Baca juga: Pemkab Banyuasin Siapkan Lahan 6 Hektare untuk Sekolah Rakyat
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sekolah Rakyat di Sumatera Selatan mulai menerima peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027 atau tahun ajaran ke dua tahun ini.
Tahun ini, sebanyak 120 siswa diterima, terdiri dari 60 siswa tingkat SMA dan 60 siswa tingkat Sekolah Dasar di Sekolah Dasar Rakyat Terpadu 31 Palembang.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, mengatakan Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya.
Sebaliknya, Kementerian Sosial melakukan penjangkauan langsung kepada masyarakat kurang mampu agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan gratis.
Menurutnya, program Sekolah Rakyat diinisiasi Presiden Prabowo untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga miskin atau kurang mampu agar memperoleh hak pendidikan yang setara dan layak.
Di Sumatera Selatan sendiri, saat ini terdapat tiga lokasi Sekolah Rakyat yang masih dalam tahap pembangunan, yakni satu lokasi di Ogan Komering Ilir dan dua lokasi di Palembang.
Menteri Sosial berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat khususnya menciptakan generasi emas Indonesia.
"Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran tapi Kemensos yang menjangkaunya, jadi masyarakat harus memberikan data yang benar saat didata agar tepat sasaran dan benar-benar bermanfaat," katanya.
Hal tersebut terlihat dari antusiasme para orang tua dan calon siswa saat mengikuti kegiatan Open House Sekolah Rakyat yang digelar di Yayasan Sentra Budi Perkasa, Minggu (28/6/2026).
Siswa Tidak Bisa Membaca dan Masih Ngompol
Sementara itu, Kepala SD Sekolah Dasar Rakyat Terpadu 31 Palembang, Yuni, mengungkapkan proses mendidik siswa di Sekolah Rakyat memiliki tantangan tersendiri.
Selain memberikan pendidikan akademik, guru juga harus membentuk kemandirian anak-anak karena seluruh siswa tinggal di asrama.
Belum lagi siswa yang ingin pulang dan kembali ke orangtuanya karena tidak terbiasa berpisah dengan orangtuanya.
"Tantangan terbesar adalah melatih kemandirian mereka. Ada anak yang masih mengompol jadi setiap hari harus jemur kasur karena basah, sehingga harus dibimbing agar bisa mandiri, termasuk membiasakan hidup disiplin tanpa didampingi orang tua," ujarnya.
Selain itu, Yuni menyebut masih ada siswa yang belum pernah mengenyam pendidikan formal sehingga belum mampu membaca maupun menulis.
Kondisi tersebut membuat para guru harus memberikan pembelajaran secara lebih intensif.
Baca juga: Pemkot Palembang Siapkan Lahan Lanud SMH Jadi Alternatif Sekolah Rakyat
Tidak hanya guru, para ibu asuh di asrama juga berperan penting dalam membimbing anak-anak agar mampu beradaptasi, hidup mandiri, serta mengejar ketertinggalan kemampuan akademik mereka.
Program tersebut diharapkan mampu menciptakan kesempatan yang setara bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Seru dan menantang mendidik anak-anak ini tapi rasanya terharu saat mereka berhasil dibimbing dengan baik," tambah Yuni.