! IRGC dan Militer AS Saling Gempur, Konflik di Timur Tengah Tak Terkendali
Eri Ariyanto June 28, 2026 04:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER,COM - Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memuncak setelah serangkaian insiden militer antara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir.

Jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia itu kembali berubah menjadi titik panas konflik, menyusul dugaan serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas militer di kawasan Teluk Persia.

IRGC disebut melancarkan respons militer berupa serangan drone dan rudal ke sejumlah target yang diklaim terkait kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Di sisi lain, militer AS merespons dengan meluncurkan serangan udara ke beberapa instalasi pertahanan dan infrastruktur militer Iran, memperdalam eskalasi yang sudah rapuh.

Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali berada di bawah ancaman gangguan serius, mengingat perannya sebagai jalur vital bagi lebih dari seperlima pasokan minyak global.

Pemerintah Iran menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan bentuk pembalasan atas agresi yang lebih dulu dilakukan oleh Washington.

Sementara itu, Amerika Serikat menuding Iran sebagai pihak yang memicu ketidakstabilan dengan menyerang kapal dagang dan pangkalan sekutu di kawasan Teluk.

Ketegangan yang terus meningkat ini juga memicu kekhawatiran global akan potensi gangguan perdagangan energi internasional dan lonjakan harga minyak dunia.

Beberapa negara di kawasan mulai meningkatkan status siaga militer dan memperketat pengawasan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Di tengah situasi yang kian tidak terkendali, Selat Hormuz kembali menjadi simbol rapuhnya stabilitas geopolitik Timur Tengah yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi konflik lebih luas.

Baca juga: Iran Murka Usai Ancaman Trump, Balas Peringatan Keras untuk AS: Sebaiknya Mereka Berhati-hati

Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Amerika Serikat terlibat saling serang pada Minggu pagi (28/6/2026) WIB atau tepatnya jelang fajar menyingsing di kawasan Teluk Persia.

Dentuman ledakan susul-menyusul memecah keheningan pagi, menandai titik didih ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang selama ini tertahan di balik retorika diplomatik. 

Kini, konfrontasi yang selama ini membayangi kawasan itu bukan lagi sekadar ancaman.

Kesepakatan "damai" yang kabarnya disepakati kedua belah pihak kini berubah menjadi serangan terbuka yang membakar pangkalan militer di kedua belah pihak.

Berdasarkan laporan AP, Reuters, Al Jazeera, dan media internasional lainnya, memang terjadi rangkaian serangan balasan antara Iran dan Amerika Serikat yang memperlihatkan runtuhnya gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati kedua pihak.

IRAN EJEK AS - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengejek AS karena laporan CBS News yang mengindikasikan AS krisis rudal Tomahawk karena telah menghabiskan arsenal rudalnya lebih cepat daripada kemampuan produksinya. Dengan nada menyindir seperti dilansir Tasnim News, Senin (30/3/2026), Baqaei menyebut AS telah menyia-nyiakan senjata mahal mereka untuk menghancurkan fasilitas sipil.
IRAN EJEK AS - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengejek AS karena laporan CBS News yang mengindikasikan AS krisis rudal Tomahawk karena telah menghabiskan arsenal rudalnya lebih cepat daripada kemampuan produksinya. Dengan nada menyindir seperti dilansir Tasnim News, Senin (30/3/2026), Baqaei menyebut AS telah menyia-nyiakan senjata mahal mereka untuk menghancurkan fasilitas sipil. ((Ist)/YouTube UNIFIL;)

Bagaimana perang pecah (lagi)?

Duduk perkaranya bermula dari sengketa penguasaan dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. 

Setelah perang yang berlangsung selama beberapa bulan, Amerika Serikat bersama sejumlah negara sekutu berupaya membuka kembali jalur perdagangan internasional melalui koridor pelayaran baru yang tidak berada di bawah pengawasan langsung Iran. 

Tehran menilai langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang baru ditandatangani.

Ketegangan meningkat ketika sebuah kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Qatar menjadi sasaran serangan drone di sekitar Selat Hormuz. 

Washington menuduh Iran berada di balik serangan tersebut. 

Sebagai respons, militer Amerika melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran pada Sabtu, 27 Juni 2026 waktu setempat.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sasaran operasi adalah infrastruktur pengawasan, radar, sistem komunikasi, fasilitas drone, dan sejumlah instalasi militer yang disebut terkait ancaman terhadap pelayaran internasional. 

Washington menyebut serangan itu sebagai tindakan defensif setelah Iran dianggap melanggar kesepakatan penghentian konflik.

Serangan Amerika tersebut kemudian memicu respons cepat dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). 

Pada Sabtu malam waktu Timur Tengah atau Minggu dini hari WIB, Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas yang digunakan militer Amerika di kawasan Teluk.

Lokasi mana yang disasar Iran?

Berdasarkan laporan Al Jazeera dan AP, sasaran utama adalah instalasi militer Amerika di Bahrain. 

Negara kecil di Teluk itu menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang selama ini berperan penting dalam operasi Washington di Timur Tengah. 

Sirene peringatan serangan udara sempat dibunyikan dan warga diminta berlindung.

Target berikutnya berada di Kuwait. Iran mengklaim menyerang fasilitas militer yang digunakan pasukan Amerika, termasuk pangkalan udara yang menjadi bagian penting jaringan operasi militer Washington di kawasan Teluk. 

Pemerintah Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat rudal dan drone yang masuk.

Menurut laporan AP, Iran menyatakan serangan tersebut merupakan balasan langsung atas pemboman Amerika terhadap fasilitas militer Iran beberapa jam sebelumnya. 

Tehran juga memperingatkan bahwa proses perundingan damai dapat dihentikan apabila Washington terus melakukan serangan.

Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa serangan dilakukan sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi Amerika. 

Secara substansi, pesan yang disampaikan adalah bahwa Iran akan memberikan balasan terhadap setiap serangan yang mengancam kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.

"Tembakan buta Amerika ke Sirik tidak akan memecahkan misteri penguasaan kami atas Selat. Namun tembakan kami terhadap para pelanggar akan mengingatkan kembali jalur lintas yang jelas kepada kapal-kapal lainnya," tulis IRGC di akun media sosial mereka.

Brigadir Jenderal Mohsen Rezaei, anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, menyatakan, AS melanggar Pasal 1 Nota Kesepahaman (MOU) dengan "mendukung pasukan proksinya di kawasan tersebut."

Ia memperingatkan bahwa tanggapan Iran terhadap setiap pelanggaran memorandum tersebut akan "cepat dan tegas."

“AS menyerang Iran di tengah negosiasi sekali lagi,” tulis Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, di media sosial.

“Presiden AS yang gagal telah menunjukkan bahwa ia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata. Pelanggaran gencatan senjata yang sembrono ini, seperti biasa, akan menyebabkan kemunduran dan penyesalan di pihak mereka. Permainan saling menyalahkan tidak lagi efektif,” tambah Azizi.

Washington tuduh Iran langgar komitmen

Di pihak lain, Amerika Serikat menolak tuduhan telah melanggar kesepakatan damai.

Washington justru menuding Iran lebih dulu melanggar komitmen

setelah serangan terhadap kapal komersial di sekitar Hormuz. Pemerintah Amerika menilai operasi militernya dilakukan untuk menjaga keamanan jalur perdagangan global.

Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Iran setelah serangan balasan tersebut. Ia mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer yang lebih besar apabila Iran kembali menyerang kepentingan Amerika dan sekutunya di kawasan.

Poin penting konfrontasi terbaru Iran vs AS

- Pemicu Utama: Kegagalan diplomasi keamanan dan eskalasi ketegangan navigasi di Selat Hormuz.

- Waktu Serangan: Dimulai pukul 03.15 waktu setempat (Waktu Standar Iran) dengan serangan rudal presisi.

Lokasi Sasaran (AS): Fokus pada fasilitas radar IRGC di pesisir, pusat komando bawah tanah di Teheran, dan gudang logistik militer di wilayah barat.

- Lokasi Sasaran (Iran): Balasan serangan difokuskan pada armada kapal induk AS di perairan internasional serta pangkalan dukungan logistik di Bahrain dan Kuwait.

- Bahrain menjadi sasaran karena menampung markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

- Kuwait menjadi sasaran karena menjadi lokasi fasilitas dan pangkalan militer yang digunakan Amerika.

- Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan damai yang diteken pertengahan Juni.

- Iran mengancam menghentikan perundingan damai jika serangan AS berlanjut.

- Donald Trump memperingatkan akan ada respons lebih keras jika Iran kembali menyerang.

Runtuhnya kesepakatan damai

Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang diteken kedua negara pada pertengahan Juni 2026 berada di ambang kehancuran. 

Kesepakatan itu sebelumnya dimediasi sejumlah pihak internasional untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Selain aspek militer, Selat Hormuz menjadi faktor paling krusial dalam konflik terbaru ini. Jalur laut tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Gangguan terhadap pelayaran di Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional. Karena itu, setiap bentrokan antara Iran dan Amerika di kawasan tersebut selalu mendapat perhatian besar dari pasar energi dunia.

Meski kedua pihak saling melancarkan serangan, hingga Minggu pagi WIB belum ada laporan resmi mengenai korban besar di pihak Amerika maupun negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan Iran. 

Namun situasi masih berkembang dan berbagai negara terus memantau eskalasi terbaru tersebut.

Rangkaian peristiwa pada Sabtu malam waktu Timur Tengah hingga Minggu pagi WIB menunjukkan bahwa konflik Iran-Amerika belum benar-benar berakhir. 

Sengketa mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, tuduhan pelanggaran gencatan senjata, dan aksi saling balas serangan kembali menempatkan kawasan Teluk dalam kondisi yang sangat rentan terhadap perang yang lebih luas.

(TribunNewsmaker.com/TribunNews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.