Kunjungan Wisatawan Anjlok Pascabencana, Penginapan di Takengon Terpuruk hingga Rumahkan Karyawan
Mawaddatul Husna June 29, 2026 04:51 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Sudah tujuh bulan berlalu sejak bencana hidrometeorologi menghantam Dataran Tinggi Gayo pada akhir November tahun lalu.

Namun bagi para pelaku usaha perhotelan dan penginapan di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh pemulihan itu terasa masih jauh dari kenyataan.

Kamar-kamar yang dulu selalu terisi kini dibiarkan kosong.

Karyawan yang dulu sigap melayani tamu kini terpaksa dirumahkan dan kehilangan pekerjaan. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan harapan yang terus dipelihara ditengah ketidakpastian.

Mihada, pengelola Dipo Penginapan yang berdiri tepat di tepi Danau Laut Tawar, kawasan Petambatan Perahu, Lot Kala, Kebayakan, Aceh Tengah masih ingat betul bagaimana situasi berubah drastis begitu bencana datang.

Sebelum bencana, akhir pekan bukan sekadar hari biasa bagi usahanya. Setiap Sabtu, satu hingga dua kamar nyaris selalu terisi.

Saat musim liburan besar tiba, seluruh penginapan di kawasan itu penuh sesak bahkan ada wisatawan yang terpaksa bermalam di menara masjid karena tidak kebagian tempat.

"Perbandingannya sangat jauh sekali antara sebelum dan sesudah bencana," kata Mihada.

Kini, gambaran itu tinggal kenangan. Sejak bencana melanda tepat sebelum pergantian tahun baru, pemasukan Dipo Penginapan praktis lenyap.

"Setelah bencana, bisa dikatakan 100 persen tidak ada kunjungan, tidak ada yang menginap.

Di tahun baru itu kosong, karena memang awal-awal terjadi bencana," kenangnya.

Kondisi itu berlanjut melewati Idulfitri, Iduladha, hingga kini memasuki musim libur sekolah. Kalaupun ada tamu yang datang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

"Kalaupun ada, paling cuma satu atau dua rombongan saja, itupun pengunjung tersesat, mau ke Nagan Raya karena sudah malam akhirnya menginap semalam " ujarnya.

Letak Dipo Penginapan yang berada di ujung kawasan membuat situasinya lebih berat dibanding penginapan lain.

Namun Mihada menyadari bahwa masalah sesungguhnya bukan soal lokasi melainkan soal akses.

Dari obrolan langsung dengan segelintir wisatawan yang nekat berkunjung, Mihada memahami kekhawatiran yang selama ini menahan orang untuk datang.

"Mereka cerita, awalnya ragu-ragu mau lewat. Cuma karena tekadnya sudah bulat ingin berlibur ke Takengon, akhirnya dipaksakan juga," tuturnya.

Jembatan Rusak dan Jalan Nyaris Putus

Kerusakan jalan pada dua jalur utama menuju Takengon jalur KKA dan jalur Bireuen–Takengon menjadi tembok tak kasat mata yang menghalangi arus wisatawan.

Jembatan rusak dan jalan yang nyaris putus membuat banyak calon pengunjung memilih mengurungkan niat.

Keluhan serupa datang dari Bie Homestay di kawasan Kala Lengkio, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.

Pengelolanya, Larka, mengungkapkan bahwa tingkat keterisian kamar anjlok tajam bahkan di momen-momen yang biasanya paling ramai.

"Kalau untuk momen tahun baru kemarin, boleh dibilang memang tidak ada sama sekali. Di momen lebaran pun jumlahnya turun drastis, tidak seperti biasanya," ujarnya.

Memasuki musim libur sekolah yang seharusnya menjadi peluang, kondisi tak banyak berubah.

"Hanya ada satu atau dua kamar saja yang terisi dari total unit kamar yang kami sediakan," tambahnya.

Faktor cuaca yang belakangan kerap hujan turut memperparah keadaan. Calon wisatawan pun kian berpikir dua kali sebelum memutuskan datang.

Rumahkan Karyawan

Ditengah tekanan yang bertubi-tubi, para pengelola penginapan mencoba bertahan dengan cara yang mereka bisa.

Akibat tekanan tersebut, Manajemen Bie Homestay telah mengambil langkah dengan merumahkan sebagian karyawan demi menekan biaya operasional yang terus berjalan tanpa pemasukan yang sepadan.

Sementara itu, Dipo Penginapan mengandalkan daya tarik lokasi di tepi danau, sesekali diiringi promosi mandiri lewat media sosial.

"Cuma itu saja usaha yang bisa dilakukan," ujar Mihada pasrah.

Di penghujung obrolan, baik Mihada maupun Larka menyuarakan harapan yang sama, pemerintah segera turun tangan memperbaiki infrastruktur yang rusak.

"Jalur lintas KKA maupun jalur Bireuen–Takengon itu urat nadinya. Kalau aksesnya bagus, mudah-mudahan pengunjung akan kembali lagi.

Walaupun tidak langsung pulih 100 persen, minimal ada peningkatan dari kondisi yang terpuruk sekarang ini," pungkas Mihada.

Tujuh bulan bukan waktu yang sebentar. Dan bagi para pelaku usaha di Dataran Tinggi Gayo, setiap hari yang berlalu tanpa perbaikan adalah satu hari lagi kehilangan yang tak tergantikan. (*)

Baca juga: Jeritan Pelaku Usaha Wisata di Aceh Tengah, Jalan Rusak Bikin Pendapatan Nol Besar

Baca juga: Temas River Park jadi Pilihan Wisata Keluarga pada Akhir Pekan Setelah Iduladha

Baca juga: Masuki Akhir Pekan, Ini Dua Destinasi Wisata Cocok Dikunjungi di Aceh Tengah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.