Mayor Golani IDF Tewas di Lebanon, Kesepakatan Israel-Lebanon Langsung Dikecam Ben-Gvir
Hasiolan Eko P Gultom June 28, 2026 10:19 PM

Mayor Golani IDF Tewas di Lebanon, Kesepakatan Israel-Lebanon Langsung Dikecam Ben-Gvir
 

 

TRIBUNNEWS.COM - Tentara Israel (IDF) mengumumkan seorang perwira muda tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan, di saat kesepakatan kerangka antara Israel dan Lebanon justru memicu perdebatan di dalam pemerintahan Israel serta penolakan dari Hizbullah.

Dalam pernyataannya pada Minggu, militer Israel menyebut korban adalah Mayor David Hazet (21), yang menjabat sebagai komandan kompi di Batalyon ke-12 Brigade Golani.

Baca juga: Hizbullah Garis Pertahanan Terdepan, Iran: Lebanon Jadi Fokus Utama Pembicaraan dengan AS di Swiss

Pihak militer tidak merinci lokasi maupun kronologi pertempuran yang menyebabkan kematiannya.

Pengumuman tersebut muncul hanya sehari setelah pemerintah Israel mengumumkan tercapainya kesepakatan kerangka dengan Lebanon melalui mediasi Amerika Serikat.

Netanyahu Sebut Kesepakatan Bersejarah

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyambut kesepakatan tersebut sebagai pencapaian diplomatik yang penting.

Dalam konferensi pers pada Sabtu, Netanyahu mengatakan kesepakatan itu berhasil mengembalikan aturan keterlibatan di front utara sekaligus memberikan tekanan terhadap Iran dan Hizbullah.

"Kami telah mencapai kesepakatan bersejarah bagi Negara Israel setelah negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon," ujar Netanyahu.

Ia menilai kesepakatan tersebut merupakan pukulan strategis bagi Iran dan Hizbullah.

Ben-Gvir: Lebanon Tak Akan Melucuti Hizbullah

Namun, pandangan berbeda datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.

Melalui unggahan di Telegram, Ben-Gvir menyebut perjanjian tersebut sebagai "kesalahan besar" karena meragukan kemampuan pemerintah Lebanon untuk melucuti persenjataan Hizbullah.

"Negara Lebanon tidak akan melucuti senjata Hizbullah," kata Ben-Gvir.

Ia juga menilai sejumlah menteri di pemerintahan Lebanon memiliki hubungan dengan Hizbullah sehingga, menurutnya, Beirut tidak dapat dipercaya menjalankan komitmen tersebut.

Ben-Gvir menegaskan hanya militer Israel yang mampu melemahkan Hizbullah.

"Hanya tentara Israel yang mampu menghancurkan Hizbullah, dan tidak ada pihak lain yang akan melakukannya untuk kita," ujarnya.

Ia mengaku telah meminta Netanyahu membawa kesepakatan itu ke pemungutan suara kabinet sebelum ditandatangani.

Israel Waspadai Respons Hizbullah

Di tengah proses implementasi kesepakatan, seorang sumber keamanan Israel yang dikutip Yedioth Ahronoth mengatakan militer telah meningkatkan kesiagaan menghadapi kemungkinan respons Hizbullah.

Menurut sumber tersebut, Hizbullah diperkirakan tidak akan tinggal diam setelah penandatanganan perjanjian dan berpotensi melakukan serangan terhadap pasukan Israel di wilayah utara.

Israel, kata sumber itu, siap meningkatkan operasi militer apabila Hizbullah berupaya menggagalkan proses diplomatik.

Sumber tersebut juga menyatakan Washington diyakini tidak akan membiarkan Iran maupun Hizbullah menghambat implementasi kesepakatan.

Hizbullah Tolak Isi Perjanjian

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan organisasinya menolak kesepakatan tersebut.

Dalam pernyataan tertulis pada Sabtu, Qassem menilai sejumlah ketentuan yang mengaitkan penarikan pasukan Israel dari Lebanon dengan pelucutan senjata Hizbullah tidak dapat diterima.

Ia juga menuduh perjanjian itu melegitimasi keberadaan militer Israel di wilayah Lebanon dan melampaui batas yang menurutnya tidak boleh dilanggar.

Isi Kesepakatan

Berdasarkan informasi yang diumumkan para pihak, kesepakatan kerangka yang dicapai di Washington pada Jumat malam mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari sejumlah wilayah di Lebanon selatan.

Sebagai gantinya, tentara Lebanon akan dikerahkan ke wilayah tersebut. Namun, kesepakatan juga memberikan ruang bagi pasukan Israel untuk tetap berada sementara waktu di zona keamanan tertentu hingga tahapan berikutnya diselesaikan.

Meski telah diumumkan, implementasi kesepakatan masih dibayangi perbedaan sikap di internal Israel serta penolakan dari Hizbullah, yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan perbatasan Lebanon-Israel dalam waktu dekat.

 

(oln/Khaberni/*)

 

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.