TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Dinas Kesehatan Kota Kediri terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan primer sebagai upaya menekan angka kesakitan dan kematian akibat stroke. Langkah tersebut dilakukan dengan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di seluruh puskesmas agar mampu memberikan penanganan awal secara cepat, tepat, dan terintegrasi.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamidah, Sp.P, mengatakan puskesmas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. Karena itu, tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama harus memiliki kemampuan yang memadai dalam mengenali hingga menangani kasus stroke sejak awal.
"Puskesmas menjadi pintu pertama pelayanan kesehatan masyarakat. Kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali gejala stroke dan memberikan penanganan awal sangat menentukan keberhasilan penanganan pasien," kata dr. Hamidah, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini kasus hipertensi dan stroke masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Stroke juga masih menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan angka kematian yang tinggi sehingga membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan di bidang kesehatan.
Baca juga: Kader NU Kediri Didorong Tempuh Pendidikan Tinggi, Alumni IPNU-IPPNU Siapkan Beasiswa Berkelanjutan
Menurutnya, penanganan stroke tidak hanya berhenti pada tindakan medis saat pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga mencakup deteksi dini, sistem rujukan yang cepat, hingga proses rehabilitasi agar kualitas hidup pasien dapat kembali optimal.
"Penanganan stroke harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini, pertolongan pertama, proses rujukan, sampai pendampingan selama masa pemulihan," terangnya.
Dalam memperkuat kapasitas pelayanan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Kediri juga melibatkan sejumlah dokter spesialis saraf, dokter spesialis gizi klinik, serta Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk memberikan pembaruan ilmu kepada tenaga kesehatan mengenai tata laksana penanganan stroke sesuai perkembangan terbaru.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan gejala awal stroke, penanganan awal pasien, mekanisme rujukan ke rumah sakit, rehabilitasi pasca stroke, hingga pengaturan pola makan bagi penyintas stroke. Aspek gizi dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung proses penyembuhan sekaligus mencegah kekambuhan.
Dalam penanganan kasus, masyarakat juga diimbau memahami langkah yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang mengalami gejala stroke. Pasien yang tiba-tiba tidak sadar akibat jatuh dapat langsung dibawa ke instalasi gawat darurat rumah sakit tanpa harus melalui proses rujukan.
Sementara itu, apabila seseorang masih dalam kondisi sadar namun mengalami gejala seperti kelemahan pada salah satu sisi tubuh, wajah tampak mencong, atau tekanan darah tidak stabil, pemeriksaan awal dapat dilakukan di puskesmas agar segera memperoleh penanganan sesuai kondisi medisnya.
Dr. Hamidah menambahkan, selain meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan, upaya promotif dan preventif juga menjadi fokus utama. Edukasi kepada masyarakat dinilai penting karena sebagian besar kasus stroke berawal dari faktor risiko yang sebenarnya dapat dikendalikan.
"Hipertensi dan diabetes melitus merupakan faktor risiko utama stroke. Karena itu, pencegahan melalui perubahan gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, dan pengendalian penyakit penyerta harus terus diperkuat," jelasnya.
Ia berharap masyarakat semakin memanfaatkan layanan skrining kesehatan dan pemeriksaan faktor risiko yang tersedia di fasilitas kesehatan. Dengan deteksi yang lebih dini, risiko terjadinya stroke dapat ditekan, sehingga angka kesakitan maupun kematian akibat penyakit tersebut di Kota Kediri dapat terus menurun.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)