Emiten FITT Jual Dua Hotel untuk Danai Akuisisi Perusahaan Tambang
Choirul Arifin June 29, 2026 12:38 AM

TRIBUNNEWS.CPOM, JAKARTA — PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) menargetkan perbaikan kinerja keuangan melalui transformasi model bisnis dari operator perhotelan menjadi perusahaan induk investasi (investment holding) yang berfokus pada sektor pertambangan.

Langkah tersebut diwujudkan melalui akuisisi 50 persen saham PT Venturi Tambang Perkasa (VTP), perusahaan jasa penunjang pertambangan dan penggalian yang beroperasi di Luwuk, Sulawesi. Manajemen meyakini akuisisi ini akan menjadi titik balik bagi perseroan setelah bisnis hotel dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan.

Direktur FITT Ou Yang mengatakan perubahan portofolio usaha dilakukan untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil melalui bisnis jasa pertambangan yang didukung kontrak jangka menengah hingga panjang.

"Kami berharap melalui akuisisi ini terjadi pembalikan struktural dari hotel yang merugi menuju bisnis jasa tambang yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan," ujar Ou Yang dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, VTP menjalankan model bisnis business-to-business (B2B) dengan kontrak berbasis volume produksi wet metric ton (WMT), sehingga memberikan visibilitas pendapatan yang lebih baik dibandingkan bisnis perhotelan yang cenderung dipengaruhi fluktuasi tingkat hunian.

Sepanjang 2025, VTP membukukan pendapatan sebesar Rp128,7 miliar dengan laba operasional sekitar Rp36 miliar. Perusahaan tersebut juga memiliki total aset Rp169 miliar dan mencatat volume produksi nikel mencapai 742.321 ton.

Kinerja tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama FITT dalam melakukan diversifikasi usaha ke sektor pertambangan.

Divestasi Anak Usaha

Untuk mendanai aksi korporasi tersebut, FITT memilih melakukan divestasi terhadap dua anak usahanya yang bergerak di sektor perhotelan.

Perseroan melepas 99,99 persen saham PT BMP kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BBS) senilai Rp21,9 miliar dan menjual 99,96 persen saham PT FAW kepada PT Pratama Global Servindo (PGS) senilai Rp46,9 miliar.

Dari kedua transaksi itu, FITT diperkirakan memperoleh dana sekitar Rp67,9 miliar.

Baca juga: Analis Beberkan Dampak Kinerja Keuangan TPIA Usai Akuisisi Shell Singapura

Sebagian dana akan digunakan untuk mengakuisisi 50 persen saham VTP dari PT Sheng Yue Hengli senilai Rp46,5 miliar, sedangkan sisanya akan dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur permodalan melalui restrukturisasi utang.

Langkah tersebut dinilai akan memperkuat neraca perseroan sekaligus memberikan ruang yang lebih besar bagi ekspansi bisnis pada masa mendatang.

Target Jangka Panjang

Manajemen menyatakan transformasi bisnis tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui beberapa tahapan.

Pada satu hingga dua tahun pertama, fokus utama perseroan adalah menyelesaikan proses integrasi bisnis dan penataan struktur organisasi agar operasional berjalan lebih efisien.

Selanjutnya, dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun, FITT akan mengevaluasi peluang memperbesar kepemilikan di VTP menjadi lebih dari 50 persen apabila dinilai mampu meningkatkan nilai investasi dan mendukung strategi pertumbuhan jangka panjang.

Baca juga: Emiten RATU Dapat Restu Akuisisi Blok Madura Strait, Portofolio Migas Makin Gemuk

"Dalam jangka panjang, perseroan menargetkan konsolidasi ekosistem bisnis pertambangan sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan," kata Ou.

Melalui transformasi tersebut, FITT berharap dapat memperkuat posisinya sebagai perusahaan terbuka yang lebih adaptif terhadap perubahan siklus industri sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham melalui diversifikasi portofolio di sektor sumber daya mineral.

Dengan bergesernya sumber pendapatan dari bisnis perhotelan menuju jasa pertambangan, perseroan menargetkan struktur pendapatan yang lebih resilien serta profitabilitas yang lebih baik dalam jangka menengah hingga panjang.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.