Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
Izin itu tak pernah datang saat zaman memilih berubah. Tanpa aba-aba, tanpa jeda dan nyaris tanpa belas kasihan, perubahan itu menyergap mereka yang merasa cukup memahami dunia.
Ia datang menyerupai arus sungai besar, yang terus mengalir, menghantam sana-sini, dan sementara kita dituntut berenang, berdiri di tepian atau tenggelam dalam aliran deras sungai.
Itulah yang terjadi saat tiba-tiba Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan imitasi datang.
AI merangsek lini pekerjaan manusia. Bukan satu, dua, atau tiga, namun beragam lini dimasuki.
Dampaknya, berkat AI, yang hari ini dianggap pasti, besok bisa menjadi usang. Yang kemarin dipandang mustahil, hari ini menjadi kebiasaan.
Manusia mendadak tergopoh-gopoh. Seminar diadakan. Pelatihan digelar. Informasi soal AI diutak-atik. Bahkan, kampanye perihal AI masa depan digaungkan berkali-kali, diulang-ulang karena AI berjalan tanpa memperhatikan stasiun pemberhentian.
Tanya-tanya muncul belakangan. Di tengah derasnya perubahan oleh AI, pertanyaan sederhana juga muncul. Bagaimana memahaminya agar tidak terus kedodoran mengikutinya? Atau, pilihan agak ekstrim yang diambil, untuk apa mengikutinya?
Pilihan jawaban atas tanya itu tidak mudah.
Bisa jadi banyak pilihan yang tersedia sebenarnya, tapi kita belum mengetahuinya. Sebab, perubahan yang terjadi bukan soal teknologi semata.
Teknologi disebut hanya permukaan. Yang dituntut berubah justru cara manusia berpikir, bekerja, berkomunikasi dan terkadang memaknainya.
Namun, kemampuan tersebut nyaris semakin langka saat ini. Tengok saja, saat kita dibanjiri data.
Kita mengetahui begitu banyak hal, tapi justru lemah untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Dari sekian data yang dihimpun AI, kita justru meminta AI untuk memberikan permaknaan atas data yang ada.
Mirisnya, jurus-jurus menunaikan perintah berupa prompt digelar agar AI bisa juga memahami makna di balik data yang ada.
Paradoks, bukan?
Pengetahuan kian bertambah, kebijaksanaan ternyata belum tentu ikut tumbuh.
Ya, memang itu yang terjadi. Kita seolah digiring zaman. Tanpa persiapan. Semua datang dengan senyum manis, sehingga nyaris ada perlawanan atau pergolakan ala mahasiswa yang akhir-akhir ini juga timbul tenggalam.
Toh, kita juga dilatih diam-diam. Meski terkadang timbul tenggalam, latihan dalam perubahan sudah berlangsung sejak covid melanda.
Setiap pagi jutaan informasi memenuhi layar telepon genggam.
Dari mesin alogaritma, kita dilatih merasa mengikuti perkembangan, meski sering kali kisah yang ada hanya mengikuti keramaiaan.
Pelan-pelan, kita mencoba memahami alogaritma. Tanpa banyak berbicara tentang teori besar. Saat itu, cukup melihat kenyataan di lapangan. Perubahan lalu disentuh, dicoba, diuji, bahkan kerap gagal lebih dulu.
Hasilnya, perusahaan rintisan mendadak berkembang. Mereka mengalahkan organisasi besar.
Dari mereka kita baru menyadari bahwa yang membedakan bukan kecerdasan, melainkan keberanian mencoba sebelum semuanya terasa sempurna.
Perubahan tidak datang karena seminar. Dunia berubah karena orang berani melakukan sesuatu.
Namun keberanian tanpa arah juga berbahaya. Mengejar semua tren hanya akan membuat seseorang kelelahan.
Hari ini belajar satu aplikasi, besok berpindah ke aplikasi lain. Hari ini mengejar satu peluang bisnis, minggu depan berganti lagi. Akibatnya energi habis, tetapi kompetensi tidak pernah benar-benar terbentuk.
Pelajaran kedua pun dipetik. Memahami zaman bukan berarti mengikuti semua arus. Kadang justru diperlukan keberanian untuk memilih arus mana yang layak diikuti.
Kita diajak berlatih membaca pola dari arus yang ada.
Peristiwa boleh berubah setiap hari, tetapi pola biasanya lebih lambat berubah.
Kecerdasan buatan hanyalah salah satu contoh. Yang sesungguhnya sedang berlangsung adalah otomatisasi pekerjaan berbasis pengetahuan. Bukan sekadar hadirnya aplikasi baru, melainkan bergesernya cara manusia menghasilkan nilai.
Dalam petik-petik Latihan itu, diam-diam kita diajari pelajaran lain, yakni menjaga karakter.
Perubahan sebaiknya tidak mananggalkan nilai-nilai dasar manusia. Kejujuran, integritas, empati dan nilai manusia lainnya mesti diperkuat.
Nilai itu akan menjadi dasar untuk menimang sebuah kepastian. Sebab, dunia tidak hitam dan putih. Ada lapisan pengalaman, sejarah, kepentingan dan perspektif yang membentuknya, meski jalannya per lahan.
Apakah latihan-latihan ala menjajal alogaritma akan kita ulang demi meladeni kecerdasan imitasi? Semua tergantung sudut pandang kita selaku manusia, atau bisa jadi kita sebagai bagian dari kecerdasan imitasi itu sendiri.