SURYA.CO.ID - Nama Abdul Haris Agam, atau yang lebih akrab disapa Agam Rinjani, kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Namun, kali ini bukan karena aksi heroiknya, melainkan adanya penolakan keras dari sejumlah pelaku wisata dan tokoh adat di lingkar Gunung Rinjani terkait rencana kedatangannya.
Padahal pada tahun 2025 lalu, Agam menuai apresiasi luas setelah keberhasilannya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari jurang sedalam 600 meter.
Lantas, apa yang memicu perubahan sikap masyarakat setempat tersebut?
Penolakan ini mencuat setelah Agam berencana kembali ke Gunung Rinjani bersama konten kreator ternama, Panji Petualang.
Kunjungan tersebut sedianya ditujukan untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins. Namun, Forum Wisata Lingkar Rinjani secara tegas menyatakan keberatan.
Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengungkapkan bahwa penolakan tersebut didasari oleh isu pengelolaan dana donasi pasca-evakuasi Juliana yang dianggap belum transparan.
"Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas," ujar Royal.
Selain masalah finansial, penyematan gelar Pawang Rinjani kepada Agam juga menjadi pemicu kemarahan tokoh adat.
Menurut Mertawi, tokoh adat Sembalun, gelar tersebut memiliki makna sakral dalam tradisi masyarakat setempat dan tidak bisa diberikan secara sembarangan.
"Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani," tegas Mertawi.
Kegaduhan ini akhirnya membuat Panji Petualang angkat bicara.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Panji menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat Lombok karena merasa tidak mengetahui adanya konflik lama yang melibatkan rekan pendakiannya tersebut.
"Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan-ku," tulis Panji melalui akun @panjipetualang_real.
Panji mengaku khilaf telah menggunakan istilah Pawang Rinjani dalam kontennya tanpa memahami sensitivitas budaya lokal di wilayah tersebut.
Terlepas dari polemik yang terjadi, sosok Agam Rinjani memiliki latar belakang yang inspiratif.
Lahir di Makassar pada 22 Desember 1988, Agam menghabiskan masa kecilnya sebagai pemulung di TPA Antang untuk membantu ekonomi keluarga.
Semangatnya untuk belajar membawanya masuk ke jurusan Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas).
Di sanalah ia mengasah kemampuan mendaki dan teknik penyelamatan melalui organisasi Korpala Unhas.
Setelah memutuskan menetap di Sembalun, Lombok Timur, Agam mengabdikan hidupnya sebagai pemandu, porter, dan relawan penyelamat.
Agam tercatat telah mendaki puncak Rinjani lebih dari 350 kali dan terlibat dalam sekitar 70 persen operasi evakuasi di gunung tersebut, termasuk misi vertical rescue yang sangat berisiko.
Namanya bahkan sempat harum di mata internasional ketika tim relawannya berhasil mengangkat jenazah Juliana Marins pada Juni 2025.
Saat itu, dedikasinya membuat pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penghargaan tinggi atas keberaniannya.