Kematian 5 Calon Manajer Kopdes Merah Putih harus Diusut Mendalam, Pigai Minta Jajarannya Pantau
Amalia Husnul A June 29, 2026 12:19 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Pengusutan kematian 5 peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang meninggal saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) akan dipantau Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM). 

Diketahui, meninggalnya 5 calon manajer Kopdes Merah Putih saat mengikuti Latsarmil menjadi sorotan publik.

Menteri HAM Natalius Pigai mengatakan telah memerintahkan jajarannya memantau di lapangan guna memastikan penyebab meninggalnya para calon manajer Kopdes Merah Putih saat Latsarmil dapat diungkap secara profesional dan transparan.

Langkah Natalius Pigai tersebut dilakukan menyusul bertambahnya jumlah korban meninggal dunia menjadi lima orang selama pelaksanaan Latsarmil yang menjadi bagian dari program pembentukan calon manajer KDMP dan KNMP.

Baca juga: Korban Bertambah Jadi 5 Orang, Istana Buka Suara Terkait Kelanjutan Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Minggu (28/6/2026) Natalius Pigai mengatakan, "Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa.

Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh." 

Diusut secara Profesional

Tak hanya meminta evaluasi, Pigai menegaskan proses pengusutan penyebab kematian lima peserta harus dilakukan secara mendalam.

Menurutnya, negara memiliki kewajiban memastikan setiap program yang melibatkan warga sipil berjalan dengan mengedepankan aspek keselamatan peserta.

"Lima peserta yang meninggal itu perlu diselidiki secara profesional untuk penyebabnya.

Saya perintahkan staf untuk lakukan pemantauan di lapangan," ujarnya.

Evaluasi Pelaksanaan Latsarmil

Pigai menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan Latsarmil bagi peserta SPPI.

Dia menjelaskan pendidikan yang diberikan sejatinya dapat difokuskan pada penguatan pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter disiplin tanpa harus menitikberatkan pada pola pelatihan fisik yang berlebihan.

Menurut mantan Komisioner Komnas HAM tersebut, pembentukan mental peserta tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan bercorak kemiliteran.

"Bagian yang ketiga ini (mental) tidak harus tanamkan sistem militer, tetapi sifatnya yakni disiplin, tanggung jawab, cepat, tepat, jujur," katanya.

Pigai juga mengingatkan agar pelaksanaan pelatihan tidak membebani seluruh peserta dengan aktivitas fisik yang melampaui kemampuan mereka.

"Harus menghindari latihan fisik yang berlebihan," ucapnya.

Nola jadi Korban Kelima 

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengumumkan bahwa total sudah ada lima orang calon manajer KDMP yang meninggal dunia saat menjalani Latsarmil.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMP) Kemenhan, Mayjeni TNI Ketut Gede Wetan Pastia membeberkan identitas kelima korban meninggal dunia tersebut.

Mereka adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.

"Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta program SPPI KDKMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti pelatihan bela negara dan manajerial," kata Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kemenhan, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ketut menjelaskan kronologi meninggalnya Nola yang menjadi korban meninggal dunia kelima di mana dirinya merupakan calon manajer KDMP yang mengikuti latsarmil di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan.

Dia mengatakan Nola meninggal dunia pada Jumat malam.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ketut mengatakan Nola masih sempat menjalani pembelajaran soal teknik perkebunan pada Jumat sore.

Namun, pada Jumat petang sekira pukul 18.45 WIB, Nola tiba-tiba mengeluhkan sesak napas disertai badan panas.

"Tim kesehatan satdik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang," kata Ketut. 

Nola tiba di IGD RS Singkawang sekira pukul 19.20 WIB dan langsung memperoleh perawatan medis.

Kemudian, dia dirujuk ke RSUD Abdul Azis Singkawang untuk memperoleh penanganan lebih komprehensif. Setibanya di rumah sakit, Nola langsung memperoleh penanganan intensif.

Namun, pada pukul 21.03 WIB, dia dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami henti jantung.

"Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan dan pada pukul 21.03 WIB almarhumah dinyatakan meninggal dunia," imbuh dia.

Di sisi lain, Ketut menjelaskan bahwa Nola telah dinyatakan memenuhi ketentuan saat pemeriksaan kesehatan. Hanya saja, ada catatan terkait kelebihan berat badan.

"Saat ini hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait kondisi yang dialami," ujar dia."

Empat Korban Sebelumnya

Sementara, empat calon manajer lainnya meninggal dunia dengan penyebab berbeda.

Peserta pertama, Yonanda Muhammad Taufik, meninggal pada 17 Juni 2026 akibat cardiac arrest atau henti jantung saat pengenalan lingkungan di Puslatpur Kodiklatad Baturaja. 

Sehari setelahnya pada 18 Juni 2026, Hanisha Musyarrafah mengembuskan napas terakhir karena heat stroke di Rindam VI/Mulawarman Balikpapan.

Pada 23 Juni 2026, Novia Ramadhani Sihotang wafat akibat TBC paru aktif saat menjalani perawatan di ruang ICU isolasi RS Utama dr. Esnawan Antariksa. 

Selanjutnya, Muhammad Rifqi Renaldi Gunawan meninggal pada 26 Juni 2026 karena pneumonia yang disertai komplikasi riwayat hipertensi dan obesitas.

Di hari yang sama pada 26 Juni 2026, Nola Diasari yang mengikuti pendidikan di Dodik Bela Negara Kalimantan juga wafat. 

Baca juga: 5 Calon Manajer Kopdes Meninggal, CELIOS: Apa Hubungan Latsarmil dengan Tugas Mengelola Koperasi?

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.