TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Jagat media sosial tengah diramaikan oleh unggahan yang menyuarakan rencana pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Merapi secara mandiri.
Unggahan dari akun Instagram @laharbara ini mengklaim bahwa warga setempat, di sekitar Selo, Jawa Tengah, telah mencapai kesepakatan untuk membuka jalur pendakian setelah delapan tahun ditutup, dengan tujuan membangkitkan kembali roda ekonomi warga di sekitar kawasan.
"Pada akhirnya, warga mencapai kata sepakat. Setelah 8 tahun menunggu tanpa kepastian, kini warga bersatu untuk membuka kembali jalur pendakian secara mandiri, dengan berbagai ketentuan dan batasan yang telah disepakati bersama.
Semoga langkah ini menjadi awal yang baik bagi kebangkitan ekonomi warga setelah sewindu penutupan jalur pendakian.
Informasi selengkapnya akan segera kami sampaikan. Bismillah.
Karena pada akhirnya, kita tidak akan pernah memenangkan sesuatu yang tidak pernah kita perjuangkan," demikian tulis narasi di unggahan tersebut, dilihat Senin (29/6/2026).
Menanggapi viralnya konten tersebut, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), T Heri Wibowo memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa kegiatan pendakian Gunung Merapi hingga saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Keputusan ini didasarkan pada adanya peningkatan aktivitas dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada) sesuai hasil evaluasi data teknis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Sejak Mei 2018, status aktivitas Gunung Merapi terus mengalami peningkatan, hingga saat ini berada pada Level III (Siaga).
Bahkan berdasarkan laporan terkini dari BPPTKG yang dikeluarkan 26 Juni 2026 menyimpulkan, aktivitas erupsi efusif Gunung Merapi masih cukup tinggi. Statusnya masih dalam tingkat siaga.
"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," ujar Heri.
Baca juga: Perbedaan Status Level III dan Level IV Gunung Merapi yang Perlu Diketahui
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya dan tenggara meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km dari puncak, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Menurutnya, jalur pendakian via New Selo sampai puncak Gunung Merapi meliputi Pintu Gerbang yang berjarak 2,3 Km; Pos I (1,64 Km) ; Pos II (1,25 Km) dan Pasar Bubrah hanya (0,7 Km) sehingga sangat membahayakan keselamatan.
Saat ini terdapat beberapa jalur wisata (soft trekking) di Taman Nasional Gunung Merapi seperti di OWA Kalitalang berada pada radius 3,3 Km dari Pos IV atau pos terakhir.
"Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," ujar Heri.(*)