TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melepas deretan pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta yang memasuki masa purna tugas, Senin (29/6/26).
Terdapat tiga pejabat tinggi pratama yang memasuki masa pensiun, yakni Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Yunianto Dwi Sutono, Kepala Dinas Kesehatan Emma Rahmi Aryani, serta Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Maryustion Tonang.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Hasto Wardoyo, memberikan pesan bagi para aparatur sipil negara (ASN) yang kini resmi melepas seragam kedinasannya.
Menurutnya, masa pensiun adalah fase di mana seseorang mulai hidup sepenuhnya di bawah kendali atau dominasi diri sendiri, setelah puluhan tahun diikat oleh aturan birokrasi.
Orang bebas itu kan punya risiko. Risikonya mengikuti keinginan sendiri. Hati-hati, kalau sudah hidup di atas dominasi diri sendiri itu bisa terjerumus. Meskipun sudah sepuh, tetap harus diberi pesan, jangan sampai bebas itu terus jadi liar," ujarnya.
Di samping wejangan spiritual, Hasto juga menyelipkan pesan sosial ekonomi yang relevan dengan fenomena masa kini, terkait keberadaan generasi sandwich.
Mantan Kepala BKKBN RI tersebut mengimbau para pensiunan untuk tetap menjaga produktivitas supaya tidak menjadi beban finansial maupun psikologis bagi anak-cucu mereka kelak.
"Hari ini kan kita kasihan pada generasi sandwich, yang bebannya cukup berat karena banyak lansia yang harus ditanggungnya. Maka janganlah membebani generasi sandwich. Harus tetap produktif," tegasnya.
Pesan orang nomor satu di Kota Yogyakarta tersebut, disambut positif oleh salah satu pejabat purna tugas, Maryustion Tonang, yang mengemban jabatan terakhir sebagai Kepala Dinsosnakertrans.
Lantaran akrab dengan isu-isu sosial dan kelansiaan sepanjang karirnya, ia pun sepakat bahwa memasuki usia kepala enam bukan berarti berhenti beraktivitas.
"Walaupun sudah lansia, harus melakukan aktivitas-aktivitas, kegiatan-kegiatan, sebagai bagian dari kita makhluk hidup. Baik itu aktivitas sosial, keagamaan, atau aktivitas-aktivitas lain. Intinya, kita sebagai lansia tidak boleh diam begitu saja," pungkasnya. (aka)