TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Ada cara tak biasa yang dilakukan pendukung Bupati nonaktif Pati, Sudewo saat mengikuti aksi dukungan pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (29/6/2026).
Seorang loyalis bernama Suparjan atau yang akrab disapa Juragan Kayu (JK) mengaku telah bernazar apabila Sudewo dibebaskan tanpa syarat.
Pria asal Kabupaten Pati itu mengatakan, dirinya akan berjalan mundur tanpa alas kaki dan spion sejauh sekira 24 kilometer, dari Desa Srikaton menuju Pendopo Kabupaten Pati.
Baca juga: Orasi Sudewo Usai Sidang di Depan Loyalis, Singgung Infrastruktur Pati hingga RSUD Soewondo
"Saya bersumpah, bila Pak Sudewo hari ini bebas tanpa syarat, saya akan berjalan kaki mundur tanpa alas kaki dari Srikaton sampai Pendopo Kabupaten Pati," kata Suparjan kepada Tribunjateng.com, Senin (29/6/2026).
Dia menyebut, jarak yang akan ditempuh mencapai sekira 24 kilometer.
Bagi Suparjan, nazar tersebut bukanlah aksi pertamanya sebagai bentuk dukungan kepada Sudewo.
Dia mengungkapkan, sebelumnya juga pernah berjalan kaki tanpa alas kaki dari Desa Srikaton menuju Pendopo Kabupaten Pati ketika Sudewo masih menjabat sebagai Bupati.
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk doa dan dukungan terhadap kepemimpinan Sudewo.
"Dulu saya juga sudah melaksanakan nazar berjalan kaki dari Srikaton sampai Kabupaten Pati tanpa alas kaki," ujarnya.
Suparjan mengaku nazar tersebut bukan tanpa alasan.
Menurutnya, selama dipimpin Sudewo, masyarakat Pati, khususnya para petani, merasakan dampak pembangunan yang nyata.
Dia menilai program normalisasi sungai mampu mengurangi banjir yang selama ini menjadi persoalan di sejumlah wilayah pertanian.
"Semenjak dipimpin Pak Bupati Sudewo, rakyat Pati makmur. Banjir bisa ditanggulangi lewat normalisasi sungai," ujarnya.
• Wali Santri Geruduk Kantor Kemenag Pati, Tuntut Izin Ponpes Ndholo Kusumo Dikembalikan
Menurut Suparjan, hasil panen padi juga meningkat pada masa kepemimpinan Sudewo. Bahkan dia mengklaim produktivitas sawah bisa mencapai sekira 10 ton per hektare.
"Harapan Pak Sudewo satu hektare bisa mencapai 10 ton. Itu terlaksana. Saya sendiri pernah panen sampai 10 ton," katanya.
Namun setelah Sudewo tersandung perkara hukum, Suparjan mengklaim sejumlah pembangunan di Kabupaten Pati tidak lagi berjalan sebagaimana sebelumnya.
"Setelah ditinggal Pak Sudewo, banyak pembangunan mangkrak dan sawah-sawah juga terdampak. Kami berharap beliau bisa segera pulang," tuturnya.
Bagi Suparjan, Sudewo merupakan sosok pemimpin yang identik dengan pembangunan. Karena itu, dia berharap proses hukum yang sedang berlangsung dapat segera memberikan kepastian.
"Pak Sudewo itu Bupati pembangunan. Harapan kami beliau bisa segera pulang kembali ke Pati," ucapnya. (*)