SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan delapan situs militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai aksi balasan atas serangan AS terhadap fasilitas Iran, Minggu (28/6/2026).
Menurut laporan media pemerintah Iran, IRIB, serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
IRGC menyebut operasi itu sebagai respons langsung atas serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran di Sirik dan Pulau Qeshm.
Di tengah meningkatnya konflik, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyerukan pembentukan kerangka keamanan regional yang melibatkan negara-negara Teluk tanpa campur tangan kekuatan militer dari luar kawasan.
Dalam pertemuan dengan Penasihat Keamanan Nasional Irak, Qasim al-Aboudi, Araghchi mengatakan negara-negara Teluk perlu mengambil pelajaran dari perkembangan beberapa bulan terakhir dan bersama-sama membangun arsitektur keamanan kawasan.
Baca juga: AS Bombardir Sistem Radar Iran, Teheran Balas Hujani Pangkalan Militer AS dengan Rudal dan Drone
Ia menegaskan bahwa kerja sama keamanan tersebut juga harus mencakup aspek ekonomi serta tidak melibatkan kekuatan militer asing.
Araghchi juga memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali penuh Iran selama 30 hari ke depan. Menurutnya, setiap serangan baru dari Amerika Serikat hanya akan memperburuk situasi yang sudah sangat tegang.
Meski demikian, di tengah memanasnya situasi, Iran dan Amerika Serikat dilaporkan sepakat melanjutkan pembicaraan teknis di Qatar pada pekan ini. Berdasarkan laporan Axios, perundingan tersebut bertujuan mencari jalan menuju penghentian perang secara permanen.
Laporan dari Teheran menyebutkan masyarakat Iran semakin kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat. Banyak warga menilai Washington telah melakukan tindakan agresi terhadap Iran dan menganggap negaranya hanya berupaya mempertahankan diri.
Pandangan tersebut membuat sebagian besar masyarakat Iran meyakini konflik dapat kembali pecah sewaktu-waktu, meski upaya diplomasi masih berlangsung.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengecam serangan Iran ke Bahrain dan Kuwait. Dalam pernyataannya di media sosial X, Tajani menyampaikan solidaritas penuh kepada kedua negara dan mengingatkan agar semua pihak menahan diri.
Ia menilai eskalasi lanjutan berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomasi yang telah dibangun dengan susah payah.
Italia juga kembali menegaskan komitmennya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta mendukung terciptanya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) turut mengutuk keras serangan yang diklaim dilakukan Iran.
Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Al-Budaiwi, menyatakan serangan tersebut merupakan ancaman langsung terhadap keamanan dan stabilitas Bahrain maupun Kuwait, serta melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
GCC juga menegaskan dukungannya terhadap langkah-langkah yang diambil Bahrain dan Kuwait untuk menjaga keamanan, mempertahankan kedaulatan, serta melindungi integritas wilayah masing-masing.(*)