Prabowo Minta Para Profesor Indonesia Mendalami Pengembangan AI
Dewi Agustina June 28, 2026 03:38 PM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) dalam acara penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh ribuan peserta yang terdiri dari rektor, direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, dosen, ilmuwan serta para peneliti termasuk dari BRIN dan mitra kolaborasi perguruan tinggi dan Kemendiktisaintek.

Baca juga: Presiden Prabowo: Saya Butuh Bertemu Orang-orang Pintar

Menurut Presiden, hampir semua negara kini mengejar pengembangan teknologi AI.

"Sekarang AI, Artificial Intelligence. Hampir semua negara sekarang mengejar AI, tidak mau ketinggalan," kata Presiden.

Bahkan menurut Prabowo, sekarang ini sudah ada yang lebih maju yakni agen AI yang bekerja untuk suatu negara atau kelompok. 

Jumlah agen AI tersebut diperkirakan kini mencapai 5 juta.

 

 

“5 juta, mungkin 5 juta itu tiga minggu lalu. Dan mereka katanya sudah punya apa itu namanya, chat room sendiri. 5 juta ini berbicara sendiri dalam bahasa kode mereka sendiri," katanya.

Meskipun penemu AI sendiri telah memberikan peringatan akan dampak dari penggunaan kecerdasan buatan tersebut, namun perkembangannya kata Presiden terus semakin canggih dan diterapkan pada berbagai aspek kehidupan. Bahkan juara satu catur dunia sekarang ini kalah oleh AI.

Oleh karena itu Presiden meminta para profesor, guru besar, peneliti, dan lainnya untuk mendalami pengembangan AI.

“Jadi saudara-saudara, inilah nanti para guru besar, para profesor yang harus mendalami itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, presiden Prabowo mengatakan dirinya harus sering bertemu dengan orang orang pintar dalam rangka mendengarkan dan menindaklanjuti usulan, pemikiran, dan inovasi untuk keberlangsungan bangsa Indonesia.

Karena itu, menurut saya, dan saya kalau empat kali bertemu para rektor itu bagi saya belum apa-apa. Kalau perlu tiap bulan kita ketemu. Benar, saya butuh jumpa dengan orang-orang pintar,” katanya.

Presiden menceritakan bahwa sejumlah profesor di Jakarta sering bertemu dengannya. 

Tidak hanya di Jakarta, Profesor di Bandung pun sama. 

Sambil berseloroh, Presiden merasa kasihan dengan para profesor tersebut yang harus bolak-balik bertemu dengannya.

“Saya kasihan sama beberapa profesor yang tinggal di sekitar Jakarta ini, bolak-balik dipanggil, ya kan? Saya dengar mereka itu tiap dua jam buka handphone. Yang di Bandung pun tidak ada alasan karena sekarang ada 'Whoosh'. Dipanggil ya 45 menit bisa di Jakarta kan?” katanya.

Presiden mengatakan para profesor, guru besar, dosen, dan peneliti merupakan bangsa Indonesia yang tinggal di NKRI.

Pemikiran akademis, inovasi, dan lainnya sangat dibutuh untuk keberlangsungan hidup bangsa.

Presiden berterima kasih kepada para profesor, akademisi, dan peneliti yang mau bertahan menghadiri sarasehan kebangsaan hingga penutupan sejak dibuka Jumat dua hari lalu.

“Jadi saudara-saudara, inilah yang kita inginkan. Kita berada di satu kapal besar yang namanya NKRI,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.