SURYA.CO.ID, SURABAYA - Masa liburan sekolah menjadi masa penantian yang terasa panjang bagi banyak pekerja SPPG.
Kondisi itu setidaknya terungkap dari kisah dua pekerja SPPG di kota Surabaya, Jawa Timur, di saat operasional SPPG tempat mereka berkerja berhenti di masa libur sekolah saat ini.
Dua pekerja SPPG asal Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya, Satria (28) dan Putra (22) kini diliputi rasa harap harap cemas.
Baru 4 bulan bekerja, keduanya terpaksa menelan pil pahit.
Libur sekolah selama satu bulan sejak Juni sampai Juli 2026, membuat operasional SPPG, tempat Satria dan Putra bekerja, ikut berhenti sementara.
Kini nasib mereka sebagai tenaga kerja SPPG menggantung.
Bukan hanya tidak mendapatkan pemasukan, Satria dan Putra kompak menyandang status sebagai pengangguran.
Baca juga: Kondisi SPPG di Kota Surabaya di Masa Liburan Sekolah, Tertutup Rapat dan Enggan Berkomentar
Sembari menunggu SPPG di Kecamatan Wonocolo kembali beroperasi, Satria mengaku tengah mencari pekerjaan sampingan.
“Sementara kesibukan sebagai pekerja serabutan bagian masak makanan,” ungkap Satria, ditemui di Wonocolo, Surabaya, Jumat (26/6/2026).
Ia menyadari, bertahan hidup dengan mengandalkan gaji hasil dari pekerjaannya di SPPG tidaklah cukup.
Tak heran jika Satria memilih tetap kerja sampingan, sambil berharap ada informasi kegiatan SPPG kembali dibuka.
“Saya di SPPG bekerja sebagai anggota tim juru masak. Baru kerja sejak Februari 2026, libur sekolah 1 bulan harus tetap cari pemasukan,” tuturnya.
Dia menambahkan, semua aktivitas SPPG sementara waktu libur, termasuk bagian memasak, sampai dengan pendistribusian makanan.
“Kecuali bagian jaga 1 orang tetap masuk, jadi tidak ada kegiatan di SPPG sama sekali,” imbuh Satria.
Ketika ditanya terkait iklim kerja di SPPG, Satria tidak menampik, hubungan dengan kolega sangat nyaman, bahkan seperti keluarga sendiri.
“Susah senang bareng, tim kompak. Sesulit apapun tetap membantu. Berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya sebagai buruh pabrik,” ungkapnya.
Menurutnya, SPPG tersebut menaungi 50 pekerja.
Setiap hari puluhan tenaga kerja SPPG mulai beroperasi dari jam Jam 00.00 WIB, sampai 08.00 WIB.
“Harapan kami pemerintah lebih memperhatikan lagi operasional SPPG.Dengan ditutup kami tidak mendapatkan pemasukan,” pungkas Satria.
Baca juga: Kadin Jatim Kumpulkan Pengelola SPPG Cari Solusi Keberlanjutan MBG
Jika Satria sudah memiliki pekerjaan sampingan sebagai Serabutan Memasak, maka lain hal nya dengan Putra.
Putra lebih memilih terus menunggu kepastian pembukaan SPPG.
Pasalnya, dia sampai sekarang belum menemukan pekerjaan sampingan.
“Sekarang saya hanya bisa menunggu libur sekolah segera selesai,” kata Putra.
Putra yang bekerja sebagai Pemorsian Makan Bergizi Gratis, menikmati suasana pekerjaan di SPPG Kecamatan Wonocolo itu.
Terlebih lagi sebelumnya, Putra bekerja sebagai Penyortir Paket Ekspedisi Online selama beberapa tahun.
“Saling support satu sama lain. Hampir setiap hari saya memberikan porsi MBG sebanyak 3.000,” ucapnya.
Bagi Putra, tidak masalah jika harus melewati prosedur sterilisasi, sebelum pemorsian Makan Bergizi.
“Justru itu jadi pengalaman berharga bagi saya. Memastikan porsi MBG benar benar berkualitas,” sambungnya.
“Semoga cepat masuk sekolah lagi biar SPPG kembali beroperasi, dan ada pemasukan,” tutup Putra.