TRIBUNNEWS.COM - Lionel Messi kembali membuktikan bahwa kecerdasan bisa mengalahkan fisik. Meski kini berusia 39 tahun, kapten Timnas Argentina itu justru tampil semakin efisien di Piala Dunia 2026.
Sekilas, Messi terlihat lebih sering berjalan santai dibanding berlari mengejar bola. Namun di balik gaya bermain tersebut, La Pulga tetap menjadi pemain paling mematikan sekaligus pemuncak daftar top skor sementara turnamen.
Konten kreator @analiskampungsebelah, Hamid Anwar, menilai perubahan terbesar Argentina terletak pada pendekatan taktik yang membuat Messi bisa bermain lebih efektif tanpa harus menguras tenaga.
Hal itu disampaikan dalam podcast YouTube Super Taktik Tribunnews bertajuk Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus? di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Minggu (29/6/2026) malam.
"Kalau saya melihat dari pendekatan formasi dan taktikal gameplay, Argentina sekarang lebih dominan mengontrol ritme permainan. Sirkulasi bolanya sabar dan progresinya berbasis superioritas posisi. Itu memberi ruang kepada Messi untuk bergerak lebih bebas," ujar Hamid Anwar.
"Walaupun Messi berjalan kaki, dia sudah berada di pocket area lawan sehingga tinggal menembak atau mengumpan. Argentina 2026 juga tampil lebih tenang dibanding 2022."
"Menurut saya, transformasi terbesar ada pada kepintaran pelatih menempatkan Messi agar tidak perlu terlalu banyak berlari sehingga staminanya tetap terjaga," lanjutnya.
Baca juga: Prediksi Final Piala Dunia 2026: Prancis vs Argentina Jadi Favorit, Ulang Duel Sengit Qatar 2022
Seiring bertambahnya usia, Messi memang tidak lagi mengandalkan dribel panjang atau sprint berulang seperti pada masa kejayaannya.
Sebaliknya, pemain berjuluk La Pulga itu kini lebih banyak berjalan sambil terus mengamati posisi rekan maupun lawan. Kebiasaan tersebut membuat banyak orang mengira ia tidak aktif dalam permainan.
Padahal, di momen itulah Messi sedang melakukan scanning lapangan untuk mencari ruang kosong yang bisa dimanfaatkan.
Strategi tersebut terbukti sangat efektif.
Hingga berakhirnya fase grup Piala Dunia 2026, Messi hanya mencatat rata-rata 1,5 dribel sukses per pertandingan, bahkan tidak masuk dalam 50 besar pemain dengan dribel terbanyak versi Whoscored.
Namun dari jumlah sentuhan yang relatif sedikit, Messi justru menghasilkan rata-rata 6,5 tembakan tepat sasaran per laga, tertinggi di turnamen.
Efektivitas itu membawanya memimpin daftar pencetak gol sementara dengan koleksi enam gol.
Contoh paling nyata terlihat saat Argentina menghadapi Yordania pada laga terakhir fase grup.
Messi baru dimainkan pada sekitar 30 menit terakhir pertandingan. Meski demikian, ia langsung mencetak gol melalui tendangan bebas yang menjadi penutup kemenangan Argentina.
Tak hanya mencetak gol, Messi juga menyumbang dua key passes dan tiga crossing, menjadikannya salah satu pemain paling kreatif meski tampil sebagai pemain pengganti.
Yang menarik, jarak tempuh Messi hanya mencapai 2.517,2 meter, terendah kedua di skuad Argentina pada pertandingan tersebut.
Data FIFA yang dikutip analis Belanda, Bart Frouws, melalui akun X pribadinya @bartf, bahkan menunjukkan Messi hanya berlari sejauh 3,4 meter dengan kecepatan di atas 25 km/jam selama berada di lapangan.
Statistik itu memperlihatkan bahwa efektivitas Messi tidak lagi ditentukan oleh seberapa jauh ia berlari, melainkan kapan dan di mana ia bergerak.
Pendekatan taktik Argentina juga membuat para pemain lain bekerja lebih keras dalam menjaga keseimbangan tim, sehingga Messi bisa fokus mencari ruang dan menentukan momen terbaik untuk memberikan umpan maupun melepaskan tembakan.
Di tengah persaingan dengan para pemain muda seperti Kylian Mbappe dan Erling Haaland, Messi justru masih menjadi pencetak gol paling produktif di Piala Dunia 2026.
Permainannya mungkin terlihat sederhana, bahkan seperti hanya berjalan-jalan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Dengan pengalaman, visi bermain, dan kecerdasan membaca ruang, Messi membuktikan bahwa efisiensi jauh lebih berbahaya daripada sekadar berlari tanpa henti.
Bagi lawan-lawan Argentina di fase gugur, Messi versi "jalan-jalan" justru menjadi ancaman terbesar karena ia mampu memberikan dampak ancaman yang nyata di depan mulut gawang.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)