Jalan Inggris Akhiri Penantian Gelar 60 Tahun Terjal, Brasil hingga Argentina Mengadang
Muhammad Nursina Rasyidin June 29, 2026 03:30 AM

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat sepak bola dari media sosial Analisis Kampung Sebelah, Hamid Anwar, menilai Inggris menjadi salah satu tim Eropa yang paling sial di bagan fase gugur Piala Dunia 2026.

Jalan The Three Lions -julukan timnas Inggris- untuk mengakhiri penantian gelar Piala Dunia sejak 1966 diprediksi akan sangat terjal.

Inggris berada di sisi bagan yang hanya dihuni tiga wakil Eropa, sementara mayoritas diisi negara-negara Amerika Selatan dan Afrika. Hanya tiga dari 13 negara Eropa yang berada di bagan sisi Inggris berada. Dua negara Eropa lainnya ada Norwegia dan Swiss.

Inggris berada di sisi bagan yang hanya dihuni tiga wakil Eropa, sementara mayoritas diisi negara-negara Amerika Selatan dan Afrika.

Sepuluh negara Eropa lainnya berada di sisi yang satunya.

"Negara Eropa yang paling sial menurut saya Inggris. Kenapa Inggris?," tanya Hamid Anwar dalam podcast Super Taktik Tribunnews yang bertajuk "Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus?" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah pada Minggu (28/6/2026) malam.

"Di bagan itu, seandainya pun mereka lolos, mereka akan bertemu Brasil. Setelah ketemu Brasil mereka akan bertemu Argentina," tambah Hamid.

Jika melihat keberadaan Inggris di babak fase gugur, anak asuh Thomas Tuchel memang mendapatkan tim 'mudah' di babak 32 besar, yakni RD Kongo. Tim yang secara ranking FIFA jauh di bawah timnas Inggris.

Bila menang, Inggris akan menghadapi pemenang antara tuan rumah Meksiko atau Ekuador. Ekuador merupakan satu dari empat tim Amerika Selatan yang berada di bagan ini, selain Brasil dan Argentina.

Jika mampu melewati RD Kongo dan pemenang Meksiko vs Ekuador, Inggris berpeluang menghadapi Brasil di perempat final. 

Di atas kertas, tim Samba lebih difavoritkan untuk mencapai fase tersebut usai menghadapi Jepang dan potensi duel melawan pemenang Pantai Gading vs Norwegia.

Prediksi di atas kertas dan sejumlah anali menjagokan tim Samba melaju ke babak perempat final.

Sayangnya, Inggris tidak punya modal yang cukup untuk melawan Brasil, tim tradisional yang memiliki karakter kuat di babak fase gugur Piala Dunia.

Tembok Besar Inggris

Brasil bak tembok besar bagi Inggris.

Dari empat pertandingan kedua tim di Piala Dunia, Inggris kalah tiga kali dan hanya sekali imbang dari Brasil.

Hasil imbang itu diperoleh di babak fase gugur Piala Dunia 1958, kemudian kalah berturut-turut dalam tiga edisi, tahun 1962 dengan skor 3-1 di perempat final, 1-0 dari generasi emas Pele (tahun 1970), dan yang terakhir di Piala Dunia 2002 lewat tendangan ikonik Ronaldinho.

Brasil menang 2-1 atas Inggris saat itu.

Seandainya pun menang, tentu hasil itu akan menjadi sejarah baru bagi skuad The Three Lions karena untuk pertama kalinya mengalahkan Brasil.

Namun, ujian belum berhenti karena berpeluang melawan juara bertahan Argentina dengan icon mereka, Lionel Messi. Inggris punya catatan yang cukup baik melawan tim Tango -julukan Argentina-.

Duel tersebut dikenang dengan rivalitas paling iconic lahirnya gol "Tangan Tuhan" dari mendiang Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 di mana Argentina keluar sebagai jawara.

Momen itu lahir di babak perempat final ketika Inggris takluk 2-1 dari Argentina.

Selain itu, Inggris pernah bertemu Argentina dalam empat edisi yang berbeda. 

Pada Piala Dunia 1962 menang 2-1 di babak fase grup, lalu menang 1-0 di perempat final edisi berikutnya.

Kemudian pada akhir tahun 1990an saat Prancis menjadi tuan rumah, Inggris bermain imbang 2-2 atas Argentina.

Pertemuan terakhir terjadi pada tahu 2002 ketika penalti Beckham menyelamatkan The Three Lions dengan kemenangan tipis 1-0.

"Itu adalah hal sial yang paling besar dalam sepak bola Inggris. Secara permainan Inggris tidak terlalu bagus," beber Anwar.

"Inggris melaju jauh bagi saya tidak mungkin karena akan menghadapi negara-negara yang tradisional, seperti jogo bonitonya Brasil dan Argentina si Tango," jelasnya.

Senada dengan Anwar, Football Enthusiast Agung Iqbal juga menilai kesalahan Inggris untuk berada di tengah kepungan wakil-wakil Amerika.

"Salah satu keputusan Inggris berada ada di bagan yang terdapat tradisi-tradisi negara sepak bolanya kuat, itulah kesalahannya Inggris," beber Agung.

"Kalau sudah di fase gugur beberapa negara besar ini di atas kertas akan diunggulkan dari negara-negara lain. Namun balik lagi, kalau sepak bola memang murni didesain untuk olahraga, sepak bola itu kan bulat. Sehebat apapun sebuah negara atau seorang pelatih di atas lapangan bukan hanya taktikal saja," terang Agung.

"Taktikal diperlukan seperti rumus matematika dan lain sebagainya, tapi di sepak bola ada satu hal yang memang yang jarang kita bicarakan, yaitu dewi fortuna," tambahnya.

Dengan potensi menghadapi Brasil di perempat final dan Argentina di semifinal, jalan Inggris menuju final memang menjadi salah satu yang paling berat dibanding kontestan lain. 

Bagi Hamid Anwar dan Agung Iqbal, kombinasi kualitas permainan, penguasaan taktik, hingga keberuntungan akan menjadi penentu apakah The Three Lions mampu mengakhiri penantian gelar juara dunia yang telah berlangsung selama enam dekade.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.