Tribunlampung.co.id, Pematangsiantar - Isak tangis memilukan menyelimuti aksi tabur bunga dan doa bersama di Taman Bunga Pematangsiantar, Jalan Merdeka, Sabtu (27/6/2026) pagi.
Baca juga: Atlet Tinju Lampung Dikeroyok di Kawasan PKOR Way Halim, Bagian Kepala Robek Dirawat di Rumah Sakit
Dahlia Siallagan, ibunda dari almarhum Jaka Jannes Malau, pemuda yang tewas tragis akibat dikeroyok secara brutal, tak mampu membendung penyesalan mendalam.
Sembari meneteskan air mata, ia mempertanyakan hilangnya rasa kemanusiaan dari puluhan warga yang berada di lokasi kejadian saat nyawa anaknya dihabisi.
Dengan tangan bergetar, Dahlia menaburkan beras di atas tanah tempat anaknya mengembuskan napas terakhir sebagai simbol kehidupan dan pelepasan adat yang sarat kepedihan.
“Selamat jalan nak. Biarlah peristiwa ini menjadi yang pertama dan terakhir. Kami hanya ingin keadilan,” ucap Dahlia dengan suara parau menahan pilu.
Dahlia sangat menyayangkan sikap apatis dari kerumunan massa di sekitar Taman Bunga saat malam kejadian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi penganiayaan tersebut sebenarnya disaksikan oleh banyak orang, namun tidak ada satu pun penonton yang berani bergerak untuk melerai atau menyelamatkan korban.
"Begitu banyaknya warga yang melihat anakku dipukuli, kenapa enggak ada warga yang menolong anakku ini," ujarnya meratapi nasib sang putra, dilansir Tribun-Medan.com.
Gerakan solidaritas tabur bunga ini mendadak viral setelah sejumlah foto dan video acara diunggah oleh warga bernama Samsudin Harahap di akun Facebook pribadinya.
Unggahan tersebut langsung diserbu netizen yang mengklaim mengantongi bukti rekaman video pengeroyokan di lapangan.
Publik kini mulai mencium aroma tidak sedap berupa dugaan rekayasa kasus. Netizen secara berani menyeret inisial WS, seorang pejabat tinggi yang menjabat sebagai Dewan Pengawas di satu di antara BUMD Kota Pematangsiantar, yang dilantik oleh Wali Kota Wesly Silalahi pada tahun 2025, sebagai aktor utama atau otak di balik pengeroyokan tersebut.
Namun, hingga detik ini, WS belum tersentuh hukum dan belum ditetapkan sebagai tersangka.
"Semogalah upaya para pengacara berhasil dan semoga pihak polisi bekerja secara profesional, sehingga tidak ada pelaku yang jadi 'tumbal rekayasa' yang ditahan, sementara pelaku yang sebenarnya tetap bebas berkeliaran," tulis Samsudin dalam statusnya yang dibagikan ribuan kali.
Didampingi tim kuasa hukum terkemuka yang terdiri dari Gokma Sagala, Rudi Malau, Chandra Malau, Mindo Nainggolan, dan Juan Butar-Butar, pihak keluarga mendesak keras agar Polres Pematangsiantar membuka secara transparan rekaman CCTV di sekitar Jalan Merdeka sebelum, saat, dan sesudah insiden pengeroyokan terjadi.
Kakak kandung korban, Sari Agustina Malau, dengan nada tinggi menegaskan bahwa rekaman kamera pengawas tersebut adalah kunci utama untuk membongkar siapa saja eksekutor sebenarnya.
Ia menuding pihak kepolisian tidak transparan dan seolah-olah sengaja mengulur waktu untuk mengaburkan fakta hukum demi melindungi figur tertentu.
Merespons mandeknya penyidikan di tingkat resor, pengacara Gokma Sagala mengancam akan mengambil langkah hukum yang lebih tinggi jika Polres Pematangsiantar tetap jalan di tempat.
"Kami akan melaporkan penanganan kasus ini langsung ke Polda Sumatra Utara, Mabes Polri, hingga mengadu ke Komisi III DPR RI," tegas Gokma.
Tragedi pembunuhan Jaka Jannes Malau kini telah bergeser menjadi perhatian nasional.
Lembaga pengawas eksternal seperti Komisi Kepolisian Nasional (Komnas), Indonesia Police Watch (IPW), hingga pengacara kondang Hotman Paris dikabarkan mulai memantau ketat pergerakan kasus ini.
Masyarakat menuntut agar korps baju cokelat tidak hanya menahan enam pelaku semenjana yang menyerahkan diri setelah kasusnya viral di media sosial, melainkan harus berani menyeret sang aktor intelektual ke pengadilan.
Kasus ini kini menjadi ujian berat bagi kredibilitas dan transparansi penegakan hukum di Kota Pematangsiantar di bawah komando Kapolres AKBP Sah Udur T.M. Sitinjak.