Bukan Sekadar Bisnis, Perjuangan Vita Merch Berdayakan Disabilitas di Tengah Keterbatasan Modal
Nuryanti June 28, 2026 09:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kehilangan alat tulis di sekolah mungkin terdengar seperti masalah sepele, namun hal itu sempat menjadi rutinitas yang menguji kesabaran Vironita Puspitasari. 

Berawal dari rasa gemas melihat tempat pensil sang anak yang kerap tertukar di taman kanak-kanak, ibu dua anak ini memutuskan untuk turun tangan. 

Berbekal mesin jahit warisan keluarga dan sisa kain seadanya, ia merangkai sebuah dusgrip (tempat pensil) personal yang dihiasi nama dari guntingan kain flanel pada 2010. 

Siapa sangka, karya sederhana yang murni lahir dari naluri seorang ibu itu kini menjelma menjadi Vita Merchandise, sebuah bisnis yang bahkan sukses memikat perusahaan alat tulis berskala besar.

Awalnya hanya berkreasi untuk sang anak, kini Vita Merchandise sudah memiliki puluhan produk seperti goodie bag custom, tas, dusgrip, pouch, clutch, dan lain sebagainya.

Nita mengaku tidak menggunakan promosi berlebihan untuk menggaet klien.

Bahkan, Nita kerap dipercaya meski hanya bermodalkan testimoni dari mulut ke mulut.

"Saya murni buat by order, tidak punya produk konsinyasi biar fokus kejar kualitas," terang Nita, Rabu (24/6/2026) sore.

Hal itu terbukti ketika melihat barisan tas yang memiliki bentuk dan model yang beragam.

Kecuali produk ikonik Vita Merchandise yang sengaja disiapkan untuk berbagai keperluan pameran.

Sejak karyanya mulai dikenal masyarakat dari getok tular, Nita mulai kebanjiran pesanan.

Warga Dusun 2, Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo ini makin kewalahan mengerjakan pesanan sendiri sehingga memulai mencari tenaga penjahit lepas melalui media sosial.

Baca juga: Kisah Secangkir Ramuan Wedang Rempah Mahfinara: Tak Pedulikan Laba, Dewi Buat Sekitar Tetap Berdaya

Kini, Nita sudah memiliki tujuh karyawan inti dan belasan tenaga lepas untuk produksi ketika terjadi lonjakan pesanan.

Menariknya dari ketujuh karyawan inti tersebut, Nita memberi ruang kepada perempuan yang menyandang disabilitas, baik penyandang tunadaksa karena kecelakaan ataupun penyakit bawaan seperti polio untuk bisa ikut berkarya dibawah naungan Vita Merchandise.

Bagi Nita, penyandang disabilitas juga perlu mendapat kesempatan yang sama untuk tetap produktif.

"Saya mau kasih kesempatan karena lihat etos kerjanya juga. Awalnya pelan-pelan ngajarin mereka. Lama-lama saya sesuaikan tugasnya dengan keahlian masing-masing, misal jahit lurus ke siapa, urusan tali ke siapa gitu," jelasnya.

Nita mengaku tidak ada kesulitan yang berarti ketika mempekerjakan perempuan disabilitas.

Dari segi hasil jahitan dan capaian targetnya sama dengan karyawan lain. Sehingga Nita mempercayakan mereka ke dalam tim karyawan inti.

"Mereka kan juga butuh kerja. Jahit ini juga bisa dibawa pulang sambil momong anak. Bisa disambi sekaligus dapat gaji," terang Nita.

UMKM PRODUSEN TAS - Karyawan perempuan disabilitas yang berkarya di Vita Merchandise, produsen tas di Dusun 2, Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Keduanya sedang menjahit tas tote bag pesanan pelanggan.
UMKM PRODUSEN TAS - Karyawan perempuan disabilitas yang berkarya di Vita Merchandise, produsen tas di Dusun 2, Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Keduanya sedang menjahit tas tote bag pesanan pelanggan. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Modal dari Nol

Ditanya soal rencana ekspansi bisnis, Nita mengaku belum tertarik memperluas usahanya melalui pasar digital.

Bagi dia, untuk merambah dunia digital memerlukan modal yang besar untuk sekadar promosi.

"Sebenernya digital marketing itu kalau punya duit enak. Kalau saya kan bener-bener modal dari nol, bahkan minus. Kain cuman satu meter tak coba bikin, yang kayak gitu, bukan yang dimodali," jelas Nita.

Karena kendala modal itu, Nita harus memutar otak agar tetap bisa melanjutkan produksi pesanan berikutnya.

Dia kemudian mengatasi hal itu dengan cara menerapkan pembayaran uang muka sebesar 50 persen untuk setiap pesanan yang diminta pelanggan.

Cara itu pun terbukti efektif tanpa harus mencari pinjaman modal.

Dia tak menyangka, selembar kain yang dulunya dijadikan solusi, kini berubah menjadi sumber rezeki.

"Padahal saya nggak pernah buka orderan, tapi gara-gara getok tular malah jadi kerjaan," ucap Nita.

Baca juga: Usia Tak Batasi Saryati Cari Ilmu demi Legalitas, Bawang Goreng SW Kini Mejeng di Supermarket Beken

Dengan penghasilan yang tak menentu, terkadang Nita justru memikirkan bagaimana menghabiskan waktu dengan bermanfaat.

Seperti mengikuti berbagai pelatihan sampai tingkat provinsi hingga menjadi anggota aktif Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Solo yang menjadi naungan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Hal itu semata-mata untuk memperluas jaringan agar produknya lebih dikenal dari mulut ke mulut.

Dia berprinsip, semakin tubuhnya aktif bergerak mencari ilmu dan kegiatan, maka akan semakin mengundang rezeki untuk datang.

"Pas lagi sepi-sepinya kadang saya mikir harus ngapain padahal karyawan juga berharap ada kerjaan. Tapi setiap saya bergerak dikit aja pasti handphone bunyi orderan masuk," ujar Nita semringah.

Nita mengaku sempat iseng mengikuti pelatihan dan otomatis tergabung dalam anggota pelaku UMKM aktif di Rumah BUMN Solo pada 2020 silam.

Waktu itu dia tertarik mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan bunga dari kain perca di kantor Rumah BUMN Solo.

"Sebenarnya pelatihan itu pun nggak nyambung dengan apa yang saya kerjakan, tapi tadi karena iseng dan ternyata pematerinya teman saya sendiri," ujar Nita.

Kurang lebih lima tahun bergabung, Nita terpilih sebagai peserta BRIncubator 2025 program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Berbagai manfaat ia dapatkan ketika menjadi peserta BRIncubator 2025 tersebut.

Di antaranya cara pembukuan, cara promosi di era kekinian hingga diajak ke berbagai pameran bergengsi yang bisa melebarkan jejaring bisnis.

Nita menjelaskan, materi digital marketing menjadi tantangan terbesarnya.

Sebab, mengurus bisnis di e-commerce bagi dia memerlukan banyak keahlian dan waktu.

Namun, dia tetap menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk media promosi atau sebagai wadah katalog produknya.

"E-commerce itu benturan waktu dan tenaga, tapi berkat pelatihan di BRIncubator saya bisa mengoptimalkan konten untuk media sosial," terangnya.

"Yang paling kerasa manfaatnya dari BRIncubator itu fasilitas dan jaringan saya jadi makin luas," tutupnya.

UMKM PRODUSEN TAS - Veronita Puspitasari, pemilik Vita Merchandise, produsen tas di Dusun 2, Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia memperlihatkan produk-produknya dengan berbagai macam tas.
UMKM PRODUSEN TAS - Veronita Puspitasari, pemilik Vita Merchandise, produsen tas di Dusun 2, Desa Purbayan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia memperlihatkan produk-produknya dengan berbagai macam tas. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Baca juga: Kisah Pedagang di Solo Adaptasi dengan Teknologi, QRIS BRI Bikin Cuan Makin Tinggi

Rumah BUMN Solo jadi Naungan UMKM

Program BRIncubator merupakan program pembinaan dan pelatihan UMKM yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak 2019 silam.

Mengutip laman resmi, Rumah BUMN Solo telah melibatkan 73.930 pelaku UMKM se-Solo Raya yang berjejaring dengan Bank BRI.

Dalam program ini peserta akan uji kemampuan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan daya saing UMKM agar naik kelas hingga pasar global.

Sehingga program inkubasi ini tidak memanjakan pesertanya untuk hanya menerima materi tanpa praktik.

Dengan persaingan yang sehat, pelaku UMKM dituntut memamerkan keahlian, mencapai target di setiap silabus yang dipelajari.

Hingga nantinya akan ada sembilan poin yang dinilai mentor untuk mendapatkan tiga peserta terbaik dalam satu musim pelatihan BRIncubator.

Tidak sekadar mencari juara, program ini bertujuan juga untuk mencari UMKM Unggulan di wilayah Solo Raya.

"Dari 25 peserta yang selesai program BRIncubator 2025 itu sudah otomatis jadi database UMKM Unggulan Rumah BUMN Solo," terang Condro Rini, fasilitator dari Bank BRI di Rumah BUMN Solo, Kamis (7/5/2026).

Meski sempat vakum selama 2 tahun, BRIncubator di Rumah BUMN Solo masih begitu diminati pelaku UMKM.

Hal tersebut terbukti dari antusiasme peserta dari berbagai penjuru.

Sebagai contoh, ada satu peserta yang berdomisili Kabupaten Wonogiri, menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer untuk dapat mengikuti program ini.

"Alhamdulillah banget, antusiasme dari 25 peserta BRIncubator Lokal itu sangat luar biasa. Mereka excited karena memang fresh beda dari sebelumnya," kata Condro semringah.

Eks Fasilitator Rumah BUMN Jogja ini mengatakan setelah lulus dari BRIncubator Lokal, peserta bisa berkesempatan mendaftar di program lanjutan BRIncubator Nasional.

Dia melanjutkan, alumni BRIncubator Lokal tidak bisa mendaftar lagi sebagai peserta program lokal.

Dengan manfaat yang berbeda, peserta yang mengikuti BRIncubator Nasional akan mendapatkan pelatihan ekspor, dan berpartisipasi dalam pameran BRI UMKM EXPO(RT) di ICE BSD City, Tangerang.

"Tujuan kami membuat mereka mandiri agar tidak bergantung pada kami. Maksudnya bergantung itu dalam artian sebatas minta modal dan lain-lain. Tapi yang kami harap pelaku UMKM setelah menjadi alumni BRIncubator bisa mendapatkan klien atau investor sendiri tanpa bantuan kami," tutup Condro.

RUMAH BUMN Solo - Condro Rini Fasilitator Rumah BUMN Solo ketika memamerkan produk UMKM alumni program BRIncubator.
RUMAH BUMN Solo - Condro Rini Fasilitator Rumah BUMN Solo ketika memamerkan produk UMKM alumni program BRIncubator. (Tribunnews.com/Isti Prasetya)

Langkah Pelaku UMKM untuk Berseri Lewat Program Inkubasi

Bagi nasabah Bank BRI yang memiliki gairah serupa dengan Nita, proses pendaftaran BRIncubator di Rumah BUMN Solo terbilang mudah.

Program ini rutin dibuka dalam beberapa gelombang (batch) setiap tahunnya.

Sebelum melangkah ke BRIncubator, pastikan usaha calon peserta sudah terdaftar sebagai anggota resmi Rumah BUMN Solo.

Setelah itu, calon peserta bisa datang langsung ke lokasi dengan membawa KTP dan profil usaha singkat.

Siapkan berkas-berkas penting yang menunjukkan usaha calon peserta sudah berjalan,  minimal sudah terhitung 6 bulan beroperasi.

Dokumen ini meliputi Nomor Induk Berusaha (NIB), foto produk berkualitas baik, serta catatan laporan keuangan sederhana jika ada.

Saat gelombang pendaftaran BRIncubator dibuka, tim Rumah BUMN Solo akan membagikan tautan formulir pendaftaran khusus.

Di sini, calon peserta akan diminta mengisi detail omzet, kapasitas produksi, serta tantangan terbesar yang sedang dihadapi bisnisnya.

Tim kurator dari BRI dan para ahli akan menyaring pendaftar.

Jika lolos seleksi berkas, peserta akan diundang ke Rumah BUMN Solo untuk mempresentasikan produk (pitching) dan menceritakan visi jangka panjang bisnis di hadapan juri.

Lolos sebagai peserta BRIncubator baru menjadi awal dari petualangan sesungguhnya. 

Selama beberapa minggu ke depan, suasana di Rumah BUMN Solo akan dipenuhi dengan kelas-kelas intensif. 

Peserta akan belajar langsung dari para mentor nasional mengenai infografis pasar, strategi branding, hingga bagaimana cara menembus pembiayaan modal yang sehat dari BRI.

Bagi Kota Solo yang sarat akan budaya dan kreativitas, kehadiran BRIncubator di Rumah BUMN menjadi oase bagi modernisasi UMKM. 

Bukan lagi sekadar memproduksi barang, namun bagaimana menciptakan produk lokal dengan manajemen kelas dunia.

(Tribunnews.com/Isti Prasetya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.