Potensi Wisata Gunung Kelud, Lewat Larung Sesaji Disparbud Kediri Bidik Kunjungan Wisatawan
Rendy Nicko June 29, 2026 04:45 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Pemerintah Kabupaten Kediri terus mengoptimalkan potensi wisata Gunung Kelud melalui penguatan agenda budaya. Salah satunya dengan menggelar Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud di kawasan Parkiran Atas Wisata Gunung Kelud Pos II Kecamatan Ngancar. 

Selain menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat lereng Gunung Kelud, ritual tersebut kini juga diposisikan sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi mengatakan pengembangan sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam Gunung Kelud, tetapi juga pada kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat setempat.

Hal itu diungkapkan Mustika saat menghadiri prosesi Ritual Larung Sesaji Gunung Kelud, Minggu (28/6/2026). Menurutnya, pelestarian budaya menjadi strategi penting untuk menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari.

Baca juga: Kasus Stroke Meningkat, Dinkes Kota Kediri Perkuat Kapasitas Puskesmas untuk Penanganan Dini

"Tradisi ini bukan hanya harus dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi kekuatan pariwisata Kabupaten Kediri. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman," jelas Mustika.

Dia menjelaskan saat ini Ritual Larung Sesaji telah masuk dalam Kalender Event Tahunan Kabupaten Kediri. Dengan status tersebut, pemerintah daerah dapat melakukan promosi secara lebih luas sehingga wisata budaya di Gunung Kelud semakin dikenal masyarakat dari berbagai daerah.

Menurut Mustika antusiasme pengunjung pada penyelenggaraan tahun ini menunjukkan tren positif. Peningkatan jumlah wisatawan dinilai menjadi bukti bahwa perpaduan antara wisata alam dan wisata budaya mampu memberikan daya tarik tersendiri bagi Kabupaten Kediri.

Ritual Larung Sesaji sendiri merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah, sekaligus doa bersama agar masyarakat di lereng Gunung Kelud senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari berbagai bencana.

Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Suro atau Muharram tersebut juga menjadi simbol kuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus dijaga oleh masyarakat hingga saat ini.

Rangkaian acara diawali dengan penampilan berbagai kesenian tradisional seperti tari daerah, Reog, dan atraksi Bujang Ganong yang menghibur ribuan pengunjung sejak pagi. Beragam pertunjukan itu turut memperkaya pengalaman wisatawan yang datang ke kawasan Gunung Kelud.

Prosesi kemudian memasuki tahap sakral ketika sosok yang memerankan Ratu Kediri Dewi Kilisuci membawa bokor berisi bunga sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kerajaan Kediri. Bokor tersebut diserahkan kepada Camat Ngancar dan diteruskan kepada Penjabat Kepala Desa Sugihwaras sebagai lambang keterkaitan sejarah antara Kediri dan Gunung Kelud.

Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan dan Keterpaduan Rencana Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan PDT, Agus Kuncoro menilai pelestarian budaya lokal memiliki nilai strategis karena mampu menjaga identitas daerah sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.

"Pelestarian budaya penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus mengenalkan sejarah dan nilai luhur kepada generasi muda," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sugihwaras Mariana Dwi Noventi menjelaskan Ritual Larung Sesaji merupakan puncak rangkaian kegiatan budaya yang telah berlangsung sejak 18 Juni 2026. Selama hampir dua pekan, masyarakat bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.

Pada prosesi puncak tahun ini, masyarakat secara swadaya menyiapkan 18 tumpeng nasi dan 15 gunungan hasil bumi. Seluruh hasil bumi tersebut kemudian diperebutkan pengunjung sebagai simbol keberkahan dan rezeki.

Menurut Mariana, seluruh rangkaian berlangsung tertib tanpa menimbulkan kericuhan, sekaligus memperlihatkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap salah satu agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Kediri.

"Kalau wisata Gunung Kelud kembali ramai, otomatis ekonomi warga meningkat lewat berjualan. Masyarakat di sini sangat bergantung pada sektor wisata dan hasil pertanian, terutama buah nanas yang jadi komoditas unggulan," ungkapnya. 

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.