TRIBUNJOGJA.COM- Ada satu julukan yang selalu melekat pada Yogyakarta, yaitu Kota Pelajar.
Julukan tersebut bukan hanya sekedar slogan atau identitas yang dibuat untuk menarik wisatawan.
Di balik julukan itu, terdapat perjalanan sejarah panjang yang menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan paling berpengaruh di Indoneisa.
Hingga saat ini, ribuan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah datang ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan.
Mereka datang dengan membawa harapan untuk menimba ilmu di kota yang memiliki beragam pilihan lembaga pendidikan.
Maka, tidak heran jika kehidupan di Yogyakarta sangat lekat dengan aktivitas mahasiswa.
Kawasan kos, toko buku, perpustakaan, bahkan ruang-ruang diskusi tumbuh berdamppingan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Julukan kota pelajar tidak lahir secara tiba-tiba.
Sejarah mencatat bahwa Yogyakarta telah sejak lama memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.
Citra tersebut mulai terbentuk seiring berkembangnya pendidikan modern di Yogyakarta pada masa kolonial hingga setelah Indonesia merdeka.
Peran Yogyakarta semakin besar setelah Indonesia merdeka.
Pada tahun 1946, pemerintah Republik Indonesia memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Yogyakarta akibat situasi perang.
Saat itu, Yogyakarta tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya berbagai aktivitas pendidikan, kebudayaan, juga intelektual yang mendukung pembangunan bangsa.
Situasi tersebut kemudian membuat Yogyakarya menjadi tempat berkumpulnya banyak tokoh nasional, akademisi, hingga pelajar dari berbagai daerah.
Hal tersebut semakin memperkuat reputasi Yogyakarta sebagai salah satu pusat lahirnya sumber daya manusia yang berperan dalam pembangunan Indonesia.
Perjalanan Yogyakarta sebagai kota pelajar semakin kuat ketika Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi berdiri pada 19 Desember 1949.
Kampus ini merupakan universitas negeri pertama yang didirikan oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan.
Pada masa awal berdirinya, kegiatan perkuliahan bahkan memanfaatkan beberapa bangunan milik kesultanan Yogyakarta sebagai ruang belajar.
Keberadaan UGM menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Kampus ini menjadi pusat lahirnya banyak pemikir, ilmuwan, hingga tokoh masyarakat.
Seiring berkembangnya UGM, berbagai perguruan tinggi lain pun mulai bermunculan di Yogyakarta.
Mulai dari perguruan tinggi negeri hingga swasta dengan berbagai bidang keilmuannya.
Mulai dari pendidikan, teknik, kesehatan, seni, hingga keagamaan. Keberagaman tersebut membuat calon mahasiswa memiliki banyak pilihan untuk melanjutkan pendidikan sesuai minat dan cita-citanya dalam satu kota.
Kondisi tersebut semakin memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota yang identik dengan dunia pendidikan.
Namun, bukan hanya karena jumlah kampus yang banyak, julukan kota pelajar bagi Yogyakarta tersebut juga didukung oleh lingkungan sosial yang tumbuh bersama aktivitas belajar dan kehidupan mahasiswa.
Artinya, yang membuat Yogyakarta berbeda bukan hanya jumlah kampusnya, melainkan suasana kotanya yang memang berkembang mengikuti kebutuhan pelajar.
Mulai dari keberadaan perpustakaan, toko buku, rumah kos, pusat fotokopi, ruang diskusi, hingga berbagai komunitas literasi yang mudah ditemukan.
Tidak sedikit mahasiswa merasa kota ini memberikan banyak ruang untuk berkembang, baik di dalam maupun di luar kampus.
Baca juga: Berprestasi Sejak SMA, Fathan Berhasil Lolos Akuntansi UGM dan Dapat Subsidi UKT 100 Persen
Setiap tahun ajaran baru, Yogyakarta selalu kedatangan ribuan mahasiswa baru dari berbagai provinsi.
Mereka datang dengan latar belakang budaya yang berbeda, tetapi hidup berdampingan.
Berbagai organisasi mahasiswa daerah, komunitas seni, forum diskusi, sampai kegiatan sosial tumbuh subur berkat keberagaman para pelajarnya.
Kehadiran mahasiswa turut membentuk wajah Yogyakarta hingga seperti sekarang.
Misalnya kawasan seperti Gejayan, Jalan Kaliurang, Seturan, Babarsari, hingga sekitar kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berkembang menjadi pusat aktivitas mahasiswa.
Di kawasan-kawasan tersebut mudah sekali ditemukan rumah kos, warung makan dengan harga terjangkau, bahkan kafe untuk belajar.
Bahkan, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut bergerak karena keberadaan mahasiswa.
Banyak usaha kecil, jas percetakan, toko alat tulis, hingga usaha kuliner yang tumbuh karena tingginya kebutuhan para belajar.
Dengan begitu, mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi Yogyakarta.
Bahkan, banyak pelaku usaha mengaku bahwa mahasiswa menjadi pelanggan utama.
Ketika masa libur panjang tiba, beberapa usaha di sekitar kawasan kampus mengalami penurunan omzet karena sebagian mahasiswa pulang ke daerah asal.
Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran pelajar turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Mahasiswa juga berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penelitian, program kuliah kerja nyata (KKN), pelatihan UMKM, hingga kegiatan literasi di desa-desa menjadi bentuk nyata adanya keterlibatan mereka dalam pembangunan daerah.
Bagi mahasiswa perantau, Yogyakarta menjadi tempat pertama untuk belajar mandiri.
Mereka belajar mengatur keuangan, membangun relasi dengan teman dari berbagai daerah, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru.
Keberagaman mahasiswa dari berbagai latar belakang juga menciptakan ruang pertemuan antar budaya.
Di satu kelas misalnya, dapat ditemukan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah.
Dengan adanya perbedaan bahasa, adat, dan kebiasaan justru menjadi kesempatan untuk saling belajar menghargai keberagaman.
Meskipun identitasnya sebagai kota pelajar masih melekat kuat, bukan berarti kota ini tidak menghadapi tantangan.
Banyaknya persaingan antar perguruan tinggi di berbagai daerah kini semakin meningkat.
Banyak kota lain yang mulai berkembang sebagai pusat pendidikan dengan fasilitas yang tidak kalah lengkap pula.
Di sisi lain, berbagai permasalahan perkotaan seperti kemacetan, meningkatnya biaya tempat tinggal, isu keamanan, hingga berbagai isu megenai pergaulan bebasnya juga perlu diperhatikan.
Namun demikian, kekuatan utama Yogyakarta bukan hanya terletak pada jumlah kampusnya saja melainkan pada ekosistem pendidikan yang telah terbentuk selama puluhan tahun.
Setiap tahun, ribuan mahasiswa baru tetap datang untuk menempuh pendidikan, kampus-kampus terus berkembang, bahkan kegiatan sosial pun masih berlangsung aktif dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, julukan kota pelajar merupakan identitas yang terbentuk dari sejarah panjang pendidikan sekaligus terus dipertahankan melalui kehidupan akademiknya serta budaya belajar yang masih terus berlangsung hingga kini.
Julukan tersebut hidup melalui orang-orang yang belajar, mengajar, berdiskusi, berkarya, dan bersama-sama membangun budaya intelektual di Yogyakarta.
(MG-Mayumi Cinta Mahesi)