Tim 9 Dorong Pemerintah Lindungi Kawasan Warisan Batu Tulis hingga Alun-Alun Masjid At Thohiriyah
Suut Amdani June 28, 2026 10:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR – Momentum Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 dimanfaatkan para pegiat dan pelestari budaya yang tergabung dalam Tim 9 untuk mengingatkan pentingnya pelestarian Kawasan Cagar Budaya Batu Tulis di Kota Bogor sebagai pusat sejarah Kerajaan Pajajaran.

Melalui rangkaian kegiatan bertajuk "Amanat Kebudayaan di Tanah Pajajaran: Peran Strategis Pemerintah Pusat dalam Pelestarian Situs Batu Tulis", Tim 9 menekankan bahwa upaya penyelamatan situs bersejarah tersebut tidak dapat lagi hanya mengandalkan pemerintah daerah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Provinsi.

TIM 9 terdiri dari: Abdullah Batarfie (Pemerhati Sejarah Empang Bogor, Komunitas JAPAS — Jalan Pagi Sejarah), Arifin Himawan (Ketua Cap Go Meh Kota Bogor), Dewi Djukardi (Arsitek, Ahli Hukum Cagar Budaya dari Roemah Kahoeripan). Endang Sumitra (Pemerhati Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor), Gatut Susanta (Penulis buku Golok), Hady Rachmat (Pemerhati Sejarah Pendiri Masjid Agung At Thohiriyah, bunker di area Batu Tulis). Syani N. Yanuar (Pegiat Pelestari Lingkungan  Komunitas Trisula Pajajaran Sakti) dan Johnny Pinot (Pegiat dan Kreator Konten Sejarah)

Tim 9 menyampaikan, Batu Tulis merupakan episentrum sejarah Kerajaan Pajajaran yang memiliki nilai penting bagi identitas nasional.

Namun, memasuki usia Bogor yang ke-544 tahun, kawasan tersebut menghadapi berbagai tantangan, mulai dari modernisasi hingga risiko degradasi fisik akibat pembangunan infrastruktur di sekitarnya.

"Pelestarian kawasan Batu Tulis membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar perlindungan terhadap warisan budaya ini dapat berjalan secara berkelanjutan, telah mendapat dukungan dari Fadli Zon, dan KDM," ujar Dewi Djukardi.

Sebagai bagian dari gerakan pelestarian budaya, Tim 9 menggelar sejumlah kegiatan sosialisasi di berbagai institusi pendidikan dan akademik di Kota Bogor.

Baca juga: Kementerian Kebudayaan Akan Tambah 430 Cagar Budaya Baru

Di Sekolah Regina Pacis Bogor, kegiatan difokuskan pada edukasi pelestarian warisan budaya kepada pelajar. Program ini bertujuan menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas nasional dengan mengenalkan situs-situs sejarah terdekat di kota sendiri melalui pendekatan digitalisasi inventaris budaya.

Sementara itu, di Fakultas Pariwisata dan Informatika IBI Kesatuan Bogor, diskusi diarahkan pada peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis pariwisata budaya di sekitar kawasan cagar budaya. Generasi muda didorong untuk menciptakan inovasi yang mampu mengangkat nilai sejarah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Adapun di Departemen Lanskap Budaya IPB University, para akademisi mengkaji kebijakan tata ruang Kota Bogor yang berpotensi memengaruhi keberlangsungan pelestarian  kawasan cagar budaya Batu Tulis sampai Alun-Alun dan Masjid tertua di Bogor. 

Kajian tersebut mencakup dampak pembangunan infrastruktur transportasi terhadap tata ruang, sistem hidrologi, serta keberadaan vegetasi kuno di sekitar situs bersejarah tersebut, termasuk  Alun-alun dan Masjid Agung At Tohiriyah.

Tim 9 juga mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat pelestarian kawasan Batu Tulis. Di antaranya sinkronisasi regulasi antara Kementerian Kebudayaan dan Pemerintah Kota maupun Kabupaten Bogor, pengembangan kawasan sebagai pusat studi sejarah Pajajaran yang interaktif dan ramah publik, serta optimalisasi implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya melalui dukungan anggaran pemerintah pusat.

Selain itu, terdapat beberapa program yang diusulkan untuk direalisasikan dalam waktu dekat, seperti pengembangan ekosistem wisata sejarah digital berbasis Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) antara Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), sejarawan dan pemerintah daerah, hingga penyusunan naskah rekomendasi kebijakan yang akan diserahkan kepada Menteri Kebudayaan

lihat foto
EDUKASI PELESTARIAN - Di Sekolah Regina Pacis Bogor, kegiatan difokuskan pada edukasi pelestarian warisan budaya kepada pelajar.

Tim 9 juga mendorong penyelenggaraan Simposium Kebudayaan dalam rangka HJB ke-544 yang melibatkan mahasiswa, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat umum.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Tim 9 berharap Kawasan Cagar Budaya Batu Tulis sampai ke Alun- Alun Masjid Tertua di Bogor, dapat memperoleh perhatian lebih besar dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kebudayaan, sebagai destinasi ekowisata budaya dan nilai sejarah Masjid tertua di Bogor berciri khas era Mataram Islam dengan Alun-Alunnya sebagai struktur Cagar Budaya.

Usulkan Jalan Baru Lawang Gintung–Batutulis–Cipaku Bernama R. Odang Prawiradireja

Pemerhati Sejarah Empang Bogor, Abdullah Abubakar Batarfie, mengusulkan agar jalan baru yang menghubungkan kawasan Lawang Gintung, Batutulis, hingga Cipaku diberi nama R. Odang Prawiradireja.

Bahwa pembangunan jalan yang segera direalisasikan Pemerintah Kota Bogor itu bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi juga momentum untuk mengangkat kembali sejarah dan menghormati tokoh yang berjasa bagi Kota Bogor.

Ia mengapresiasi langkah Pemkot Bogor yang akhirnya merealisasikan pembangunan jalan yang telah lama dinantikan masyarakat. Menurutnya, kota yang maju tidak hanya membangun sarana fisik, tetapi juga menjaga dan menghargai sejarahnya.

Abdullah menilai R. Odang Prawiradireja merupakan sosok yang layak diabadikan sebagai nama jalan karena merupakan wali kota pertama Bogor setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945. Di tengah situasi awal kemerdekaan yang penuh tantangan, R. Odang Prawiradireja berperan dalam menjaga jalannya pemerintahan di Kota Bogor sebelum pemerintahan sipil terbentuk.

"Memberikan nama Jalan R. Odang Prawiradireja bukan sekadar simbol, tetapi bentuk penghormatan kepada pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Kota Bogor," ujar Abdullah dalam pernyataan tertulisnya.

Tim 9  berharap pemberian nama tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas sejarah Kota Bogor. Menurutnya, nama jalan tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, tetapi juga menjadi media edukasi dan pengingat bagi masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang berjasa membangun daerahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.