TRIBUNMANADO.CO.ID - Upaya pencarian korban tanah longsor di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) perkebunan Monsi, Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) membuahkan hasil.
Pada Minggu, 28 Juni 2026, salah satu korban hilang bernama Alif Tamimu (18) berhasil ditemukan.
Namun Alif Tamimu ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia.
Alif merupakan satu dari dua penambang yang sempat dinyatakan hilang pascainsiden nahas tersebut.
Jasad remaja ini dievakuasi setelah tim gabungan melakukan penyisiran intensif di sekitar lokasi kejadian.
Penemuan korban bermula saat tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Basarnas, BPBD, serta warga setempat, mencium bau tidak sedap di sekitar area pencarian.
Mengikuti petunjuk aroma tersebut, tim kemudian melakukan penggalian secara manual di dekat sebuah pohon besar.
Pohon tersebut berjarak sekitar 400 meter dari pusat kegiatan para penambang.
Menurut penuturan salah satu anggota BPBD yang berada di lapangan, posisi Alif saat ditemukan berada cukup jauh dari titik awal longsoran.
“Korban ditemukan di samping pohon besar sekitar 400 meter dari camp (tempat beristirahat) mereka,” kata dia.
Medan yang ekstrem membuat tim harus ekstra hati-hati saat mengeluarkan jasad korban yang terjepit material longsor dan pepohonan.
"Tubuhnya tertahan di salah satu batang pohon besar. Setelah itu korban kami evakuasi," beber dirinya.
Meski satu korban telah dievakuasi, tugas tim gabungan belum selesai.
Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto, menegaskan bahwa proses operasi SAR di area PETI perkebunan Monsi akan tetap dilanjutkan demi menemukan korban kedua, Rivaldo Kandouw (18).
"Pencarian masih terus kita lakukan. Karena masih ada satu korban lagi yang belum ditemukan," ujarnya.
Kapolres juga meminta dukungan penuh dari seluruh elemen yang terlibat agar proses evakuasi berjalan lancar dan cepat.
"Harapan kami semoga korban ditemukan," tegasnya.
Keluarga dari Rivaldo Kandouw (18) menggelar doa bersama langsung di tempat kejadian perkara (TKP) longsor, Minggu (28/6/2026).
Rivaldo, remaja asal Desa Wineru, Kecamatan Poigar, merupakan satu dari dua korban yang tertimbun material longsor.
Hingga saat ini, keberadaannya masih misterius dan dinyatakan hilang.
Pihak keluarga berkumpul di area longsoran demi mengetuk pintu langit.
Mereka berharap intervensi Yang Maha Kuasa bisa membawa pulang Rivaldo dalam waktu dekat.
"Kami sangat terpukul atas kejadian ini," ujar salah seorang anggota keluarga di lokasi.
Kesedihan tak mampu disembunyikan oleh orang tua korban.
"Orang tua dari korban berharap bisa segera ditemukan," tuturnya lagi.
Selain memohon keselamatan untuk Rivaldo, dalam untaian doa tersebut, pihak keluarga juga menyelipkan amanah penguatan bagi tim SAR gabungan yang sedang bertaruh peluh di lapangan.
"Semoga ada mukjizat daru Tuhan agar anak kami bisa ditemukan," tuturnya.
Bencana longsor ini sebelumnya dilaporkan menelan dua orang korban jiwa yang tengah beraktivitas di kawasan PETI Monsi.
Dari kedua korban yang tertimbun, satu penambang bernama Alif Tamimu (18), warga Desa Mopait, telah berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Sementara itu, proses pencarian terhadap Rivaldo Kandouw (18) alias Baim masih terus diupayakan secara maksimal.
Insiden ini bermula saat kedua korban sedang melepas lelah di dalam camp atau yang biasa disebut warga lokal sebagai daseng.
Lokasi peristirahatan mereka tersebut memang terletak tak jauh dari lubang tambang tempat mereka bekerja.
Seorang saksi mata, Oro Manopo, membeberkan detik-detik sebelum petaka itu datang bergulung.
Malam itu, telinganya sempat menangkap suara ganjil berupa patahan pepohonan dari arah perbukitan.
Menaruh curiga, ia bergegas keluar dan terkejut mendapati pergerakan tanah yang dari bagian atas bukit menuju ke arah camp.
Kasat Reskrim Polres Kotamobagu, Iptu Ahmad Waafi, mengungkapkan bahwa saksi sebenarnya sudah berupaya memberikan peringatan kepada para korban agar segera menyelamatkan diri.
"Sayangya camp tersebut diterjang longsor dan hilang," katanya, Minggu (28/6/2026) malam tadi.
Ganasnya material longsor tidak hanya mengubur daseng, tetapi juga menyapu bersih lima unit sepeda motor milik para penambang yang diparkir di area sekitar.
"Kemarin yang ditemukan itu ada dua sepeda motor," ucapnya.
Proses evakuasi dan penanganan awal sempat menemui kendala karena masalah geografis.
Para saksi dilaporkan agak terlambat memberikan informasi kepada pihak Polsek Lolayan lantaran buruknya jaringan telepon di area pedalaman tambang tersebut.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini